Ketika Masjid Mulai Terlupakan


MPI Lampung - Sebuah fakta yang ada di depan mata kita, banyaknya kaum muslimin sekarang yang meremehkan shalat terlebih shalat berjamaah di masjid. Kita dapat perhatikan banyak masjid-masjid yang berdiri megah namun jama’ahnya kosong, hanya segelintiran jama’ah saja yang menghadiri untuk shalat itupun orang-orang yang sudah sepuh (tua), lalu dimanakah kaum mudanya?

Bahkan lebih parah lagi ada sebagian masjid yang hanya dijadikan layaknya sebuah gereja. Bagaimana tidak, masjid ramai dengan jama’ah hanya 1 minggu sekali. Bedanya kalau gereja ramai pada hari minggu, sedangkan masjid ramai pada hari jum’at. Lebih mirip lagi apabila kita perhatikan, masjid ramai jika ada acara-acara besar seperti maulid, isra’ mi’raj (walaupun entah dari mana asal sunnahnya), sedangkan gereja ramai pada acara-acara seperti seperti natal, paskah, dsb.  Lalu dimanakah kaum muslim berada sehingga masjid-masjid menjadi sepi? Apakah jumlah kaum muslim di Indonesia sedikit?

Sebagai seorang muslim kita pasti mengerti tentang kedudukan shalat yang begitu tinggi dalam Islam. Bahkan kita tahu bahwa shalat merupakan perkara pertama yang akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya”. (HR. Abu Daud, At-Tirmizi, An-Nasai, & Ibnu Majah Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dlm Shahih Al-Jami’ no. 2571)

Dari hadits diatas, dapat kita ketahui bahwa shalat merupakan amal ibadah yang paling urgent. Lalu bagaimanakah kita sebagai seorang mu’min menjalankan shalat sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rosulullah shalallahu alaihi wasallam ?Apakah kita harus menjalankan shalat 5 waktu itu di masjid? Ataukah cukup di rumah saja?

Tempat Shalat Bagi Laki-laki
Tempat shalat bagi laki-laki yang sudah baligh pada dasarnya adalah di masjid. Mengenai hukum shalat berjama’ah di masjid para ulama berselisih pendapat, ada 4 pendapat menjadi empat pendapat (sunnah mu’akkad, fardhu kifayah, fardhu ain dan syarat sah) namun pendapat yang kuat  karena dipilih oleh mayoritas para ulama adalah pendapat yang mengatakan fardhu ain.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ (QS. Al-Baqarah: 43)
Imam Ibnu katsir berkata dalam tafsirnya mengatakan, Mayoritas ulama berdalil dengan ayat ini tentang wajibnya wajibnya shalat berjamaah.” (Tafsir Ibnu katsir 1/162)
Allah memerintahkan ruku’ bersama-sama orang-orang yang ruku’, dan yang demikian itu dengan cara bergabung dalam ruku’. Maka ini merupakan perintah menegakkan shalat berjama’ah. (Imam Al-Kasani, Al-Badai’ Ash-Shana’i 1/155)

Dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda,
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku berkeinginan untuk memerintahkan dengan kayu bakar lalu dibakar, kemudian aku memerintahkan agar adzan dikumandangkan. Lalu aku juga memerintah seorang untuk mengimami manusia, lalu aku berangkat kepada kaum laki-laki (yang tidak shalat berjama’ah) dan membakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari 644 dan Muslim 651)

Imam Bukhari membuat bab hadits ini “Bab Wajibnya Shalat Berjamaah”. Al-Hafizh  Ibnu Hajar berkata, “hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa shalat berjamaah fardhu ain, sebab jika hukumnya sunnah maka tidak mungkin Rasulullah mengancam orang yang meninggalkannya dengan acaman bakar seperti itu.” (Fathul Bari 2/125).
Ibnu Mudzir  juga mengatakan serupa, “Dalam hadits ini terdapat keterangan yang sangat jelas tentang wajibnya shalat berjamaah, sebab tidak mungkin Rasulullah mengancam seorang yang meninggalkan suatu perkara sunnah yang bukan wajib.” (Dinukil Ibnu Qoyyim dalam kitan Sholah hal. 136).

Ibnu Daqiq Al-I’ed berkata, “Para ulama yang berpendapat fardhu ain berdalil dengan hadits ini, sebabb jika hukumnya fardhu kifayah tentunya telah gugur dengan perbuatan Rasulullah dan para sahabat yang bersamanya. Dan seandainya hukumnya sunnah tentu pelanggarnya tidak dibunuh. Maka jelaslah bahwa hukumnya adalah fardhu ain. (ikamul Ahkam I/164)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata:
“Seorang buta pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berujar, “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat di rumah, maka beliaupun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, beliau kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar panggilan shalat (azan)?” laki-laki itu menjawab, “Ia.” Beliau bersabda, “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).” (HR. Muslim no. 653)
Ibnu Qudamah berkata, “Kalau nabi saja tidak memberi keringanan kepada orang buta yang tidak ada penuntun baginya maka selainya tentu lebih utama.” (Al-Mughni 2/130)
Al-Khoththobi berkata, “Dalam hadits ini tekandung dalil bahwa menghadiri shalat berjamaah adalah wajib. Seandainya hukumnya sunnah niscaya orang yang paling berhak mendapatkan udzur adalah kaum lemah seperi Ibnu Ummi Maktum.” ( Ma’alim Sunnah I/160-161)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Tidaklah ada tiga orang dalam satu perkampungan atau pedalaman tidak ditegakkan pada mereka shalat kecuali setan akan menguasainya. Berjama’ahlah kalian, karena serigala hanya memangsa kambing yang sendirian” (HR. Abu Daud 460, An-Nasa’i 738, dan Ahmad dalam musnadnya no. 26242)

Dari dalil-dalil di atas dapat kita ambil faedahnya, betapa Allah dan Rasul-Nya sangat menganjurkan apa itu Shalat berjama’ah. Bahkan betapa besar ancaman Rasulullah pada orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjama’ah tanpa adanya suatu udzur. Dan juga betapa besarnya faedah shalat berjamaah hingga seorang yang buta pun tetap diperintahkan oleh Rasulullah untuk tetap mendatangi shalat berjamaah. Seharusnya kita malu terhadap Ibnu Ummi Makhtum, beliau adalah seorang sahabat yang buta namun tetap menjalankan shalat secara berjama’ah. Lalu bagaimana dengan kita yang sehat wal afiat?

Wahai saudaraku, kaum muslimin marilah kita makmurkan masjid-masjid kita. Jangan biarkan masjid kita kosong, jangan jadikan masjid kita seperti gereja yang hanya ramai jama’ahnya satu minggu sekali. Kalau bukan kita lagi yang meramaikan, siapa lagi?

Kita sebagai manusia seharusnya bisa mendahulukan undangan yang Allah berikan ketimbang undangan yang manusia berikan. Namun pada kenyataannya saat ini terbalik, coba kita renungkan, ketika ada undangan untuk menghadiri acara seperti tahlilan, yasinan, slametan, kendurian (walaupun entah dari mana asal sunnahnya) pasti umat islam berbondong-bondong untuk mendatanginya, tetapi ketika Allah subhanahu wa ta’ala mengundang untuk shalat 5 waktu secara berjama’ah di masjid dengan seruan
“Mari menunaikan shalat”

حي على الصلاة 
Apakah umat islam juga berbondong-bondong untuk mendatanginya? Pasti jawabannya tidak. Hanya ada beberapa jama’ah saja yang melazimi shalat berjama’ah. Kita dapat bandingkan jumlah jama’ah yang melaksanakan shalat secara berjama’ah di masjid akan jauh lebih sedikit ketimbang jama’ah yang menghadiri yasinan, tahlilan, slametan, kendurian dsb.

Maka mulai dari sekarang marilah kita penuhi kembali shaf-shaf dalam masjid, kita hiasi masjid kita dengan ketakwaan kepada Allah seperti shalat berjama’ah, mengadakan kajian-kajian islam untuk menambah wawasan, dan yang semisal.

Tempat Shalat Bagi Perempuan
Tampaknya tidak lengkap apabila kita hanya membahas shalat pada kaum adam saja tanpa kaum hawa. Untuk kaum hawa atau perempuan tidak serumit laki-laki, karena sudah jelas bagi perempuan shalat yang lebih utama adalah di rumah, sebagaimana  sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka  (bagi para wanita) tentu lebih baik.” (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani)

Cukup satu hadits saja sudah dapat disimpulkan bahwa perempuan boleh saja ikut shalat berjama’ah di masjid, akan tetapi yang paling utama adalah di rumahnya masing-masing.

Berkata Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits “Janganlah kalian melarang hamba hamba perempuan Allah dari masjid masjid Allah",

Dan yang hadits-hadits semisalnya dalam bab ini, menunjukkan bahwa wanita tidak dilarang mendatangi masjid akan tetapi harus memenuhi syarat syarat yang telah disebutkan oleh ulama yang diambil dari hadits hadits yang ada. Seperti wanita itu tidak memakai wangi wangian, tidak berhias, tidak mengenakan gelang kaki yang bisa terdengar suaranya, tidak mengenakan pakaian mewah, tidak bercampur-baur dengan laki laki, dan wanita itu bukan remaja putri (pemudi) yang dengannya dapat menimbulkan fitnah serta tidak ada perkara yang dikhawatirkan kerusakannya di jalan yang akan dilewati dan semisalnya (Syarah Muslim 2/83)

Wallahu ‘alam bish showab

2 komentar:

  1. Informasi yang sangat baik sahabat, makasih udah berbagi ilmunya moga bermanfaat bagi yang memerlukan.

    BalasHapus
  2. thanks udah berbagi, izin bookmarks ya sob, buat koleksi bacaan

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.