Hadits-Hadits Amal Setara Haji dan Umrah yang Shahih


Hari ini saudara-saudara kita mulai berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan kewajiban mulia, ibadah haji.

Banyak orang mendambakan bisa menunaikan ibadah haji ini. Namun sebagian belum diberikan rezeki untuk berangkat, sebagian lain sudah mampu tetapi terkendala oleh kuota negaranya dan beberapa alasan lain. Atau sebagian menggunakan bahasa iman, “Belum dipanggil oleh-Nya.” Sebab bila Allah sudah memanggil, yang miskin pun bisa berangkat.

Ala kulli hal, ada amal dan pahala dalam setiap keadaan bagi muslim yang cerdas. Termasuk amalan yang pahalanya setara dengan pahala haji dan umrah. Ya, banyak. Tetapi perlu diperhatikan manakah yang shahih dan dhaif. Berikut kami sebutkan hadis-hadis yang menunjukkan amal berpahala setara haji dan umrah itu.

Catatan: Untuk memudahkan pemahaman, saya hanya menyebutkan status hadisnya saja. Bagi yang ingin melihat perawi dan detil ulasannya menurut ahli hadis silakan merujuk ke kitab-kitab hadis.

1. “Sekelompok orang-orang fakir miskin datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong semua kedudukan yang tinggi serta kebahagiaan yang abadi dengan harta memreka. Mereka shalat dan berpuasa sebagaimana yang kami lakukan. Akan tetapi mereka mempunyai harta untuk menunaikan haji; umrah dan bersedekah.”  Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Sukakah kalian saya ajarkan sesuatu yang dapat mengejar orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian, dan tidak ada yang lebih utama dari kalian, kecuali mereka melakukan seperti yang kalian lakukan?” Mereka menjawab, “Baiklah ya Rasulullah.” Rasulullah SAW lalu bersabda, “Setiap selesai sholat bacalah olehmu Tasbih (Subhanallah); Tahmid (Alhamdulillah) dan Takbir (Allahu Akbar) masing-masing sebanyak 33 kali.” (Shahih; HR Bukhari).

2.  “Barang siapa shalat Shubuh berjamaah, kemudian duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu shalat dua rakaat, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah secara sempurna, sempurna, sempurna.” (Shahih; Shahih Al-Jami’ hadits no. 6346).

3.  “Barang siapa berjalan untuk shalat wajib berjamaah maka itu pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dan ihram. Barang siapa berjalan untuk shalat sunnah maka itu seperti pahala umrah.” (Hasan; Shahih Al-Jami’ hadits no. 6556).

4. “Barang siapa berjalan untuk shalat wajib dalam keadaan sudah suci (berwudhu di rumah), maka ia seperti mendapatkan pahala orang yang berhaji dan ihram….” (Shahih; HR Ahmad).

5.    “Shalat di masjid Quba’ itu seperti umrah.” (Shahih; Shahih Al-Jami’ hadits no. 3872).

6.    “Siapa yang bersuci di rumahnya kemudian datang ke masjid Quba’ dan shalat di dalamnya maka ia mendapatkan pahala seperti pahala umrah.” (Shahih; Shahih At-Targhib, 1181)

7.    “Umrah pada bulan Ramadhan itu bagaikan haji bersamaku (Nabi saw).” (Shahih; Shahih Al-Jami’ hadits no. 4098).

8.    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada seorang wanita Anshar, “Apa yang menghalangimu untuk ikut berhaji bersama kami?” Ia menjawab, “Kami tidak memiliki kendaraan kecuali dua ekor unta yang dipakai untuk mengairi tanaman. Bapak dan anaknya berangkat haji dengan satu ekor unta dan meninggalkan satu ekor lagi untuk kami yang digunakan untuk mengairi tanaman.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Apabila datang Ramadhan, berumrahlah. Karena sesungguhnya umrah di dalamnya menyamai ibadah haji.” (Shahih; Shahih At-Targhib, 1117).

9.    “Siapa yang menyiapkan bekal untuk orang yang akan berjihad, ibadah haji, mencukupi keluarga yang ditinggalkan atau memberi makan orang yang buka puasa maka ia mendapatkan pahala seperti pahala mereka tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (Shahih; Shahih At-Targhib, 1078).

10.    Siapa yang pergi ke masjid—dan tidak ada yang diinginkan selain belajar tentang kebaikan atau mengajarkannya—maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji yang sempurna.” (Hasan Shahih; Shahih At-Targhib, 86).

Itulah hadits-hadits keutamaan amal yang pahalanya menyamai pahala haji dan umrah. Beberapa catatan penting  yang perlu kita pahami adalah:

1.  Sesuai kaidah “Ilmu sebelum amal”, maka tahapan setelah proses pengetahuan shahih dan dhaif adalah mengamalkan, agar kita tidak terjebak pada perdebatan saja tanpa pengamalan hadis.

2.  Keutamaan itu juga berlaku bagi Muslim yang telah beribadah haji. Perhatikan sabda beliau “Kecuali mereka mengerjakan seperti yang kalian kerjakan.”

3.  Tidak dipahami bahwa bila telah mampu, kita tidak perlu haji lagi ke Tanah Suci karena pahalanya sudah kita dapatkan dengan semua amal tersebut.

Terakhir, yang perlu kita perhatikan adalah menjaga stamina iman kita agar istiqamah. Allah tidak akan bosan memberikan pahala selama kita tidak bosan beramal.

Ditulis oleh Agus Abdullah

sumber : kiblat.net

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.