MIUMI Jakarta: Jangan Hanya Tangkap Tukang Sate, Tangkap Juga Penghina Isteri dan Sahabat Nabi SAW

Fahmi Salim
Jakarta – Penangkapan terhadap MA(23), seorang pembantu tukang sate memicu beragam tanggapan. Salah satunya dari ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Jakarta, Ustadz Fahmi Salim, MA.
Menurut Fahmi, kepolisian harus bersikap profesional dan tidak tebang pilih dalam penegakan hukum. Jika penghina presiden harus ditangkap. Maka penghina sahabat Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa Salam juga haru ditangkap.
“Pak Polisi tolong tangkap para penghina istri dan sahabat nabi Muhammad! Mereka menjadikan hinaan sebagai doktrin dan ajaran yang diwariskan dari generasi ke generasi,” kata pria yang juga pengurus MUI pusat ini, dalam rilisnya yang diterima Kiblat.net, pada Rabu (29/10).
“Menghina presiden saja dilarang bagaimana kalau menghina simbol-simbol Islam seperti Isteri dan sahabat baginda Nabi SAW?” Tanya dai lulusan Al-Azhar Mesir ini.
Persoalan delik hukum, menurut Fahmi, kepolisian tidak akan kesulitan mencari pasal yang cocok untuk menjerat penghina simbol-simbol Islam. Sebab, pasal penghinaan agama sudah diatur oleh negara.
“Kalau ada alasan, tidak ada pasal KUHP dan ITE soal ini, saya katakan sangat ada, RI masih punya UU.No.1 PNPS 1965 tentang larangan Penodaan Agama,”pungkasnya.
Seperti diketahui, MA (23) pemuda yang tinggal di rumah kontrakan di tepi kali, Jalan Haji Jum RT 09 RW 01, Kelurahan Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur itu ditangkap polisi dengan tuduhan menghina Presiden Joko Widodo.
MA ditangkap empat petugas Bareskrim berpakaian sipil pada Kamis 23 Oktober. Pria yang bekerja sebagai buruh pembuat tusuk sate itu lalu ditahan setelah menjalani pemeriksaan 1×24 jam.
Ibunda MA, M, pun syok berat saat mengetahui anaknya ditangkap. Hampir setiap hari M menangis karena tak menyangka sang anak harus berurusan dengan pihak kepolisian.
Pengacara MA, Irfan Fahmi, mengatakan, M berencana memohon maaf kepada Presiden Jokowi agar anaknya dibebaskan. “Ibunya ingin bersimpuh di hadapan orang-orang yang dirugikan anaknya, mau minta maaf,” ujarnya seperti dikutip dari okezone.
Irfan menjelaskan, MA memposting sesuatu yang dianggap menghina Jokowi saat masa kampanye Pilpres Juli 2014. Dia biasa mengakses internet melalui warung internet yang tak jauh dari rumahnya.
“Saat musim Pilpres itu dia dimasukan ke dalam grup yang isinya saling membully antara capres A dengan capres B. Dia memposting baik berupa teks maupun gambar yang sudah beredar di media sosial,” tuturnya.
Karena tergabung dalam grup yang saling membully tersebut, lanjut Irfan, maka MA juga melakukan hal yang sama. “Karena terjebak dalam situasi seperti itu, maka dia ikut-ikutan membully dan posting saling serang,” tuturnya.
Jokowi Dinilai Anti Kritik
Wakil Sekertaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Demokrat menilai penangkapan itu cermin dari sikap Jokowi yang antikritik. “Sangat anti kritik kalau seperti ini kejadiannya, atau jangan-jangan kita menuju suatu revolusi mental yang mengarah kepada otoriter,” ujar Andi kepada Okezone, Rabu (29/10/2014).
Menurut Andi, Presiden Joko Widodo baru delapan hari dilantik namun sudah ada rakyat kecil yang ditangkap karena mengkritik.
“Ini sangat luar biasa, bagaimana kalau sudah sebulan, setahun, apalagi lima tahun ke depan. Jangan-jangan Indonesia akan lebih kelam daripada zaman Orde Baru,” tegasnya.
Dia pun membandingkan dengan Susilo Bambang Yudhoyono yang kerap dihina dan difitnah tetapi tidak pernah menangkap orang. Karenanya, dia meminta kepada aparat kepolisian agar membebaskan MA untuk kehidupan Indonesia yang demokratis.
“Saya minta kepada Kepolisian agar membebaskan yang bersangkutan, demi untuk kehidupan yang demokratis,” pungkasnya.
Penulis: Qathrunnada


sumber : kiblat.net

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.