SERAHKAN PERNIAGAAN KEPADA YANG BERHAK

MPI Lampung - Anda telah menjual diri Anda kepada Allah subhaanahu wa ta'alaa. Di hadapan Anda tidak ada pilihan lain selain menyerahkan apa yang telah Anda jual kepada yang telah membelinya.
إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (at-Taubah : 111)
Apabila pembeli telah menerima barang yang dijual maka dia berhak berbuat sesukanya dan menempatkannya sesukanya. Jika dia ingin, dia bisa meletakkannya di istana, bisa juga dia meletakkannya di penjara. Jika dia ingin dia bisa memakaikan baju terindah kepadanya, bisa juga dia menjadikannya telanjang kecuali kain yang menutupi auratnya. Jika dia ingin dia bisa menjadikannya kaya, bisa juga dia menjadikannya fakir papa. Jika dia ingin dia bisa memanjangkan umurnya, bisa juga dia menggantungnya pada tiang gantungan, atau dikuasakan atasnya musuhnya lalu musuh itu membunuhnya, atau mencincangnya.
Apakah baik jika seorang yang telah menjual seekor kambing lalu ia marah kepada orang yang telah membelinya, di saat orang itu menyembelihnya. Pantaskah jika hatinya gundah karenanya?!
Belum pernahkah Anda dengar tentang singa Allah dan singa Rasul-Nya, Hamzah bin ‘Abdulmuthallib t? Perutnya telah dirobek. Hatinya telah dikeluarkan. Dan ia pun dicincang.[1] Demikian pula halnya dengan para sahabat Nabi r yang menjadi syuhada’ dalam perang Uhud. Perut mereka dirobek, hidung dan telinga mereka diiris, bahkan Hindun binti ‘Utbah dan wanita-wanita Quraisy yang hadir bersamanya menjadikan hidung dan telinga para sahabat sebagai kalung dan gelang bagi mereka. Hindun binti ‘Utbah telah menyerahkan gelang kaki, kalung, dan perhiasannya kepada Wahsyi, sang pembunuh Hamzah ... sebagai balasan atas apa yang telah dilakukannya.[2]
Atau bahkan, belum pernahkan Anda dengar apa yang menimpa Rasulullah  r saat perang Uhud?! Pipi dan wajah mulia beliau terluka. Sebiji gigi depan beliau pecah.[3] Dan beliau r hidup dari satu cobaan kepada cobaan yang lainnya. Benarlah perkataan Ibnu al-Jauziy, “Bukankah Rasul r pun perlu untuk mengucapkan, ‘Siapa yang mau melindungiku? Siapa yang mau menolongku?’ Bukankah beliau perlu untuk memasuki kota Mekah ditemani seorang kafir, bukankah beliau menyarungkan senjata dan menyimpannya di balik punggung, bukankah sahabat-sahabat beliau banyak yang terbunuh, bukankah beliau dilecehkan oleh orang-orang yang baru masuk Islam, bukankah beliau pernah mengalami kelaparan, dan beliau tetap teguh, tetap bergeming?… Lalu beliau pernah merasakan beratnya kelaparan, sampai-sampai beliau mengambil batu dan mengikatnya di perut? Padahal Allah adalah pemilik pintu-pintu langit dan bumi?.. Bukankah sahabat-sahabat beliau terbunuh, wajah beliau terluka, gigi depan beliau pecah, paman beliau dicincang, dan beliau tetap diam? Lalu beliau diberi rizki anak laki-laki, namun tak berselang lama anak kesayangan itu direnggut dari beliau? Lalu terhibur dengan Hasan dan Husain, tetapi segera diberitahu tentang apa yang akan menimpa keduanya. Beliau sangat menyayangi Aisyah t, lalu diguncanglah kehidupannya dengan kabar tuduhan zina. Beliau berusaha menampakkan mukjizat, namun dihadang oleh Musailamah, al-‘Insiy, dan Ibnu Shayyad. Datang kepada beliau Jibril yang terpercaya, namun kaumnya mengatakan, tukang sihir yang pendusta. Lalu dijadikanlah beliau merasakan sakit seperti yang dirasakan oleh dua orang, dan beliau tetap diam…tenang. Jika dikabarkan tentang keadaannya, beliau pun mengajarkan kesabaran. Lalu kematian datang, ruh beliau yang mulia terangkat, sementara jasad terbujur di atas kain usang dan sarung yang kasar… keluarga beliau tidak memiliki minyak untuk menyalakan lampu … walau untuk malam itu saja.”[4]
Saudaraku, cobalah untuk merenungkan kehidupan para Nabi dan Rasul. Mereka adalah manusia-manusia pilihan. Merekalah yang paling mulia di sisi Pencipta dan paling dicintai oleh-Nya. Meski begitu, Ibrahim telah dilempar ke dalam api, Zakariya telah digergaji, Yahya telah disembelih, Ayyub berada dalam ujian bertahun-tahun yang membinasakan harta dan anak-anaknya, Yunus terpenjara dalam perut ikan paus, Yusuf diremehkan dan dijual dengan harga murah, lalu menetap di penjara beberapa tahun. Semua itu, mereka ridla terhadap takdir Allah, ridla terhadap-Nya, Pelindung mereka yang sebenarnya.
Sebagian salaf ada yang berkata, “Dibelah tubuhku lebih aku sukai daripada aku katakan untuk sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah, ‘Seandainya itu tidak terjadi.’”
Ada juga yang mengatakan, “Aku telah melakukan perbuatan dosa, aku tangisi dosa itu sejak 30 tahun yang lalu.” Ia adalah seorang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. Seseorang bertanya, “Apa dosa itu?” ia menjawab, “Sekali aku mengucapkan untuk sesuatu yang telah terjadi, ‘Seandainya itu tidak terjadi.’”
Wahai saudaraku, jadilah Anda menjadi bagian dari mereka-mereka yang aktivitas mereka tidak bertentangan dengan apa yang telah Allah lakukan, mereka yang pilihannya tidak berseberangan dengan pilihan Allah. Mereka tidak pernah mengucapkan, “Seandainya ini begini pasti begini.” atau “Semoga saja ..”, meski hanya sekali.
Apa yang Allah pilihkan bagi hamba-Nya yang beriman adalah pilihan yang terbaik, meski tampaknya sulit, berat, atau memerlukan pengorbanan harta, kedudukan, jabatan, keluarga, anak, atau bahkan lenyapnya dunia seisinya.
Cobalah mengingat kembali kisah perang Badar. Pikirkan baik-baik! Sebenarnya sebagian sahabat pada waktu itu lebih menyukai mendapatkan harta perniagaan[5], namun Allah memilihkan bagi mereka pilihan yang jauh lebih baik dan lebih utama daripada pilihan mereka.. Allah pilihkan bagi mereka pertempuran!
Perbedaan antara harta perniagaan dan pertempuran ini bagaikan perbedaan antara bumi dan langit. Apatah nilai harta perniagaan?! Makanan yang dikunyah lalu masuk ke jamban, pakaian yang akhirnya compang-comping dan dibuang, serta dunia yang hanya sesaat. Sedangkan pertempuran, bersamanya ada furqan yang dengannya Allah membedakan kebenaran dan kebatilan. Bersamanya ada kehancuran syirik dan keruntuhannya, serta tingginya tauhid dan kejayaannya. Bersamanya ada penumpasan tokoh-tokoh musyrik yang sebelumnya senantiasa menempatkan batu sandungan di jalan Islam, dien yang lahir di jazirah Arab, dst.. dst…
Cukup pula kiranya bersamanya, “Sesungguhnya Allah telah mencermati para tentara perang Badar, lalau berfirman, ‘Kerjakanlah yang kalian mau karena sungguh Aku telah mengampuni kalian.’”[6]
Mahabenar Allah  yang telah berfirman,
وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللهُ إِحْدَى الطَّآئِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللهُ أَن يُّحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ
Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedangkan kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk memenangkan kebenaran dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir. (al-Anfal : 7)
Sebelum pembicaraan tentang poin ini saya akhiri, saya ingin memaparkan makna kalimat yang ditulis oleh Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad, dengan sedikit perubahan, “Sesungguhnya jika Allah menahanmu dari mendapatkan sesuatu, itu bukanlah karena Dia bakhil, khawatir kehilangan perbendaharaan-Nya, atau menyembunyikan hakmu. Akan tetapi itu adalah karena Dia ingin kamu kembali kepada-Nya, Dia ingin memuliakanmu dengan tunduk-pasrah kepada-Nya, menjadikanmu kaya dengan faqir kepada-Nya, memaksamu untuk bersimpuh di hadapan-Nya, menjadikanmu dapat merasakan manisnya ketundukan dan kefakiran kepada-Nya setelah merasakan pahitnya terhalang dari sesuatu. Supaya kamu memakai perhiasan ‘ubudiyyah, menempatkanmu di kedudukan yang tertinggi setelah kedudukanmu dicopot, supaya kamu dapat menyaksikan hikmah-Nya dalam qudrah-Nya, rahmat-Nya dalam keperkasaan-Nya, kebaikan dan kelembutan-Nya dalam paksaan-Nya, dan bahwa sebenarnya tidak memberinya adalah pemberian, pencopotan dari-Nya adalah penguasaan, hukuman dari-Nya adalah pengajaran, ujian dari-Nya adalah pemberian dan kecintaan, dikuasakannya musuh-musuhmu atasmu adalah yang akan menggiringmu kepadaNya.”
Siapa-siapa yang tidak memahami ini semua dengan hati dan akalnya serta beramal dengannya, sungguh ia memang tidak dapat menerima pemberian dan tidak membawa bejana. Orang yang datang tanpa membawa wadah, akan pulang dengan tangan hampa. Dan jika demikian, janganlah ia mencela selain mencela dirinya sendiri.

KETEGUHANMU DAPAT MENGALAHKAN TIPU DAYA MUSUH
Musuh-musuh Islam tidak lagi mendapati alasan untuk membenarkan kebatilan mereka. Karenanya reaksi mereka atas seruan kebenaran adalah melancarkan berbagai siksaan dan adzab kepada mereka yang memperjuangkan kebenaran. Mereka tidak mendapati reaksi lain yang lebih baik dari hal itu. Mereka selalu mengambil langkah ini manakala mereka kehabisan cara untuk menolak kebenaran.
Dengan reaksi ini pulalah Fir’aun menyambut seruan Musa
قَالَ لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَهًا غَيْرِي لأَجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُونِينَ
Fir'aun berkata, “Sungguh jika kamu menyembah Ilah selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan”. (asy-Syu’ara` : 29)
Juga kepada bekas tukang sihirnya yang telah beriman
لأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُم مِّنْ خِلاَفٍ وَلأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ
Aku benar-benar akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya. (asy-Syu’ara` : 49)
Dengan reaksi yang sama pula kaum Ibrahim u menjawab seruannya
حَرِّقُوهُ وَانصُرُوا ءَالِهَتِكُمْ
Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan. (al-Anbiya` : 68)
Begitu juga reaksi yang diberikan kepada Yusuf u
ثُمَّ بَدَا لَهُم مِّن بَعْدِ مَارَأَوُا اْلأَيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّى حِينٍ
Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu. (Yusuf : 35)
Demikian pula reaksi Umayyah bin Khalaf terhadap Bilal bin Rabah manakala ia terus menggumamkan kata ‘Ahad… Ahad…’, dari sanubarinya. Umayyah menyiksa dan mencambukinya di bawah terik matahari kota Mekah, lalu meletakkan batu besar di atas perutnya.
Sama halnya dengan ‘Ammar, Mush’ab, Khabbab, Ibnu Mas’ud, as-Shidiq Abu Bakar, dan bahkan Rasulullah r.
Juga, Imam Ahmad bin Hambal. Ketika beliau menolak untuk menyatakan bahwa al-Qur`an itu makhluk, dengan segera pukulan, cambuk, penjara dan siksaan datang bertubi-tubi.
Pun demikian dengan Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
Begitulah orang-orang fasiq, orang-orang kafir, dan orang-orang yang murtad, selalu menyambut para da’i kepada Allah dan para aktivis yang meng’azamkan tegaknya dien di zaman ini dengan reaksi yang sama.
Inilah sambutan dari musuh-musuh Islam....akhir dari tipu daya mereka....akhir dari anak panah yang mereka miliki. Inilah hal terbaik yang dapat mereka lakukan untuk mempertahankan kebatilan dan kesekuleran mereka.
Karenanya, jika mereka telah menyambut kalian dengan reaksi seperti itu, lalu kalian tetap kokoh di atas kebenaran dan sabar menghadapi cobaan... sungguh itu telah menghancurkan seluruh rencana yang telah mereka persiapkan sebelumnya, juga memupus tipu daya mentah-mentah, serta menggagalkan upaya mereka untuk mengatur dan melancarkan berbagai makar.
Sesungguhnya keteguhan, kesabaran, dan komitmen kalian kepada Allah U termasuk faktor kemenangan bagi Islam dan kegagalan bagi musuh-musuhnya.
Lihatlah bagaimana keadaan musuh yang menyadari bahwa anak panah mereka telah patah, usaha mereka telah sia-sia, upaya yang mereka adakan telah gagal, berlalu bagaikan angin yang berhembus, dan tipu daya mereka telah sirna begitu saja?!
Bagaimanakah keadaan mereka, jika mereka tahu bahwa berbagai tindak intimidasi yang mereka lancarkan hanya akan menambah kekuatan, keikhlasan, dan keteguhan bagi kita? Setiap kali mereka menambah intensitas siksaan dan adzab kepada ahlulhaq setiap kali itu pula lahir generasi yang lebih kuat, lebih kokoh, lebih bijak, dan lebih berakal. Generasi yang terbina untuk selalu melaksanakan perintah pada ‘azimah (hukum asal), dan bukan rukhsah (keringanan), serta mengambil sedikit saja dari yang mubah.
Generasi yang telah menceraikan dunia dengan talak bain, tiada kesempatan baginya untuk kembali kepadanya.
Sehubungan dengan ini ada ungkapan yang indah dari seorang aktivis yang membuat saya tertegun. Katanya begini, “Apa gerangan yang terjadi manakala musuh-musuh kita tahu bahwa tipu daya mereka tidak melemahkan hati kita tetapi malah menguatkannya, tidak memupus cita dan asa kita tetapi malah mengukuhkannya, dan tidak menurunkan semangat kita, tetapi malah meninggikannya... Bagaimana keadaan mereka, jika mereka tahu bahwa kita semakin dekat kepada Allah manakala kesulitan dan cobaan semakin berat. Ya, setiap kali ujian semakin menggila dan upaya musuh semakin membabi buta setiap kali itu pula kalbu bersujud di hadapan Rabbnya dan ber’azam untuk terus melanjutkan asanya tanpa sedikit pun melemah. Juga senantiasa memohon kepada Pelindungnya agar memurnikannya dari segala yang dibenci-Nya dan selalu menjaganya. Bagaimana kira-kira kejengkelan mereka manakala mereka tahu bahwa mereka telah menjadi kendaraan untuk menyelesaikan target tertentu. Target pembersihan dan penjernihan. Lalu apa manfaat dari kejengkelan mereka itu?!”
قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ
Katakanlah, “Matilah bersama kemarahan kalian!” (Ali ‘Imran : 119)
وَلَن يَجْعَلَ اللهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً
Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. (An-Nisa` : 141)
Sesungguhnya keteguhan kalian di atas kebenaran, dan kesabaran kalian dalam menghadapi ujian, memberikan jaminan akan kehancuran musuh-musuh Islam, bukan hanya dari sisi teori dan konsep saja. Keteguhan dan kesabaran akan menghancurkan mereka; eksistensi, institusi dan konstitusi sekaligus.
Sesungguhnya kesabaran dan keteguhan sekelompok kecil orang-orang yang beriman dengan sebenarnya dari kalangan ahlul-haq menjadi jaminan akan kehancuran pemerintahan sekuler dari dasarnya sehingga jungkir balik. Itu terjadi setelah kehancuran pemikirannya, konsep-konsepnya dan dasar-dasarnya.
Bukankah keteguhan Abu Bakar as-Shiddiq dan kesabarannya ketika terjadi harakaturriddah, gerakan murtad massal merupakan faktor utama dari lenyapnya fitnah kemurtadan itu? Fitnah yang menimpa seluruh jazirah Arab terkecuali tiga kota saja; Mekah, Madinah dan Jawatsa di Bahrain..
Kini kita sering mendengar ungkapan, “Kemurtadan di mana-mana namun tiada lagi Abu Bakar untuk menanggulanginya.”
Bahkan keteguhan yang menakjubkan dari Abu Bakar t dalam situasi yang sulit inilah yang menggoncangkan singgasana orang-orang murtad dan meruntuhkannya, meski mereka memiliki perbekalan dan pengikut yang lebih dari cukup dan pasukan yang benar-benar pemberani.
Dalam pada ini Abu Hurairah ~siapa yang tak kenal Abu Hurairah~ dengan kesadaran penuh atas apa yang diucapkan mengatakan, “Demi Allah yang tiada Ilah yang berhak disembah selain Dia, kalau saja bukan Abu Bakar yang diangkat menjadi khalifah, niscaya Allah tidak lagi disembah!” Mereka yang mendengar mengatakan, “Jangan begitu, wahai Abu Hurairah!”[7]
Bukankah keteguhan dan kesabaran Imam  Ahmad bin Hambal kala dipenjara, disiksa, dan dicambuki menghadapi fitnah khalqul Qur`an yang menyelimuti seluruh kaum muslimin saat itu dan hampir-hampir merubah aqidah as-salafus shalih yang menjadi faktor penghancur utama kedustaan itu, sirnanya keburukannya, dan pembatal tipu daya para penganutnya? Siapakah para penganut itu? Tiada lain adalah para penguasa, para pejabat, para menteri, dan orang-orang yang setia kepada mereka.
Ketegaran sang Imamlah yang telah memberikan pengaruh yang besar dalam penulisan keberlangsungan aqidah ummat, setelah nyaris dieksekusi oleh tangan-tangan orang-orang sesat, para ahli bid’ah. Ketika sang Imam mendatangi Mu’tashim yang selanjutnya beliau diuji tentang khalqul Qur`an, seseorang berkata, “Sesungguhnya amirul mukminin telah bersumpah untuk tidak membunuhmu dengan sabetan pedang, hanyasaja kau akan menghadapi cambukan demi cambukan..”
Pada hari ketiga, Mu’tashim mendatangi beliau seorang diri. Ia mengatakan bahwa sebenarnya ia sangat mencintai sang Imam sebagaimana ia mencintai Harun, anaknya. Namun, Imam Ahmad tetap bergeming dengan jawabannya sejak semula. Tidak sedikit pun beliau mencabut kata-kata itu. Mu’tashim murka seraya berkata, “Terlaknat kamu, aku sudah bersusah payah mendatangimu! Ambil ia!”
Maka Mu’tashim memerintahkan bala tentaranya untuk melucuti pakaian sang Imam selain kain sarungnya, lalu merantainya, dan mencambukinya. Kabarnya, jumlah algojo yang ditugaskan untuk mencambuk beliau banyak sekali. Mereka bergantian dalam melaksanakan eksekusi ini. Salah seorang dari mereka pernah mengejek beliau sambil bertopang pada pangkal pedangnya ia berkata, “Apakah Anda hendak mengalahkan mereka semuanya?”
Setiap hari mereka mencambuki sang Imam sampai beliau pingsan.
Demikian mereka lakukan terus-menerus.
Cambukan para algojo ini telah meninggalkan bekas yang tak terbayangkan pada tubuh renta sang Imam. Seseorang yang pernah datang untuk mengobati luka-luka yang ditimbulkan oleh cambukan itu berkata, “Demi Allah, aku telah melihat bekas seribu cambukan! Belum pernah aku saksikan bekas cambukan sehebat ini!”
Bekas cambukan itu tetap menghiasi punggung sang Imam sampai akhir hayat beliau..
Di antara sekian peristiwa yang dijalani oleh Imam Ahmad, yang paling menakjubkan adalah bahwa satu-satunya perkara yang beliau khawatirkan saat itu adalah terlukarnya sirwal (celana bertali) dan terlihatnya aurat beliau di saat beliau menerima siksaan di hadapan khalayak yang menyaksikan prosesi penyiksaan. Adalah beliau banyak-banyak berdoa, memohon supaya auratnya tidak tersingkap. Dan Allah mengabulkan permohonan sang imam![8]
Kisah ini meskipun singkat telah banyak memberikan dampak positif bagi saya dan sekian ikhwah yang telah melewati masa ujian yang dalam beberapa bagiannya mirip dengan yang dialami oleh Imam Ahmad. Semoga Allah senantiasa merahmati beliau dengan rahmat yang luas. Semoga atas jasanya yang besar terhadap islam, Allah membalasnya dengan balasan yang baik.


[1] Seperti disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud ra yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad, “...Lihatlah, Hamzah telah dirobek perutnya lalu Hindun mengambil hatinya, dikunyah-kunyahnya, namun ia tidak mampu memakannya..”
[2] Diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishaq dari Shalih bin Kaisan seperti tersebut di dalam as-Siratun Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, vol. II/91
[3] Disebutkan oleh Ibnu Hisyam dari Abu Ishaq dalam as-Siratun Nabawiyyah vol. II/79
[4] Shaidul Khathir, Ibnul Jauzi hal. 257-261
[5] Rujuk kembali tafsir surat al-Anfal : 5
[6] Hadits dengan redaksi di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad 2/295, Abu Dawud 4654, Hakim menshahihkannya dalam al-Mustadarak 4/77, dan disetujui oleh adz-Dzahabiy. Semuanya dari Abu Hurairah ra. Syekh Ahmad Syakir mengatakan, “Isnadnya shahih.” Sedangkan dengan redaksi “Kiranya Allah telah mencermati..” diriwayatkan oleh al-Bukhariy 7/305, Muslim 16/56, Abu Dawud 2650, at-Tirmidziy 3305, Ahmad dalam Musnad 1/80, dan al-Baihaqiy dalam as-Sunanul Kubra 9/147, semuanya dari hadits ‘Ali bin Abu Thalib ra. Ada juga hadits yang senada yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, dan Jabir bin ‘Abdullah ra, semuanya shahih.
[7] Diriwayatkan oleh al-Baihaqiy, sebagaimana tersebut dalam al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir 6/305. Di dalam Kanzul ‘Ummal 3/129 disebutkan bahwa sanadnya hasan.
[8] Lihat : Mihnah Imam Ahmad dalam al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir 10/267-274, juga 330-340.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.