Syari’at Dibuang, Nestapa Menghadang

MPI Lampung - Hari-hari yang kita lalui di zaman ini, betapa sering kita mendengar kasus pencurian, perjudian, mabuk-mabukan, suap menyuap, korupsi, perzinahan, pembunuhan, penipuan, pengkhianatan, aborsi dan bunuh diri.
Jika masing-masing pelaku ditanya tentang alasan yang mereka perbuat, hampir tak ada perbedaan subtansial dari setiap jawaban mereka. Yang satu ingin mereguk kesenangan, yang lain ingin menyudahi penderitaan, dan yang lain tak ingin hidup menderita di masa depan.
Ditambah lagi, situasi yang tak menentu  dan problem multi dimensi yang dihadapi masyarakat, membuat mereka gagap mencari solusi.  Di sisi lain, banyak pilihan cara yang dipublikasikan, berbagai metode ditawarkan, bermacam program dijajakan, yang kesemuanya menarik untuk dijajal.  Maksud hati ingin memperoleh kehidupan yang lapang, namun ujung-ujung justru kembali kepada kesesatan, keruwetan, kebingungan, dan problem yang tak berkesudahan.
Hendaknya kita menyadari, bahwa kembali kepada syari’at adalah solusi yang pasti, sebagaimana akar dari seluruh nestapa dan derita adalah berpalingnya manusia dari syari’at.
Telah ada jaminan pasti, bahwa siapapun yang berpaling dari peringatan Allah, membuang aturan dan syari’at-Nya, niscaya akan berbuah nestapa yang tak ada kesudahannya.  Firman Allah,
Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.  Berkatalah ia, “Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya orang yang melihat” Allah berfirman : “ Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari inipun kamu dilupakan”.(QS. Thaha : 124-126)
Dosis peringatan dalam ayat ini benar-benar tinggi.  Langsung mengena pada akar segala penyakit ruhani berupa kufur, nifak, maksiat dan lainnya dengan ancaman hukum maksimal mencakup hukuman dunia, alam barzakh dan akherat.

Nestapa di dunia

Hukuman bagi siapapun yang berpaling dari syariat, telah dirasakan saat ia masih hidup di dunia. Sempitnya penghidupan didunia akan disandang oleh orang yang berpaling dari ketaatan, lalu cenderung pada hawa nafsu dan bujuk rayu setan.  Derita-derita tersebut serangkai dalam maisyatan dhankan.  Secara bahasa , makna dhankan adalah dhayyiqah syadidah (kesempitan yang luar biasa).
Kalangan mufassirin seperti al-Qasimi, Ibnu Katsir, asy-Syaukani, dan yang lain berpendapat bahwa kesempitan hidup itu terjadi didunia, karena ancaman itu diikuti dengan ancaman ukhrawi pada ayat berikutnya.  Namun ada pula yang menafsirkan , bahwa maksud penghidupan yang sempit adalah disempitkan kuburannya.  Dan tidak ada pertentangan diantara dua penafsiran tersebut.
Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin berkata, “Pendapat yang benar, penghidupan yang sempit itu berlaku baik di dunia maupun di alam barzakh bagi siapapun yang berpaling dari peringatan Allah berupa syariat yang Dia turunkan, maka ia akan merasakan smepitnya hati, suramnya kehiudpan, banyaknya ketakutan, kandasnya angan-angan, kelelahan dunia, bersedih sebelum mendapatkannya, menyesal setelah hilang darinya dan aneka penderitaan yang selalu menyertainya.”
Beliau juga berkata, : “ Jikalau sebagian tidak merasakan penderitaan itu, semata-mata mereka tengah tenggelam dalam mabuk syahwat, segala rasa itu dienyahkan dari hati dan ia tidak mau berfikir tentangnya.
Keadaanya seperti orang yan mabuk khamer, hingga lupa akan masalah yang akan dihadapi, juga terhadap penyakit yang diderita.  Bukan karena masalah itu selesai dengan mabukk, atau penyakit sembuh karenanya. Begitulah keadaan orang yang sedang mabuk syahwat.
Tak ada yang janggal dalam hal ini.  Semua ini sebagai balasan yang setimpal di dunia.  Karena nasib manusia didunia ini sebagaimana keadaan mereka di akherat, amat ditentukan oleh penyikapannya terhadapa syariat.  Siapapun yang berpaling dari syariat, niscaya akan sesat  dan akan mengenyam penderitaan yang dahsyat.  Begitupun sebaliknya, siapapun yang taat terhadap syariat dalam bentuk iman dan amal shalih, niscaya akan nikmat dan selamat.   Sebagaimana Allah berjanji,
Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (Qs. An-Nahl :97)

Terhimpit di alam kubur

Banyak salaful ummah yang menafsirkan bahwa yang imaksud dengan kehidupan sempit dalam firman Allah, “Maka sesungguhnya baginya kehidupan yan g sempit.” (Qs. Thaha : 124)
Adalah azab kubur.  Dan mereka menjadikan ayat ini sebagai salah satu dalil tentang adanya azab kubur.
Abu sa’id Al-Khudri menafsirakn mai’syatan dhonka dalam ayat ini adalah kehidupan sempit yang akan dirasakan didalam kubur. Tafsir ini didukung dengan sebuah riwayat yang oleh syaikh al Albani dinilai hasan, penggalan riwayat yang cukup panjang tersebut adalah :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bertanya, : Tahukah kalian arti Maisyatan dhanka (kehidupan yang sempit) itu? Shahabat menjawab, “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, Rasulullah bersabda, “Itu siksaan bagi orang kafir dikuburnya. Demi jiwa ku yang berada ditangan-Nya, dia akan di umpankan kepda 99 at-tinin. Dan tahukah kalian apa itu at-tinin? At-tinin adalah tujuh puluh ular yang masing-masing memiliki tujuh kepala, ular itu akan mematuk dan mencabiknya hingga hari kiamat.” (HR. Abu Ya’la dan Ibnu Hibban)
Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam Ahmad, ad Daruquthni dan Lainnya yang dinilai shahih oleh Syaikh al Albani disebutkan,
“Adapun orang kafir dan munafik , akan dikatakan kepadanya, “Apa yang engkau ketahui tentang orang ini , Nabi Muhammad? “dia menjawab , “aku tidak tahu. Aku hanya mengatakan seperti apa ayng dikatakan manusia. Lalu dikatakan, “Kau tidak tahu dan tidak membaca.” Lalu dia dipukul dengan palu besi sekali diantara dua telinganya. Diapun berteriak keras hingga terdengar oleh yang ada didekatnya kecuali jin dan manusia. Sebagian mereka berkata “Lalu kuburnya menyempit hingga hancur tulang rusuknya.”


Siksa terakhir yang tak berakhir

Kemudian kalimat wa nahsyuruhum yawm al-qiyamati a’am (dan kami akan menghimpunkan mereka pada hari kiamat dalam keadaan buta).  Secara lahiriah, yang dimaksud dengan a’am (buta) disini adalah hilang atau tidak berfungsinya penglihatan mereka, padahal semasa didunia mereka adalah orang-orang yang dapat melihat.
Cukuplah ini menajdi gambaran yang mengerikan.  Di tempat yang sangat asing dan penuh bahaya, ia akan dikumpulkan dalam keadaan buta dan terlantar. Sebagai balasan sepadan, karena mereka telah mebutakan diri dari petunjuk Allah di dunia, maka Allah apun akan membutakan mata mereka diakherat.
Belum lagi siksa neraka yang menanti.  Imam ath-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan diantara makna penghidupan yang sempit adalah siksa neraka.  Salah satu riwayat dari ibnu zaid menyebutkan, “Kehidupan yang sempit itu ada dineraka, didalamnya ada duri dari api, buah zaqum dan campuran darah dan nanah. Sebenarnya di alam kubur dan juga di dunia hakekatnya tidak ada kehidupan. Kehidupan itu hanya ada di akherat.” (Tafsir ath Thabari XVIII/391)
Itulah balasan bagi yang berpaling dari al_Qur’an.  Semakin total manusia berpaling, semakin utuhlah balasan buruk yang bakalan diterimanya.  Begitupun sebaliknya, semakin total personal maupun komunal dalam berpegang kepada syariat, maka semakin sempurna pula perolehan kebahagiaan yang didapat.  Karena tak ada yang lebih valid kebenarannya daripada aturan Allah.  System kehidupan dari Rabb al’alamin ini juga tidak akan pernah kehilangan relevansinya dengan pergantian zaman.  Sebab tidak ada satupun perkara yang luput dari pengetahuan-Nya, yang tampak maupun yang ghaib, dulu, kini, maupun yang akan datang.  Karena sifat-Nya Yang Maha Bijaksana, maka semua hukum-hukum Allah pastilah adil, dan mustahil zalim, meski terhadap satu orangpun.  Semua hukumnya sempurna tanpa cacat, karena dating dari Dzat Yang Maha Sempurna tanpa cacat.  Wallahu ‘alam (Abu Umar Abdillah/ Anwar, MAJALAH AR-RISALAH)









Diberdayakan oleh Blogger.