Melatih Jiwa dan Membimbing Akhlak


MPI Lampung - Akhlak-akhlak yang baik adalah sifat para nabi dan shidiqin, sedangkan akhlak-akhlak yang buruk merupakan racun yang mematikan, menghela pelakunya kejalan syaithan dan penyakit yang membuatnya tidak mendapatkan kehormatan sepanjang masa. Karena itu, dia harus mengetahui berbagai macam penyakit dan bagaimana cara mengobatinya secara global tanpa rincian yang mendetail.

Keutamaan akhlak yang baik dan celaan akhlak yang buruk
Banyak orang-orang membicarakan akhlak yang baik, dengan memaparkan hasil-hasilnya tanpa memaparkan hakikatnya, sehingga mereka tidak bisa meraup seluruh hasilnya. Bahkan setiap orang menyebutkan apa yang terlintas dibenaknya. Pengungkapan hal ini bisa dikatakan ,” Seringkali penggunaan istilah akhlak yang baik dengan disertai penciptaannya.” Sehingga bisa dikatakan,”Fulan bagus penciptaannya dan bagus pula akhlaknya.” Maksudnya, bagus dzahir dan bathinnya. Yang dimaksudkan penciptaan adalah rupa dzahirnya, sedangkan maksud akhlak adalah rupa batinnya, karena memang manusia terangkai dari raga dan jiwa.

Raga atau jasad bisa mengetahui dengan penglihatan mata, sedangkan jiwa bisa mengetahui dengan bashirah (mata hati). Masing-masing memiliki bentuk dan gambaran sendiri-sendiri, bisa baik dan bisa buruk. Jiwa yang bisa mengetahui dengan bashirah, lebih besar kedudukannya daripada jasad yang bisa mengetahui dengan penglihatan mata. Karena itu Allah mengagungkan urusan-Nya, dengan berfirman,
“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah kusempurnakan kejadiannya dan kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku”. (Shad : 71-72)

Allah mengingatkan bahwa jasad itu dikaitkan dengan tanah, sedangkan ruh dikaitkan dengan Alloh. Akhlak merupakan ungkapan tentang kondisi jiwa, yang begitu mudah bisa menghasilkan perbuatan, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Jika perbuatan itu baik, maka disebut akhlak yang baik, dan jika buruk disebut dengan akhlak yang buruk.
Sebagai orang yang lebih banyak menganggur, merasa berat untuk berlatih, beranggapan bahwa akhlak itu sulit digambarkan perubahannya, sebagaimana perubahan dzahir yang juga sulit digambarkan.

Anggapan itu bisa ditanggapi sebagai berikut : Andaikan akhlak itu menolak perubahan, tentu tidak ada artinya nasihat dan peringatan. Lalu bagaimana engkau mengingakri perubahan akhlak, padahal kamipun bisa melihat binatang yang galak bisa menjadi lembut? Anjing tahu kapan harus tidak makan, kuda bisa tahu bagaimana cara berjalan yang baik dan mudah dihela. Hanya memang sebagian tabiat manusia ada yang cepat dirubah dan sebagian lain ada yang sulit berubah.

Sedangkan anggapan (orang merasa yakin bahwa tabiat yang merupakan pembawaan tidak bisa dirubah, ketauhilah bahwasan maksudnya bukan membelenggu sifat-sifat ini secara keseluruhan, tetapi yang dituntut secara keseluruhan, tetapi yang dituntut dari latihan itu adalah membawa syahwat ke jalan pertengahan, yaitu pertengahan antara mengabaikan dan berlebih-lebihan. Jadi bukan membelenggu semuanya secara total. Sebab syahwat diciptakan untuk suatu kegunaan yang sangat urgen dalam tabiat pembawaan. Andaikan tidak nafsu makan, manusia tentu akan binasa. Jika tidak ada nafsu seksual, keturunan tentu akan terputus. Jika tidak ada amarah sama sekali, manusia tentu tidak merasa tergerak untuk melindungi diri dari hal-hal yang merusaknya. Allah berfirman,
“Keras terhadap orang-orang kafir”. (Al-Fath : 29)

Sikap keras tidak muncul kecuali dari amarah. Andaikan tidak ada rasa amarah, tentu tidak ada jihad terhadap orang kafir. Firman-Nya yang lain.
“Dan, orang-orang yang menahan amarahnya.” (Ali Imran : 134)
Allah tidak berfirman, “Orang-orang yang membekukan amarahnya.”

Begitu pula yang dituntut dalam masalah nafsu makan, yaitu pertengahan tanpa berlebih-lebihan dan tidak terlalu sedikti. Firman-Nya,
“Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan.”(Al-A’raf :31)

Bukti lain yang menunjukkan bahwa yang dimaksudkan latihan disini adalah jalan pertengahan, ialah murah hati adalah sesuatau yang disyari’atkan dan harus dilakukan menurut jalan pertengahan, antara tidak kikir dan tidak boros, Alloh memberikan pujian tentang hal ini,
“Dan, orang-orang yang apabila membelajakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak(pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah-tengah antara yang demikian.” (Al-Furqan : 67)

Jalan pertengahan ini terkadang terwujud karena memang fitrah yang sempurna sebagai penganugerahan yang menyertai penciptaanya. Berapa banyak anak kecil yang diciptakan memiliki sifat jujur, lemah lembut, dan murah hati. Terkadang jalan itu terwujud karena mencari, yang dilakukan dengan latihan , yaitu dengan membawa jika kepada amal-amal yang bisa mendatangkan sifat yang dimaksudkan. Siapa yang ingin memiliki sifat tawadhu;, maka dia harus memaksa dirinya bersikap seperti orang-orang lain yang tawadhu’. Begitula dengan sifat-sifat terpuji lainnya. Kebiasaan untuk itu akan membawa pengaruh yang sangat besar, seabagaimana orang yang ingin menjadi penulis, maka dia harus melatih dirinya dalam tulis menulis, jika ingin menjadi ahli fiqih, harus rajin berbuat seperti yang diperbuat ahli fiqih, hingga didalam hatinya tertanam sifat orang yang mendalami dan memahami ilmu. Tetapi harus diingat, dia tidak bisa mendapatkan pengaruh latihan itu dalam tempo sehari dua hari. Pengaruhnya akan tampak sekian lama, sebagaiman tinggi badan yang tidak bisa diperoleh hanya dengan latihan tempo sehari dua hari. Tetapi latihan secara kontinyu akan membawa pengaruh yang besar.

Memperhatikan sebab-sebab yang mendatangkan keutamaan juga berpengaruh terhadap jiwa serta dalam merubah tabiatnya, sebagaimana bermalas-malasan yang kemudian menjadi kebiasaan, hingga tidak ada kebaikan yang didapatkan.

Akhlak yang baik juga bisa didapatkan lewat pergaulan dengan orang-orang yang baik. Sebab tabi’at itu bisa diibaratkan pencuri, yang bbisa mencuri kebaikan dan keburukan. Hal ini dikuatkan dengan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam, “seseorang itu berada pada agama teman karibnya. Maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat siapa yang menjadi temannya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad)
 (Mukhtasar Minhajul Qashidin : Ibnu Qudamah, hal185-187, (bag.1))

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.