Kisah Atho’ Bin Abi Rabah

MPI Lampung - Beliau adalah Aslam Abu Muhammad Al Qurasi Al Makki. Bekas budak Habibah binti Maisarah ibnu Abi Khaitsum dan dikatakan bekas budak dari bani Jumah, beliau lahir di Al Janad, sebuah kota terkenal di Yaman. Beliau dilahirkan dua tahun setelah Utsman bin Affan menjadi khalifah. Beliau tumbuh dewasa di Makkah pada masa pemerintahan bani Umayah, bapaknya bernama Nuwaibi sedangkan ibunya bernama Barakah.

Ibnu Saad berkata: “Atha’ tumbuh dewasa di Makkah dan ia adalah bekas budak bani Fihr atau bani Jumah, fatwa-fatwa ahli makah banyak merujuk kepadanya selain kepada Mujahid, akan tetapi lebih banyak kepada Atha’. Aku juga mendengar dari ahli ilmu berkata bahwa Atha’ orangnya hitam, buta sebelah mata, pesek hidungnya, cacat kaki dan tangannya, kemudian beliau buta. Tangannya dipotong bersama Ibnu Zubair dan ia adala seorang yang faqih, alim, tsiqah, dan banyak hadits.”

Beliau meriwayatkan dari Aisyah, Ummu Salamah, Ummu Hani’, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Hakim bin Hizam, Rafi’ bin Khadif, Zaid bin Arqam, Zaid bin Khalid Al Juhni, Ubaid bin Umair, Mujahid, Urwah, Ibnu Al Hanafiyah dan yang lainnya.

Adapun ulama’ yang meriwayatkan dari beliau antara lain: Mujahid, Abu Ishaq, Abu Az Zubair, Amru bin Dinar, Al Qudama’, Azzuhri, Qatadah, Amru bin Su’aib, Malik bin Dinar, Salamah bin Kuhail, Al A’masi, Mansur bin Al Mu’tamar, Yahya bin Abi Katsir, Abu Hanifah, Jarir bin Hazim, Yunus bin Ubaid, Usamah bin Zaid Al Laitsi, Ismail bin Muslim Al Makki, Al Aswad bin Syaiban, Ayub bin Musa Al Faqih, dan yang lainnya.

Dari Umar bin Said dari ibunya bahwasanya ia bermimpi melihat nabi  berkata: “Imam kaum muslimin adalah Atha’ bin Abi Rabah.”

Abu Ja’far berkata: “Ambillah ilmu dari Atha’ semampu kalian.” Ia juga berkata: “Tidak ada seorang di dunia ini yang lebih mengetahui urusan haji dari Atha’.”

Dari Qatadah ia berkata: “Sulaiman bin Hisyam bertanya kepadaku: “Apakah di negeri Makkah ini ada seorang alim, seorang yang peling banyak ilmunya di seluruh jazirah Arab?”, “Atha’ bin Abi Rabah,” jawabku.”
Utsman bin Atha’ berkata: “Atha’ orang yang sangat hitam tidak mempunyai rambut di kepalanya kecuali beberapa helai saja, jika ia berbicara sangat fasih.”

Ismail bin Umayah berkata: “Atha’ adalah orang yang banyak diam daripada bicaranya.”
Abu Hanifah berkata: “Aku tidak mendapati dari seorang yang kutemui lebih utama dari Atha’ bin Abi Rabah, dan aku tidak mendapati orang yang lebih pendusta dari Ja’far Al Ju’fi.”
Ibnu Juraij bekata: “Masjid adalah tempat Atha’ tidur selama 20 tahun, dan ia adalah orang yang paling banyak shalatnya.”

Abdul Aziz bin Rafi’ berkata: “Atha’ ditanya tentang sesuatu, ia berkata: “Aku tidak tahu,” dikatakan kepadanya: “mengapa engkau tidak menjawab dengan pendapatmu?” maka ia bekata “Aku malu kepada Allah jika pendapatku menjadi pedoman di muka bumi.”

Atha’ berkata kepada Ibnu Suqah: “Sesungguhnya orang sebelum kalian membenci berlebih lebihan dalam berbicara, dan mereka menghitung ucapan mereka kecuali terhadap kitab Allah, amar ma’ruf nahi mungkar…..apakah kalian tidak malu jika lembaran-lembaran kalian diisi dan disodorkan kepada kalian sedangkan di dalamnya tidak ada sesuatu dari urusan akhirat?”

Abu Laila berkata: “Atha’ menunaikan ibadah haji sebanyak 70 kali.”
Di akhir hayatnya beliau berbuka (tidak shaum) di bulan Ramadhan dikarenakan sudah lanjut usia dan kondisi badan sudah lemah, kemudian beliau menggantinya dengan membayar fidyah.”

Al Haitsam dan lainnya berkata bahwa Atha’ wafat pada tahun 144 H, sedangkan Ibnu Uyainah dan Al Waqidi berpendapat bahwa Atha’ wafat pada tahun 115 H beliau berusia 88 tahun.

Maraji’:
Siyarul A’lam An Nubala’ 5/78
Al Bidayah Wan Nihayah 9/306
Tahdzibut Tahdzib 7/179
Thabaqatul Huffazh 45
Sifatush Shafwah 2/211
Mizanul I’tidal 1/47 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.