Khutbah Idul Adha 1435 H: Membina Semangat Persatuan dan Pengorbanan Untuk Islam

Khutbah Idul Adha 1435 H: Membina Semangat Persatuan dan Pengorbanan Untuk Islam

Memahami Hakekat Tauhid dari Ibadah Kurban dan Haji

Oleh: Ustadz Miftahul Ihsan LC

الحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ ، أَحْمَدُهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِمُحَامِدِهِ الَّتِي هُوَ لَهَا أهْلٌ ، وَأُثْنِي عَلَيْهِ الخَيْرَ كُلَّهُ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْهِ هُوَ جَلَّ وَعَلَا كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ ، أَحْمَدُهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ المُتَوَالِيَةِ وآلَائِهِ المُتَتَالِيَةِ وَعَطَايَاهُ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى ، أَحْمَدُهُ جَلَّ وَعَلَا حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَاركَاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ جَلَّ وَعَلَا وَيَرْضَى ، أَحْمَدُهُ جَلَّ وَعَلَا عَلَى نِعْمَةِ الإِسْلَامِ وَعَلَى نِعْمَةِ الإِيْمَانِ وَعَلَى نِعْمَةِ القُرْآنِ وَعَلَى كُلِّ نِعْمَةٍ أَنْعَمَ بِهَا عَلَيْنَا فِي قَدِيْمٍ أَوْ حَدِيْثٍ أَوْ خَاصَةٍ أّوْ عَامَةٍ أَوْ سِرٍ أَوْ عَلَانِيَةٍ ، اَللّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِلهَ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ وَقَيُّوْمُ السَمَوَاتِ وَالأَرْضِيْنَ وَخَالِقُ الخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ وَآمِيْنُهُ عَلَى وَحْيِهِ وَمُبَلِّغُ النَّاسِ شَرْعَهُ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر ولله الحمد

ثم أما بعد



Kaum muslimin dan muslimat, Jamaah Shalat Iedul Adha yang dirahmati Allah ta’ala……

Hari ini, kita berada di lapangan ini dengan melantunkan takbir, tahmid dan tahlil mengagungkan Dzat yang menciptakan kita, Dzat yang memelihara kita dan Dzat yang senantiasa terbangun mengawasi perilaku kita.

Sementara di belahan lain dari bumi ini, di Makkah Al-Mukarromah, ribuan bahkan jutaan kaum muslimin seluruh dunia saat ini sedang menjalankan rangkaian ibadah haji. Mereka berasal dari berbagai negara, berbagai suku bangsa, berbagai bahasa untuk melaksanakan satu kewajiban, dengan satu pakaian, satu warna dan satu tujuan.

Barangsiapa yang merenungkan dan mengamati ritual ritual haji, maka ia akan mendapati banyak pelajaran-pelajaran berharga dalam ritual ibadah haji. Dan yang paling jelas dan gamblang adalah, ritual haji mengajarkan kita semua akan tauhid. Iya tauhid. Pengesaan dan pengagungan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dalam wujud ibadah. Dengan sebab Tauhid inilah umat Islam dimusuhi, diperangi dan dipenjara, tapi dengan tauhid ini pulalah seorang hamba akan menghadap Allah dengan kepala tegak, senang dan penuh kebanggaan di hari akhir kelak. Karena selamat dan tidaknya seorang di akhirat tergantung kepada tauhidnya.

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar

Saat memulai ritual haji, saat para jamaah haji mengenakan pakaian ihram, saat jemaah haji melewati miqat, maka pada saat itulah mereka diperintahkan untuk melantunkan talbiyah :

لبيك اللهم لبيك , لبيك لا شريك لك لبيك, إن الحمد و النعمة لك و الملك لا شريك لك

Kalimat talbiyah ini merupakan kalimat tauhid, sebagaimana diceritakan oleh sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu :

فأهل بالتوحيد : لبيك اللهم لبيك , لبيك لا شريك لك لبيك, إن الحمد و النعمة لك و الملك لا شريك لك

Artinya : “ Maka Nabi pun mengucapkan kalimat Tauhid, Ya Allah kami penuhi seruan-Mu, kami penuhi seruan-Mu yang tiada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya segala bentuk pujian, dan segala kenikmatan adalah hanya milik-Mu yang tiada sekutu bagi-Mu “.

Kalimat talbiyah mengandung 2 rukun tauhid, yaitu :

1. Itsbat, yaitu mengakui bahwa sesungguhnya Allah adalah dzat yang disembah, ini tercantum dalam kalimat “Labbaikallahumma labbaik” (Ya Allah kami penuhi seruanmu), memenuhi panggilan Allah sama artinya dengan mengakui bahwa Allah adalah Dzat yang berhak disembah.

2. Nafyu, menafikan adanya sesembahan lain selain Allah. Hal ini tertuang dalam kalimat “Labbaika laa syarika laka“ (Kami penuhi panggilanMu dan tiada sekutu bagiMu) yang dengan kalimat talbiyah ini seorang hamba mengakui bahwa tidak-ada sesembahan lain yang berhak disembah kecuali Allah.

Inilah hakekat Tauhid, beribadah kepada Allah, dan menafikan sesembahan lain selain Allah. Hal ini jelas berbeda dengan talbiyah yang dilantunkan orang-orang musyrik saat mereka melakukan haji. Mereka berkata : “labbaika la syarika laka labbaik, illa syarikan huwa laka, tamlikuhu wama malak” yang artinya: “ Ya Allah kami penuhi seruanMu, Tiada sekutu bagiMu, kecuali sekutu yang engkau kehendaki, yang Engkau miliki dan segala sesuatu yang menjadi kepunyaanMu “.

Sungguh kalimat talbiyah orang-orang kafir Quraisy 180 derajat berbeda dengan kalimat talbiyah yang diucapkan oleh-orang-orang beriman.

Tidak hanya talbiyah, bahkan saat selesai thawaf pun, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat 2 rokaat yang disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa beliau membaca Surat Al Ikhlas dan Al Kafirun.

Mari lebih jauh kita pahami makna surat Al Ikhlas yang merupakan sebuah ikrar tauhid dari hambanya. Surat yang dalam banyak riwayat disebutkan sebagai sepertiga Al-Qur’an ini menjelaskan sifat-sifat rububiyah Allah, yang dengan sifat-sifat itu Allah menjadi Dzat yang berhak diibadahi.

قل هو الله أحد ألله الصمد . لم يلد ولم يولد . و لم يك له كفوا أحد

Artinya : Katakanlah hai Muhammad, Allah itu satu. Allah tempat bergantung. Tidak beranak dan juga tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu apapun yang mampu menandinginya. (QS. Al Ikhlas: 1-4)

Adapun surat Al Kafirun, jelas ayat ini adalah permakluman untuk tidak berkompromi dengan kesyirikan dan sesembahan lain selain Allah. Saat orang-orang kafir Quraisy mulai putus asa membujuk Nabi Muhammad untuk meninggalkan dakwah tauhidnya, akhirnya mereka mencoba menempuh cara-cara kompromi. Yaitu dengan menawarkan kepada Muhammad untuk bergantian menyembah sesembahan mereka, dan sebagai gantinya mereka juga akan bergantian menyembah Allahnya Nabi Muhammad. Seketika itu pula Allah turunkan surat ini, ya, surat yang dibaca oleh Nabi saat beliau melaksanakan shalat 2 rokaat setelah thawaf. Inilah tauhid, inilah tauhid yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadah haji.

Berbicara tentang haji sepertinya tidak lengkap kalau kita tidak membicarakan tokoh utama dalam peribadatan haji ini, siapa lagi kalau bukan Khalilullah Ibrahim alaihis salam. Syariat haji yang Allah wajibkan kepada umat ini, sebagian besar di antara urutan-urutan ritual itu didasari atas peristiwa yang dialami oleh Nabiyyullah Ibrahim alaihis salam bersama keluarganya. Saat beliau diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkan sang istri tercinta dan anak yang masih bayi di sebuah lembah yang tidak berpenghuni. Lembah yang kering kerontang. Tapi sebagai istri yang salehah, saat Hajar mengetahui ini adalah perintah Allah, maka dengan hati lapang beliau melepas kepergian Ibrahim.

Sosok Nabi Ibrahim yang Akrab dengan ritual haji ini ternyata juga merupakan sosok yang tidak lepas dari perjuangan akidah al-wala’ wal bara’ (loyalitas dan anti loyalitas). Sosok yang kuat dalam kebenaran, cerdas yang dengan kecerdasannya beliau mampu memutarbalikkan logika kekufuran yang dibangun oleh kaumnya. Hal ini ditandai dengan kisah beliau yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Saat beliau menghancurkan berhala-berhala orang musyrik dan mengalungkan kapak kepada berhala yang paling besar. Sontak orang-orang musyrik kaget dengan hancurnya sesembahan-sesembahan mereka. Mereka menyidang Ibrahim dan bertanya siapakah yang melakukan ini semua. Dengan enteng Nabi Ibahim menjawab, “ Yang melakukan adalah berhala yang paling besar”. Sebagai buktinya yaitu, kapak berada pada berhala yang paling besar. Dengan jawaban yang cukup cerdas ini Ibrahim berhasil membungkam orang-orang musyrik tersebut, karena pada dasarnya mereka mengetahui bahwa tidak mungkin patung-patung tersebut bisa berbuat seperti itu. Mereka orang-orang musyrik tahu betul bahwa patung yang mereka sembah tidak bisa bicara, apalagi mendatangkan manfaat ataupun menghindarkan madharat. Dengan ini Ibrahim telah menelanjangi kesyirikan kaumnya.

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar

Tidak hanya itu, Ibrahim juga merupakan sosok yang tegas terhadap kesyrikan dan kekufuran, hal ini tercermin dalam perkataan beliau yang diabadikan dalam Al-Qur’an:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن شَيْءٍ ۖ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Artinya : “Dan telah ada bagi kalian suri tauladan dalam diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamnya, saat mereka berkata kepada kaum mereka : “ sesungghnya kami berlepas diri dari kalian dan apa-apa yang kalian sembah selain Allah. Kami kufur terhadap kalian, dan nampaklah antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian selamanya, sampai kalian beriman hanya kepada Allah. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya saya akan memintakan ampun kepadamu dan sungguh saya tidak punya hak apa-apa terhadapmu di hadapan Allah.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Kalimat ini merupakan permakluman anti loyalitas yang diikrarkan oleh Ibrahim dan pengikutnya kepada orang-orang musyrik. Kalimat yang mencerminkan kelurusan tauhid, kebersihan hati dan keyakinan akan janji Allah.

Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala….

Saat kita mencoba memaknai haji, kita tidak akan terlepas dari tauhid, karena keterkaitan keduanya amat sangat erat sekali, keterkaitan ini bisa dilihat dari tokoh sentral haji yaitu Ibrahim alaihissalam juga merupakan seorang pejuang tauhid yang sering disebut dalam Al-Qur’an.

Perjuangan Tauhid, menegakkan kalimat Allah merupakan inti dakwah para rasul, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat An Nahl ayat 36 :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

Artinya : “Dan telah kami utus kepada setiap umat para rasul agar mereka menyambah Allah dan menjauhi thoghut.” (QS. An Nahl : 36)

Dan sejarah mencatat bahwa perjuangan tauhid tidaklah mudah.

Karena memperjuangkan tauhid lah Nabi Nuh alaihis salam didustakan oleh kaumnya, diperolok bahkan didurhakai oleh istri dan anaknya. Kaum Nabi Nuh menjadikan orang-orang shaleh yang hidup sebelum mereka sebagai sesembahan selain Allah. Inilah awal mula kesyirikan menimpa umat manusia, kesyirikan yang disebabkan karena ghuluw dan berlebih-lebihan dalam mengagungkan orang-orang shaleh. Walaupun didustai oleh kaumnya, Nabi Nuh alaihissalam tetap teguh berdakwah. Beliau tidak lelah apalagi bosan, padahal selama 950 tahun berdakwah, hanya 11 orang yang menjadi pengikutnya.

Zaman terus berubah tapi pergulatan tauhid versus syirik, haq versus batil tetap ada. Kali ini yang menjadi lakonnya adalah Nabi yang paling banyak disebut dalam Al-Qur’an. Kurang lebih 183 kali Nabi Musa disebut dalam Al-Qur’an. Semua kita pastinya tahu bagaimana Nabi Musa menghadapi kekufuran Fir’aun pada masa itu. Setelah sebelumnya beliau menjadi keluarga kerajaan, tapi kemudian dakwah tauhid yang beliau serukan membuat Fir’aun murka hingga akhirnya memerintahkan bala tentaranya untuk menangkap Nabi Musa alaihis salam .

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar

Dan pada akhirnya lakonpun berganti, kali Ini Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikenal Al Amin oleh bangsa Quraisy menjadi musuh utama saat beliau mendakwahkan tauhid, saat beliau menyeru kepada sesembahan yang satu, saat beliau berlepas diri dari tuhan-tuhannya orang quraisy.

Dan demi mempertahankan tauhid pulalah akhirnya Salahuddin Al Ayyubi bersumpah tidak akan tersenyum sampai Baitul Maqdis dikembalikan kepangkuan umat Islam.

Dan perlu kita ingat pula bahwa perjuangan-perjuangan yang dilakukan oleh kakek-kakek kita adalah perjuangan tauhid, perjuangan jihad fi sabilillah demi mempertahankan keislaman yang dijajah oleh kafir Belanda. Yang mereka kenal hanyalah berperang melawan kafir Belanda demi mempertahankan keislaman dan harga diri mereka. Maka kita dapati dalam sejarah bahwa leluhur kita menggunakan istilah jihad fi sabilillah dalam perang melawan Belanda, Diponegoro menyeb utnya dengan perang sabil yang merupakan singkatan dari sabilillah. Bung Tomo menggunakan kalimat takbir untuk mengobarkan semangat umat Islam untuk memerangi Belanda.

Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala….

Sebetulnya ada beberapa pelajaran bagi umat ini yang bisa kita ambil dari ritual ibadah haji :

Pertama: Semangat persatuan umat Islam

Ibadah haji menunjukkan keseragaman umat Islam, walaupun mereka berbeda ras, berbeda bangsa, berbeda bahasa, berbeda pekerjaan, berbeda dalam banyak hal, tapi setidaknya haji mengajarkan kepada kita bahwa kita punya identitas bersama. Kita beribadah kepada Rabb yang satu, kita shalat menghadap kiblat yang sama, bacaan yang sama. Seharusnya identitas keislaman dan keimanan dapat menjadi ikatan yang paling kuat antara sesama muslim. Sebuah ikatan yang mendobarak batas-batas negara, sebuah ikatan yang bahkan lebih kuat dari ikatan nasab sekalipun. Bukti bahwa ikatan ini lebih kuat dari segala ikatan apapun terpampang di hadapan mata kita. Bagimana Nuh meninggalkan anaknya yang mendurhakai dakwahnya, bagaimana seorang Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul meminta izin kepada Rasul untuk membunuh bapaknya yang seorang gembong munafik dikarenakan bapaknya menyakiti hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana pula Abu Bakar Ash Shiddiq menantang anaknya Abdurrahman bin Abu Bakar yang berperang di barisan kaum musyrikin. Kalau bukan karena larangan dari Rasul untuk berduel dengan anaknya, niscaya duel seorang bapak yang muslim dan anak yang kafir akan terjadi. Apa yang akan dilakukan oleh Abu Bakar kiranya sudah dilakukan oleh Abu Ubaidah bin Jarrah saat beliau berduel dengan bapaknya yang berada di barisan kaum musyrikin. Potongan-potongan cerita di atas menegaskan satu hal, yakni ikatan keislaman lebih kuat dari ikatan nasab sekalipun.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا

Artinya: “Dan berpegang teguhlah kalian pada tali Allah secara keseluruhan dan janganlah kalian berpecah belah.” ( QS. Ali Imran: 103 )

Ibnul Arabi dalam tafsir Ahkamul Qur’an, menyebutkan ada 3 jenis perpecahan yang dilarang oleh Allah:

1. Perpecahan dalam masalah akidah, perpecahan yang dimaksud adalah berbeda dalam masalah pokok-pokok tauhid, seperti rukun iman dan rukun islam dan pokok pokok tauhid lainnya. Lain halnya jika perbedaan itu dalam masalah yang menyangkut detail-detail permasalahan tauhid di mana para ulama sendiri cukup toleran dalam masalah itu.

2. Perpecahan dalam masalah kehidupan sosial. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لا تَبَاغَضُوا ، وَلا تَحَاسَدُوا ، وَلا تَدَابَرُوا ، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا ، وَلا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاثِ لَيَالٍ

Artinya : Janganlah kalian saling membenci, jannganlah kalian saling iri dengki, janganlah saling membelakangi, janganlah saling memutus hubungan silaturahmi, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.Dan tidak diperbolehkan seorang muslim mendiaman saudaranya lebih dari 3 hari. (Muttafaqun alaih)

3. Saling menyalahkan dalam perkara-perkata yang sifatnya ijtihadiyah. Karena pada dasarnya perbedaan-perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama tidak membuat mereka berpecah, tidak membuat mereka saling menyalahkan dan menjelekkan satu sama lain. Justru sebaliknya perbedaan-perbedaan pendapat membuat mereka saling menghormati pendapat yang lain.

Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala….

Mungkin hadits Nabi yang satu ini bisa menggambarkan keadaan umat Islam hari ini

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ كَمَا تَتَدَاعَى الأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا ، قُلْنَا : مِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ : لا ، أَنْتُم يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ ، يَنْزَعُ اللَّهُ الْمَهَابَةَ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ وَيَجْعَلُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ، قِيلَ : وَمَا الْوَهَنُ ؟ قَالَ : حُبُّ الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ” .

Artinya : “ Dari Tsauban, maula nabi SAW berkata : Bahwa Rasulullah bersabda : “ telah dekat masanya umat-umat yang lainnya dari berbagai penjuru saling berebut atas kalian ( umat islam ) sebagaimana mereka siap berkumpul untuk memakan sebuah hidangan. Kami bertanya : “ Apakah karena sedikitnya jumlah kita saat itu ? Rasul bersabda : Tidak, bahkan jumlah kalian saat itu sangat banyak, tapi kalian ibarat buih, Allah cabut rasa takut dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah jadikan di dalam hati kalian penyakit Wahn, Rasul ditanya : Apa itu Wahn ? Rasul bersabda : Cinta dunia dan takut mati . ( HR : Abu Daud dan Ahmad )

Apakah kita tidak melihat jumlah umat Islam di dunia hari ini? Dalam sensus penduduk dunia tahun 2013, agama Islam menjadi agama dengan jumlah pemeluk terbesar di dunia, iya umat terbesar sedunia dengan prosentase 22.43% dari 7.021.836.029. Penduduk dunia. Tapi apa yang terjadi? Dengan jumlah yang begitu banyak justru umat Islam hari ini mengalami penindasan di mana-mana. Di Palestina, di Yaman, di Pattani, di Rohingya dan di Syiria. Dan yang lebih mengherankankan lagi, negara-negara yang berpenduduk Islam mayoritas hanya diam saja melihat penindasan itu, ada yang lebih baik sedikit itupun hanya mengecam. Dan yang lebih parah adalah justru pemerintahan negara-negara yang berpenduduk Islam tersebut justru malah membantu Amerika dalam menindas kaum muslimin. Mereka justru membantu agenda Amerika memerangi terorisme, begitu kata Amerika, yang sejatinya adalah perang terhadap umat Islam.

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar

Hal ini dikarenakan umat bercerai berai, berpecah belah, maka dari itu musuh-musuh Islam berani menginjak-injak tanah umat Islam, mereka berani menodai simbol-simbol Islam. Ketercerai beraianlah yang membuat ini lemah, perpecahanlah yang membuat umat ini tidak lagi disegani. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya : Dan taatlah kalian kepada Allah dan rasulNya dan janganlah kalian berpecah belah, sehingga menyebabkan hilangnya kekuatan kalian (QS. Al Anfal: 46)

Maka dengan semangat kebersamaan dan persatuan dalam ibadah haji, marilah kita semua rapatkan barisan, hilangkan ego kelompok, kesampingkan kepentingan golongan, agar nantinya hati kita bisa bersatu sebagaimana bersatunya jasad- jasad umat Islam yang saat ini sedang melaksanakan ibadah haji di Makkah Mukarramah sana.

Kedua: Semangat untuk Memberikan Pengorbanan

Haji merupakan ibadah yang membutuhkan pengorbanan, baik harta maupun jiwa. Dahulu sebelum transportasi menuju Makkah orang-orang yang berhaji dihadapkan pada ancaman dari perampok yang senantiasa mengintai mereka diperjalanan. Resikonya pulang dengan tangan hampa atau malah terbunuh. Walaupun transportasi menuju Mekah hari ini sudah relatif lancar, tapi untuk naik haji, khususnya bagi jamaah haji Indonesia harus mengeluarkan kocek yang tidak sedikit. Kurang lebih 30-40 juta rupiah dana yang dikeluarkan untuk naik haji. Belum lagi resiko meninggal karena sakit dan berdesak-desakan yang dialami jamaah haji di Mekah sana. Jadi tidak hanya pengorbanan harta tapi seorang yang ingin naik haji juga harus siap kehilangan jiwa. Maka pantas saja Rasulullah mengatakan kalau haji adalah jihadnya wanita. Karena pengorbanan yang ada dalam ibadah haji hampir mirip dengan pengorbanan dalam ibadah jihad. Dalam sebuah hadits disebutkan

عن عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها قالت استأذنت النبي صلى الله عليه وسلم في الجهاد فقال جهادكن الحج

Artinya : Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata : Saya meminta izin kepada rasul untuk berjihad, rasulullah SAW bersabda : Jihadnya kalian ( para wanita ) adalah berhaji. (HR : Bukhari)

Haji mengajarkan kita semangat pengorbanan, yang hari ini hal ini sudah hampir hilang di diri umat Islam. Berkorban demi menegakkan agama Allah dengan segala resikonya, berkorban demi tersebarnya ajaran Islam ini ke seantero dunia. Agaknya kita perlu belajar kepada Abu Bakar yang menginfakkan seluruh hartanya demi kepentingan jihad fi sabilillah, juga kepada Umar yang berkorban separuh hartanya, dan Utsman yang saat Madinah dilanda paceklik datanglah barang dagangan Utsman dari Syam, para saudagar Madinah waktu itu rela membayar berkali lipat barang dagangan Utsman. Tapi Utsman enggan menjual barang dagangannya, dan barang dagangan tadi diberikan cuma-cuma kepada penduduk Madinah. Sungguh sebuah pengorbanan yang mulia.

Tapi hari ini, seolah-olah sebagian besar dari umat terjangkiti penyakit Wahn, cinta dunia, cinta harta dan takut mati, takut miskin. Sehingga menjadikan mereka manusia-manusia yang egois, manusia yang memikirkan diri sendiri. Mereka lebih memilih hidup nyaman, aman dan tentram di saat saudara-saudara sesama muslim menjerit meminta tolong, di saat saudara sesama muslim menangis sedih, di saat saudara sesama muslim tidak memiliki makanan untuk dimakan.

Maka dari itu kaum muslimin dan muslimat sekalian, dengan memahami ibadah haji secara mendalam marilah kita tingkatkan semangat berkorban kita untuk agama kita. Karena pengorbanan dari kita-kitalah yang akan membuat umat ini kembali menegakkan kepalanya, pengorbanan kitalah yang nantinya membuat umat ini kembali disegani, pengorbanan kitalah nantinya yang akan menjadi tabungan amal saleh kita di akhirat.

أقول قولي هذا واستغفرالله لي ولكم ولسائر المؤمنين والمؤمنات فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar

Kita akhiri khutbah pada pagi hari ini dengan berdoa kepada Allah Ta’ala



            الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

         اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَ انْصُرْهُمْ علَىَ عَدُوِّكَ وَ عَدُوِّهِمْ. اَللَّهُمَّ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَ يُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَ يُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ. اَللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمِهِمْ وَ زَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَ أَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الظَّّالِمِيْنَ.

     اَلَّلهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَ أَصْلِحْ لَناَ دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

      الَّلهُمَّ ارْزُقْنَا قَبْلَ اْلَمْوتِ تَوْيَةً وَعِنْدَ الْمَوْتِ شَهَادَةً وَ بَعْدَ الْمَوْتِ رِضْوَانَكَ وَ الْجَنَّةَ. اللَّهُمَّ أَحْيِنَا مُؤْمِنِيْنَ طَائِعِيْنَ وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ تَائِبِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأّلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَ عَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ وَ الْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَ النَّجَاةَ مِنَ النَّارِ. اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُوْرِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الأَخِرَةِ.

      اللَّهُمَّ ارْفَعْ رَايَةَ الْإِسْلَامِ فَوْقَ الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى وَأَخْلِصْهَا مِنْ أَيْدِي الْيَهُوْدِ وَ النَّصَارَى اللَّهُمَّ احْفَظِ الْعُلَمَاءَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلَصِيْنَ وَ قُوَادَ الْمُجَاهِدِيْنَ وَ ثَبِّتْهُمْ عَلىَ مَنْهَجِ نَبِيِّكَ وَ السَّلَفِ الصَّالِحِيْنَ وَ اهْدِهِمْ سَبِيْلَ الْهُدَى وَ الرَّشَادِ وَوَفِّقْهُمْ لِلْحَقِّ وَ مُتَابَعَتِهِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا لاَتَجْعَلْنَا فِتْنَةً للذين كفروا واغفرلنا ربنا إنك أنت العزيز الحكيم

رَبَّنَا لاَتَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ونجنا برحمتك من القوم الكافرين

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآإِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآإِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَطَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.

والحمد لله رب العالمين

sumber : kiblat.net

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.