URGENSI RIZKI YANG HALAL BAGI SEORANG MUSLIM


Ilustrasi
Seri Kajian Hadits Kedudukan Rizki Yang Halal Menurut Konsep Islam
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : (( إِنَّ اللهَ تَعَالىَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّـبًا وَ إِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ  فَقَالَ تَعَالىَ : ) يَآ أَ يُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّـيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًا ( ، وَقَالَ : ) يَآ أَ يُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَـيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ( . ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ  أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلىَ السَّمَاءِ  يَا رَبُّ يَا رَبُّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ  وَمَلْـبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ  بِالْحَرَامِ فَأَنىَّ يُسْـتَجَابُ لَـهُ ))  رَوَاهُ مُسْلِمٌ 
Dari Abu Hurairah Ra telah berkata : Bersabda Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam  : “Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sesuai dengan apa yang diperintahkan kepada Rasul-Rasul, maka Allah telah berfirman : “Hai Rasul-Rasul, makanlah kamu dari semua yang baik-baik dan beramallah kamu dengan amalan yang shalih”(QS. 23:51). Dan telah berfirman : “Hai orang-orang beriman, makanlah kamu dari apa-apa yang baik yang telah Kami rezkikan kepadamu”(QS. 2 : 172).
Kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang telah jauh perjalanannya, dia berambut kusut penuh dengan debu, dia menadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata : Wahai Tuhan, Wahai Tuhan, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan barang yang haram, maka bagaimana ia akan diterima permintaannya ?”. Diriwayatkan Imam Muslim.

KEUTAMAAN HADITS

Hadits ini merupakan hadits yang penting karena memuat beberapa kaidah dalam Islam dan beberapa kaidah dalam hukum. Diantaranya menjelaskan tentang syarat diterimanya amalan seorang hamba dan pentingnya membersihkan semua amalan kita dari noda yang bisa merusaknya sehingga tidak diterima di sisi Allah.
Hadits ini juga menjelaskan tentang pentingnya memperhatikan masalah makanan, minuman dan pakaian dari yang halal dan baik, dan menjauhkannya dari yang haram dan buruk karena itu merupakan salah satu sebab dari tidak diterimanya do’a seseorang. Di samping itu juga menjelaskan tentang salah suatu ibadah yang paling tinggi nilainya di sisi Allah  yaitu do’a, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam  :
 “Do’a itu adalah ibadah”.(HR.. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari An Nu’man bin Basyir t)
Artinya ibadah yang paling utama adalah do'a. Hadits ini juga menjelaskan beberapa adab dalam berdo'a sekaligus menjelaskan kepada kita tentang beberapa hal yang dapat menyebabkan ditolaknya do’a. Karena itu hadits ini perlu kita pelajari dan kita pahami untuk diterimanya amalan-amalan kita.

PENJELASAN HADITS  

@ “Sesungguhnya Allah itu Thoyyib (Baik). Kata Thoyyib dalam dalam Al-Qur'an mempunyai beberapa makna, diantaranya :
  • Sesuatu yang lezat, yang kita sukai atau senangi, sebagaimana firman Allah  :
 “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat ...”.(An Nisaa : 3)
Kata (ma thooba) berarti sesuatu yang disukai atau disenangi.
  • Sesuatu yang halal,  sebagaimana firman Allah Ta’ala :
 “Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan".(Al Maidah : 100)
Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa : "Katakanlah tidak sama antara yang Al-Khabits (haram) dan yang thoyyib (halal)." Sesuatu yang halal dapat berupa hal yang disukai dan boleh jadi merupakan sesuatu hal yang tidak kita senangi, berbeda dengan makna pertama sehingga disebutkan oleh Allah Ta’ala : "Bahkan kadang yang haram itu lebih mernarik bagimu".
  • Sesuatu yang suci dan bersih dari segala macam kekurangan dan segala aib, sebagaimana firman Allah Ta’ala :
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)”.(An Nuur : 26)
Maksud dari “ At-Thoyyib” disini adalah yang bersih dan suci dari aib yakni segala macam bentuk kemaksiatan, dengan kata lain bukan ahli/pelaku maksiat baik dari laki-laki maupun perempuan.

@ Allah tidak menerima kecuali yang thoyyib. Sebagian ulama mengatakan bahwa makna thoyyib di sini khusus pada masalah sedekah/infaq, yaitu bahwa Allah Ta’ala tidak menerima sedekah yang buruk yakni sedekah dari harta yang haram, kecuali infaq yang datang dari harta yang halal dengan cara yang halal.
Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa ini maknanya umum, yaitu apa saja amalan atau perkatan, itu barulah diterima oleh Allah  ketika perkatan atau amalan tersebut baik, dan baik di sini maknanya halal. Karena Allah  sudah menjelaskan bahwa amalan-amalan itu tidak diterima kalau dicampuri dengan kesyirikan, riya', ujub, kesombongan dan lainnya, yang mana itu merupakan suatu noda dari sebuah amalan.
 Jadi makna thoyyib di sini adalah secara umum, bukan hanya khusus pada masalah sedekah saja, bahkan dalam seluruh amalan  maka Allah  tidak akan menerimanya kecuali dia merupakan amalan-amalan yang bersih dari segala macam hal yang bisa merusak/mengotorinya.
      @ (tidak diterima) disini apakah berarti amalan tersebut tidak sah ?. Kalau diperhatikan dalil-dalil dari hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam yang menyatakan tidak diterima, maka tidak semuanya bermakna bahwa amalan tersebut batal dan tidak mencukupi dari kewajiban. Karena itu perkataan “ لا يقبل ” mempunyai beberapa makna :
a. Tidak diberikan pahala tapi sudah hilang kewajibannya, seperti yang disebutkan dalam sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam  :
 “Barangsiapa mendatangi tukang ramal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara maka tidak diterima sholatnya selama 40 malam” (HR. Muslim)
Makna tidak diterima di sini adalah tidak mendapatkan pahala, namun kewajiban shalatnya sudah terpenuhi. Dan meskipun ia tidak mendapatkan pahala dari shalatnya tersebut, tetapi ia tetap harus mengerjakan sholat untuk menggugurkan kewajibannya.
b. Tidak berhak mendapat pujian atau tidak berhak mendapat do'a dari malaikat  dan tidak dibanggakan oleh Allah I di hadapan malaikat-Nya.
Karena seseorang yang melakukan kebaikan berhak mendapat pujian dari Allah I dan do’a dari malaikat, namun kadang ada orang yang beramal namun Allah I tidak menerima amalannya dalam artian Allah I tidak memberikan pujian kepadanya dan malaikatpun tidak mendo’akannya.
  1. Tidak sah amalannya, seakan-akan dia belum beramal dan masih ada padanya kewajiban untuk melaksanakan amalan tersebut.
Artinya dia tetap berdosa karena belum melaksakan kewajiban. Dan hal ini disepakati oleh ulama dalam masalah sedekah dari harta yang haram.
@ Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sesuai dengan apa yang diperintahkan kepada Rasul-Rasul”.
Ini menunjukkan bahwa hukum asal apa-apa yang diperintahkan/disyariatkan kepada Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam, maka itu juga disyariatkan kepada kita, dan demikian pula apa-apa yang disyariatkan kepada istri-istri nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam  maka hal itu juga disyariatkan kepada kaum wanita secara kesuluruhan,  selama tidak ada dalil yang menjelaskan bahwa itu adalah kekhususan bagi Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam. Hukum asal itu berlaku untuk semua mu’min karena Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam didatangkan untuk menjadi uswah bagi manusia, sehingga seluruh perbuatannya dan perkataannya adalah berlaku juga kepada seluruh kaum mu’minin kecuali ada dalil yang menunjukkan bahwa itu merupakan kekhususan,

       @ Maka Allah telah berfirman : “Hai Rasul-Rasul, makanlah kamu dari semua yang baik-baik dan beramallah kamu dengan amalan yang shalih”(QS. 23:51)
Maksud dari diperintahkannya untuk memakan dari yang thayyib (baik) karena Allah tidak menerima kecuali yang baik. Artinya orang yang makan dari barang yang haram maka tidak diterima amalan-amalannya di sisi Allah
Dalam hadits ini Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam berkata bahwa : “Sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang mukmin sebagaimana memerintahkan  kepada  rasul-rasul”. Lalu dalam QS. 23 : 51, Allah Ta’ala memerintahkan kepada rasul-rasul untuk makan dari yang baik-baik dan beramal yang sholih. Kemudian dalam QS. 2 : 172, Allah Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk makan dari yang baik-baik yang telah direzkikan kepada mereka dan bersyukur kepada Allah. Di sini terdapat tafsiran ayat dengan ayat, yakni makna bersyukur ditafsirkan dengan amal sholih. Jadi hakikat syukur yang sesungguhnya adalah dengan mengerjakan amalan sholeh dan bukan hanya sekedar di lisan atau di hati saja. Dan amalan sholeh inilah bentuk kesyukuran yang setinggi-tingginya kepada Allah Ta’ala,
Di sini menunjukkan pentingnya memperhatikan masalah makanan yang halal. Dan Allah  telah memerintahkan kepada rasul-rasul-Nya untuk memakan makanan yang halal  sebagaimana Allah memerintahkan kepada kaum mukminin untuk makan makanan yang halal, karena hal tersebut dapat mempengaruhi diterimanya amalan seseorang.
Seorang ulama salaf, Abu Abdillah An-Nibaaji Rahimahullah  mengatakan bahwa ada 5 hal yang perlu diperhatikan untuk sempurnanya amalan seseorang diterima di sisi Allah Ta’ala, yaitu :
a. Mengenal Allah Ta’ala
b. Mengenali kebenaran
c. Mengikhlaskan amalan untuk Allah Ta’ala
d. Beramal di atas (mengikuti) sunnah
e. Makan yang halal
Jadi meskipun seseorang itu mengenal Allah Ta’ala, mengenal kebenaran, ikhlas dalam amalannya dan amalannya sesuai dengan sunnah, namun jika dia memakan dari makanan yang haram maka tidak diterima amalannya. Seperti orang yang ikhlas dalam shalatnya dan cara shalatnya mengikuti sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam, namun jika makanannya dari yang haram maka tidak diterima shalatnya di sisi Allah, apakah itu maknanya tidak sah ataukah paling minimal tidak mendapat pahala di sisi Allah. Karena itulah jangan sampai kita hanya memperhatikan kaifiyat/tata cara suatu amalan saja tetapi hendaknya kita juga memperhatikan sumber makanan kita, karena makanan yang halal sangat mempengaruhi diterimanya amalan seseorang dan Allah  Thoyyib dan tidak menerima kecuali yang thayyib (baik).
Masalah makanan ini juga mempengaruhi diterima-tidaknya do’a seseorang di sisi Allah, dan inilah yang akan dijelaskan selanjutnya dalam hadits ini di mana ada seseorang yang berdo’a kepada Allah Ta’ala dan dia telah melaksanakan adab-adab berdo’a, namun tidak memenuhi kriteria makanan yang halal sehingga amalannya ditolak di sisi Allah Ta’ala.
      @Kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang telah jauh perjalanannya, dia berambut kusut penuh dengan debu, dia menadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata : Wahai Tuhan, Wahai Tuhan”.
Jadi salah satu sebab yang bisa menyebabkan diterimanya do’a seseorang adalah dengan amalan shalih, artinya dengan kedekatannya kepada Allah. Sebaliknya kalau seseorang yang hanya kadang-kadang berdo’a atau hanya ketika ia butuh kepada Allah  lalu berdo’a, maka suatu saat tidak akan diperhatikan lagi do’anya, karena orang yang seperti ini ketika mereka berdo’a maka para malaikat akan mengatakan : “Ini suara yang tidak dikenal”. Adapun seorang yang sering berdo’a dan beribadah kepada Allah, maka ketika mereka berdo’a para  malaikat akan mengatakan : “Ini adalah suara yang dikenal sebelumnya”, sehingga permintaanya langsung diberikan. Sama halnya dengan orang yang sering bertemu dengan kita (yang kita kenal), suatu saat ketika ia meminta tolong kepada kita maka begitu mudahnya kita memberikan pertolongan kepadanya, tetapi kalau ada orang yang tidak kita kenal apalagi kalau dia musuh kita, lalu dia butuh kepada kita maka sangat sulit/berat untuk kita memenuhi permintaannya.
Jadi salah satu yang bisa menyebabkan ditolaknya sebuah do’a adalah ketika do’a itu datang dari seorang yang tidak beribadah kepada Allah  dan dia bergelimang dengan kemaksiatan, atau orang yang tidak memperhatikan masalah makanan dan minumannya, dan dia makan dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah Ta’ala.

Takhrij Hadits
Hadits ini adalah hadits yang shohih yang diriwayatkan oleh beberapa Imam hadits :
  • Imam Muslim dalam Shohihnya,
  • Imam At Tirmidzi dalam Sunannya,
  • Imam Ahmad dalam Musnadnya,
  • Imam Ad Darimi dalam Sunannya.

Tazkiyah

Sudah barang tentu engkau akan menghadapi cobaan di dalam kehidupan dunia ini. Boleh jadi cobaan itu menimpa langsung pada dirimu atau suamimu atau anakmu ataupun anggota keluarga yang lain. Tetapi justru disitulah akan tampak kadar imanmu. Allah menurunkan cobaan kepadamu, agar Dia bisa menguji imanmu, apakah engkau akan sabar ataukah engkau akan marah-marah, dan adakah engkau ridha terhadap takdir Allah ?
Wasiat yang ada dihadapanmu ini disampaikan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala menasihati Ummu Al-Ala' Radhiyallahu anha, seraya menjelaskan kepadanya bahwa orang mukmin itu diuji Rabb-nya agar Dia bisa menghapus kesalahan dan dosa-dosanya.

Selagi engkau memperhatikan kandungan Kitab Allah, tentu engkau akan mendapatkan bahwa yang bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat dan mengambil nasihat darinya adalah orang-orang yang sabar, sebagaimana firman Allah.

"Artinya : Dan, di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung. Jikalau Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bagi setiap orang yang bersabar dan banyak bersyukur". (Asy-Syura : 32-33)
Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memuji orang-orang yang sabar dan menyanjung mereka. Firman-Nya.
"Artinya : Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa". (Al-Baqarah : 177)
Engkau juga akan tahu bahwa orang yang sabar adalah orang-orang yang dicintai Allah, sebagaimana firman-Nya.
"Artinya : Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar". (Ali Imran : 146)
Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan balasan yang lebih baik daripada amalnya dan melipatgandakannya tanpa terhitung. Firman-Nya.
"Artinya : Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan". (An-Nahl : 96)
"Artinya : Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas". (Az-Zumar : 10)

Bahkan engkau akan mengetahui bahwa keberuntungan pada hari kiamat dan keselamatan dari neraka akan mejadi milik orang-orang yang sabar. Firman Allah.
"Artinya : Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan): 'Salamun 'alaikum bima shabartum'. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu". (Ar-Ra'd : 23-24)
Benar. Semua ini merupakan balasan bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi cobaan. Lalu kenapa tidak? Sedangkan orang mukmin selalu dalam keadaan yang baik ?
Dari Shuhaib radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Dan, bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu kebaikan baginya". (Ditakhrij Muslim, 8/125 dalam Az-Zuhud)
Engkau harus tahu bahwa Allah mengujimu menurut bobot iman yang engkau miliki. Apabila bobot imanmu berat, Allah akan memberikan cobaan yang lebih keras. Apabila ada kelemahan dalam agamamu, maka cobaan yang diberikan kepadamu juga lebih ringan. Perhatikanlah riwayat ini.
"Artinya : Dari Sa'id bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, dia berkata. 'Aku pernah bertanya : Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling keras cobaannya ? Beliau menjawab: Para nabi, kemudian orang pilihan dan orang pilihan lagi. Maka seseorang akan diuji menurut agamanya. Apabila agamanya merupakan (agama) yang kuat, maka cobaannya juga berat. Dan, apabila di dalam agamanya ada kelemahan, maka dia akan diuji menurut agamanya. Tidaklah cobaan menyusahkan seorang hamba sehingga ia meninggalkannya berjalan di atas bumi dan tidak ada satu kesalahan pun pada dirinya". (Isnadnya shahih, ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor 1509, Ibnu Majah, hadits nomor 4023, Ad-Darimy 2/320, Ahmad 1/172)
"Artinya : Dari Abu Sa'id Al-Khudry Radhiyallahu anhu, dia berkata. 'Aku memasuki tempat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliau sedang demam. Lalu kuletakkan tanganku di badan beliau. Maka aku merasakan panas ditanganku di atas selimut. Lalu aku berkata. 'Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit ini pada dirimu'. Beliau berkata: 'Begitulah kami (para nabi). Cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami'. Aku bertanya. 'Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya ? Beliau menjawab: 'Para nabi. Aku bertanya. 'Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi? Beliau menjawab: 'Kemudian orang-orang shalih. Apabila salah seorang di antara mereka diuji dengan kemiskinan, sampai-sampai salah seorang diantara mereka tidak mendapatkan kecuali (tambalan) mantel yang dia himpun. Dan, apabila salah seorang diantara mereka sungguh merasa senang karena cobaan, sebagaimana salah seorang diantara kamu yang senang karena kemewahan". (Ditakhrij Ibnu Majah, hadits nomor 4024, Al-Hakim 4/307, di shahihkan Adz-Dzahaby)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata. "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata :
"Artinya : Cobaan tetap akan menimpa atas diri orang mukmin dan mukminah, anak dan juga hartanya, sehingga dia bersua Allah dan pada dirinya tidak ada lagi satu kesalahanpun". (Isnadnya Hasan, ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor 2510. Dia menyatakan, ini hadits hasan shahih, Ahmad 2/287, Al-Hakim 1/346, dishahihkan Adz-Dzahaby)
Selagi engkau bertanya : "Mengapa orang mukmin tidak menjadi terbebas karena keutamaannya di sisi Rabb?".
Dapat kami jawab : "Sebab Rabb kita hendak membersihkan orang Mukmin dari segala maksiat dan dosa-dosanya. Kebaikan-kebaikannya tidak akan tercipta kecuali dengan cara ini. Maka Dia mengujinya sehingga dapat membersihkannya. Inilah yang diterangkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap Ummul 'Ala dan Abdullah bin Mas'ud. Abdullah bin Mas'ud pernah berkata. "Aku memasuki tempat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan beliau sedang demam, lalu aku berkata. 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sungguh menderita demam yang sangat keras'.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata. "Benar. Sesungguhnya aku demam layaknya dua orang diantara kamu yang sedang demam".

Abdullah bin Mas'ud berkata. "Dengan begitu berarti ada dua pahala bagi engkau ?"

Beliau menjawab. "Benar". Kemudian beliau berkata. "Tidaklah seorang muslim menderita sakit karena suatu penyakit dan juga lainnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan penyakit itu, sebagaimana pohon yang menggugurkan daun-daunnya". (Ditakhrij Al-Bukhari, 7/149. Muslim 16/127)

Dari Abi Sa'id Al-Khudry dan Abu Hurairah Radhiyallahu anhuma, keduanya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata.

"Artinya : Tidaklah seorang Mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih hingga kekhawatiran yang mengusiknya, melainkan Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya". (Ditakhrij Al-Bukhari 7/148-149, Muslim 16/130)
Sabar menghadapi sakit, menguasai diri karena kekhawatiran dan emosi, menahan lidahnya agar tidak mengeluh, merupakan bekal bagi orang mukmin dalam perjalanan hidupnya di dunia. Maka dari itu sabar termasuk dari sebagian iman, sama seperti kedudukan kepala bagi badan. Tidak ada iman bagi orang yang tidak sabar, sebagaimana badan yang tidak ada artinya tanpa kepala. Maka Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata. "Kehidupan yang paling baik ialah apabila kita mengetahuinya dengan berbekal kesabaran". Maka andaikata engkau mengetahui tentang pahala dan berbagai cobaan yang telah dijanjikan Allah bagimu, tentu engkau bisa bersabar dalam menghadapi sakit. Perhatikanlah riwayat berikut ini.

"Artinya : Dari Atha' bin Abu Rabbah, dia berkata. "Ibnu Abbas pernah berkata kepadaku. 'Maukah kutunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni sorga ? Aku menjawab. 'Ya'. Dia (Ibnu Abbas) berkata. "Wanita berkulit hitam itu pernah mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, seraya berkata. 'Sesungguhnya aku sakit ayan dan (auratku) terbuka. Maka berdoalah bagi diriku. Beliau berkata. 'Apabila engkau menghendaki, maka engkau bisa bersabar dan bagimu adalah sorga. Dan, apabila engkau menghendaki bisa berdo'a sendiri kepada Allah hingga Dia memberimu fiat'. Lalu wanita itu berkata. 'Aku akan bersabar. Wanita itu berkata lagi. 'Sesungguhnya (auratku) terbuka. Maka berdo'alah kepada Allah bagi diriku agar (auratku) tidak terbuka'. Maka beliau pun berdoa bagi wanita tersebut". (Ditakhrij Al-Bukhari 7/150. Muslim 16/131)
Perhatikanlah, ternyata wanita itu memilih untuk bersabar menghadapi penyakitnya dan dia pun masuk sorga. Begitulah yang mestinya engkau ketahui, bahwa sabar menghadapi cobaan dunia akan mewariskan sorga. Diantara jenis kesabaran menghadapi cobaan ialah kesabaran wanita muslimah karena diuji kebutaan oleh Rabb-nya. Disini pahalanya jauh lebih besar.
Dari Anas bin Malik, dia berkata. "Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata.

"Artinya : Sesungguhnya Allah berfirman. 'Apabila Aku menguji hamba-Ku (dengan kebutaan) pada kedua matanya lalu dia bersabar, maka Aku akan mengganti kedua matanya itu dengan sorga". (Ditakhrij Al-Bukhari 7/151 dalam Ath-Thibb. Menurut Al-Hafidz di dalam Al-Fath, yang dimaksud habibatain adalah dua hal yang dicintai. Sebab itu kedua mata merupakan anggota badan manusia yang paling dicintai. Sebab dengan tidak adanya kedua mata, penglihatannya menjadi hilang, sehingga dia tidak dapat melihat kebaikan sehingga membuatnya senang, dan tidak dapat melihat keburukan sehingga dia bisa menghindarinya.)
Maka engkau harus mampu menahan diri tatkala sakit dan menyembunyikan cobaan yang menimpamu. Al-Fudhail bin Iyadh pernah mendengar seseorang mengadukan cobaan yang menimpanya. Maka dia berkata kepadanya. "Bagaimana mungkin engkau mengadukan yang merahmatimu kepada orang yang tidak memberikan rahmat kepadamu ?"
Sebagian orang Salaf yang shalih berkata : "Barangsiapa yang mengadukan musibah yang menimpanya, seakan-akan dia mengadukan Rabb-nya".

Yang dimaksud mengadukan di sini bukan membeberkan penyakit kepada dokter yang mengobatinya. Tetapi pengaduan itu merupakan gambaran penyesalan dan penderitaan karena mendapat cobaan dari Allah, yang dilontarkan kepada orang yang tidak mampu mengobati, seperti kepada teman atau tetangga.

Orang-orang Salaf yang shalih dari umat kita pernah berkata. "Empat hal termasuk simpanan sorga, yaitu menyembunyikan musibah, menyembunyikan (merahasiakan) shadaqah, menyembunyikan kelebihan dan menyembunyikan sakit".

Ukhti Muslimah !
Selanjutnya perhatikan perkataan Ibnu Abdi Rabbah Al-Andalusy : "Asy-Syaibany pernah berkata. 'Temanku pernah memberitahukan kepadaku seraya berkata. 'Syuraih mendengar tatkala aku mengeluhkan kesedihanku kepada seorang teman. Maka dia memegang tanganku seraya berkata. 'Wahai anak saudaraku, janganlah engkau mengeluh kepada selain Allah. Karena orang yang engkau keluhi itu tidak lepas dari kedudukannya sebagai teman atau lawan. Kalau dia seorang teman, berarti dia berduka dan tidak bisa memberimu manfaat. Kalau dia seorang lawan, maka dia akan bergembira karena deritamu. Lihatlah salah satu mataku ini, 'sambil menunjuk ke arah matanya', demi Allah, dengan mata ini aku tidak pernah bisa melihat seorangpun, tidak pula teman sejak lima tahun yang lalu. Namun aku tidak pernah memberitahukannya kepada seseorang hingga detik ini. Tidakkah engkau mendengar perkataan seorang hamba yang shalih (Yusuf) : "Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku". Maka jadikanlah Allah sebagai tempatmu mengadu tatkala ada musibah yang menimpamu. Sesungguhnya Dia adalah penanggung jawab yang paling mulia dan yang paling dekat untuk dimintai do'a". (Al-Aqdud-Farid, 2/282)

Abud-Darda' Radhiyallahu anhu berkata. "Apabila Allah telah menetapkan suatu takdir, maka yang paling dicintai-Nya adalah meridhai takdir-Nya". (Az-Zuhd, Ibnul Mubarak, hal. 125)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.