Mengembalikan Citra Muslim, Tidak Bertasyabuh

Kekhas-an seorang muslim kini hampir tak lagi tergambar pada diri saudara-saudara kita. Ciri khas yang seharusnya mengakar dan berbuah pembeda antara muslim dan umat lain, nyatanya rontok sebelum bertunas. Kebanyakan dari kita merasa enggan membangun dan mempertahan-kan citra kemusliman kita. Lantas justru meniru tingkah dan polah orang-orang yang menganut pola (yang mereka katakan) kehidupan modern, yang sejatinya menggiring kita sedikit demi sedikit menuju jurang kesesatan.Tidak lagi nampak identitas-identitas pada saudara kita, yang mengalamatkan dirinya pada manusia yang menjadikan Muhammad sebagai suri tauladan. Sederhana saja, dari gaya rambut, cara berpakaian, penampilan, dan keseharian, semua yang disandang adalah hasil impor dan adaptasi dari jejak-jejak non muslim yang berhasil membuat carut-marut etiket kita sebagai muslim. Tidak perduli yahudi atau nasrani, atau selain keduanya..

Sadarilah wahai saudaraku, kita hanya akan mulia dengan islam. dan tidak ada keraguan lagi untuk mengatakan, sebagaimana Amirul-Mukminin 'Umar Ibnul-Khaththab telah berkata:
"Sesungguhnya Allah telah memuliakan kami dengan Islam, dan jika kami mencari kemuliaan selain Islam, maka pasti, Allah akan menghinakan kami".

Jika kaum Muslimin iltizam (berpegang teguh) dengan agama ini, niscaya kita menjadi umat paling mulia, bahkan menjadi penguasa di muka bumi. Kemuliaan tidak akan diraih, kecuali dengan benar-benar kembali kepada agama yang haq dan iltizam dengannya. Namun, jika kaum Muslimin merasa hina dan merasa rendah dengan Islam, niscaya kita menjadi umat yang terhina, terbelakang dan menjadi umat tertindas, yang bergantung kepada umat yang lain.

Seorang muslim memiliki citra tersendiri yang membuatnya berbeda, dan menjadikannya istimewa. Karena Allah Ta’ala menghendaki agar dia nampak berbeda dari selainnya dari kalangan kafir dan musyrik. Demikian pula Nabi shallallahu alaihi wasallam telah memperingatkan jangan sampai seorang muslim menyerupai orang kafir. Beliau sangat mengharamkan tasyabbuh kepada orang kafir dari sisi penampilan luar. karena bukankah hakekat iman adalah amalan, bukan hanya amalan hati, tapi juga lisan dan perbuatan.

Rosululloh telah melarang kaum muslimin meniru orang-orang kafir dalam banyak hadits, diantaranya dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud no. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 1/676).

Tasyabuh

Secara syari’at, tasyabbuh adalah penyerupaan terhadap orang-orang kafir dengan seluruh jenisnya dalam hal aqidah atau ibadah atau adat atau cara hidup yang merupakan kekhususan mereka (orang-orang kafir). Adapun perkara yang bukan merupakan kekhususan orang-orang kafir, bukan pula termasuk aqidah mereka, bukan pula dari adat mereka, dan bukan pula dari ibadah mereka, yang mana perkara ini tidak bertentangan dengan nash atau pokok dalam syari’at serta tidak menimbulkan mafsadah, maka perkara tersebut tidaklah teranggap sebagai tasyabbuh.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah telah menyebutkan tiga perkara yang teranggap sebagai tasyabbuh atau wasilah menuju tasyabbuh. Beliau berkata dalam Iqtidha` Ash-Shirathal Mustaqim hal. 83, “(Pelaku) tasyabbuh mencakup:
  1. Barangsiapa yang mengerjakan sesuatu karena mereka (orang non-muslim) mengerjakannya, dan ini jarang ditemukan.
  2. Barangsiapa yang mengikuti orang lain (non-muslim) dalam sebuah perbuatan untuk sebuah maksud tersendiri, walaupun asal perbuatan tersebut terambil dari mereka.
  3. Adapun orang yang mengerjakan suatu perbuatan dan kebetulan orang lain (non-muslim) juga mengerjakannya, dia (muslim) tidak meniru (perbuatan tersebut) dari mereka dan demikian pula sebaliknya. Maka perbuatan ini masih butuh ditinjau jika mau dihukumi sebagai tasyabbuh. Hanya saja, (syari’at) telah melarang perbuatan ini agar tidak mengantarkan menuju perbuatan tasyabbuh dan (dengan meninggalkan perbuatan) ini berarti menyelisihi mereka.

Hukum Tasyabbuh.

Setiap bentuk tasyabbuh memiliki hukum tersendiri yang disesuaikan dengan tingkat penyelisihannya terhadap syari’at. Akan tetapi secara global, kita bisa menetapkan suatu hukum umum yang bisa dipakai untuk menghukumi seluruh bentuk tasyabbuh.

Berikut uraiannya:
  1. Kesyirikan dan kekafiran yang mengeluarkan pelakunya dari agama.
    Misalnya: Perbuatan menta’thil (menolak) seluruh nama dan sifat Allah, mengingkari ilmu Allah terhadap taqdir, meyakini Allah Ta’ala menitis ke dalam makhluknya atau Dia berada dimana-mana, dan mengkultuskan sebagian makhluk serta mengangkat mereka sampai ke jenjang ibadah. Semua keyakinan ini diimpor oleh orang-orang zindiq ke dalam Islam dari Yahudi, Nashrani, dan Majusi.
  2. Maksiat dan kefasikan yang dihukumi sebagai dosa besar.
    Misalnya menyerupai mereka dalam masalah ibadah dan adat. Dalam masalah ibadah, contohnya: merayakan Isra Mi’raj yang menyerupai Nashrani dalam kenaikan Isa Al-Masih, merayakan maulid Nabi yang menyerupai mereka dalam natal, tahun baru hijriah yang menyerupai perayaan tahun baru masehi, dan selainnya. Hal itu karena id (hari raya) adalah termasuk ibadah yang kaum muslimin beribadah kepada Allah dengannya, sehingga wajib hanya terbatas pada dalil yang ada (tauqifiyah). Adapun dalam masalah adat, contohnya seperti: makan dan minum dengan tangan kiri, memakai perhiasan emas dan memakai pakaian dari sutera bagi laki-laki, makan dan minum dari bejana yang terbuat dari emas, mencukur jenggot, dan selainnya.
  3. Makruh.
    Yaitu semua perkara yang dalil-dalil, zhahirnya saling bertentangan antara yang membolehkan dan yang melarang. Tetapi, untuk mencegah jatuhnya kaum muslimin ke dalam tasyabbuh yang diharamkan maka bentuk ketiga ini pun telah dilarang oleh syari’at.
Hikmah Diharamkannya Tasyabbuh Kepada Orang Kafir.

Berikut uraian sebagian hikmah pelarangannya yang disebutkan oleh para ulama:
  1. Tasyabbuh kepada orang kafir akan melahirkan kesesuaian dan keselarasan dengan mereka dalam masalah-masalah yang zhahir, seperti cara dan model berpakaian, cara bersisir, cara berjalan dan berbicara, dan demikian seterusnya, yang pada gilirannya mengantarkan kepada kesamaan dalam akhlak, amalan, dan keyakinan, wal’iyadzu billah. Lihat Al-Iqtidha` hal 11.
  2. Tasyabbuh kebanyakannya akan mengarahkan kepada perbuatan mengagumi dan mengidolakan pribadi-pribadi orang-orang kafir, yang pada gilirannya akan membuat dirinya kagum kepada adat, hari raya, ibadah, dan aqidah mereka yang dari awal sampai akhirnya di bangun di atas kebatilan dan kerusakan. Karenanya tidaklah kita dapati ada muslim yang menokohkan orang kafir kecuali padanya ada sikap kurang mengagungkan Islam, jahil dalam masalah agama, dan lalai -kalau kita tidak katakan meninggalkan- dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.
  3. Tasyabbuh akan menumbuhkan benih kasih sayang dan loyalitas kepada orang-orang kafir, dan ini hukumnya -paling minimal- adalah haram dan merupakan dosa besar. Allah Ta’ala menyatakan:“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al-Mujadilah: 22)


Hukum Ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru

Belum lagi selesai, euphoria ritual haram yang dianggap oleh sebagian saudara kita sebagai sebuah toleransi antar umat beragama. Kini umat muslim kembali dihadapkan pada sebuah perayaan syubhat pada pergantian tahun masehi.

Seperti yang kita ketahui , Menurut kesepakatan para ulama (ijma’) mengucapkan Selamat Natal atau perayaan keagamaan mereka lainnya kepada orang-orang Kafir adalah haram hukumnya. Dan barangsiapa yang melakukan sesuatu dari hal itu, maka dia telah berdosa, baik melakukannya karena basa-basi, ingin mendapatkan simpati, rasa malu atau sebab- sebab lainnya, karena ia termasuk bentuk peremehan terhadap Dienullah dan merupakan sebab hati orang-orang kafir menjadi kuat dan bangga terhadap agama mereka.

Bahkan, Ibnu al-Qayyim sampai menyatakan bahwa mengucapkan selamat kepada orang-orang Kafir berkenaan dengan perayaan hari-hari besar keagamaan mereka haram dan posisinya demikian, karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang mereka lakukan dan meridhai hal itu dilakukan mereka sekalipun dirinya sendiri tidak rela terhadap kekufuran itu, akan tetapi adalah HARAM bagi seorang Muslim meridhai syi’ar-syi’ar kekufuran atau mengucapkan selamat kepada orang lain berkenaan dengannya, karena Allah Ta’ala tidak meridhai hal itu,sebagaimana dalam firman-Nya,

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” [Az-Zumar:7]
Dan sebentar lagi, penanggalan masehi akan berganti tahun. Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Sampai-sampai mereka rela dan sabar menunggu larut malam, hanya untuk meniup terompet tanda pergantian tahun. Namun bagaimanakah pandangan Islam mengenai perayaan tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan?

Bisa dikatakan semua sumber yang ada tentang merayakan tahun baru dihukumi haram. Beberapa alasan di antaranya.
  • Merayakan tahun baru merupakan perbuatan yang menyerupai orang kafir, sabda rasulullah menjelaskan bahwa: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia adalah sebagian dari mereka,” (HR. Abu Daud).
  • Perayaan Tahun Baru Masehi adalah Ibadah Orang Kafir. Sejak nasrani mulai jaya di Eropa, malam tahun baru menjadi satu kesatuan peribadatan dengan Natal. Sehingga bisa dikatakan bahwa perayaan tahun baru adalah haram bagi kaum muslimin.
  • Perayaan Tahun Baru Masehi dalam Islam adalah Bid’ah. Perayaan semacam ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah dan perlu ditekankan bahwa syariat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sudah tuntas dan tak ada yang tertinggal.
  • Pada malam Tahun Baru Masehi banyak terjadi perbuatan maksiat; menye-nyiakan waktu; hura-hura/boros; melalaikan dari shalat malam; dll. 
Ya Alloh, Engkaulah dzat yang tak mengingkari janji. Muliakanlah kaum Muslimin dengan diennya, menganugerahkan keteguhan hati, kemantapan iman, dan memberikan pertolongan kepada Muslimin terhadap musuh-musuh mereka, sesungguhnya Engkau Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Allohu alam bi shawwab

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.