Saat Dialog, Penulis “Berjenggot Lebih Dekat ke Bid’ah” Dinilai Tak Kuasai Materi

Dialog Ilmiah Syar'iyyah di Gedung rektorat Universitas Hasanudin, Makassar.
Makassar – DR Mahmud Suyuti, Ketua MATAN Sulawesi sekaligus Dosen pada salah satu perguruan tinggi Islam di Makassar yakni Universitas Islam Makassar (UIM) ditantang untuk berdialog, setelah menerbitkan tiga tulisan yang menghujat sunnah Nabi SAW di sebuah media ternama di Sulawesi Selatan.
Lembaga Dakwah Kampus – Mahasiswa Pencinta Mushallah Universitas Hasanudin (LDK MPM Unhas) sebagai pihak penyelenggara menantang DR Mahmud Suyuti dalam diskusi untuk mempertanggung jawabkan tulisannya.
Dialog ilmiah syar’iyah bertajuk “Ketika Sunnah-sunnah Mulia Digugat” itu digelar pada Ahad, 19 Oktober 2014 di lantai 1 Gedung Rektorat Unhas.
Sebagai pembandingnya, dihadirkan Ustadz Muhammad Yusron Anshar, Lc, MA. Beliau adalah alumni S1 Jurusan Hadits pada Universitas Islam Madinah, mahasiswa paska sarjana dan calon Doktor Hadits di Mediu Malaysia. Saat ini, Ahmad Yusron menjabat sebagai Mudir Sekolah Tinggi Islam & Bahasa Arab-STIBA Makassar.
Tulisan Mahmud Suyuti di Tribun Timur.
Tulisan Mahmud Suyuti di Tribun Timur.
Salah seorang panitia acara, Aswin menuturkan dialog ini diinisiasi oleh UKM LDK MPM Unhas untuk mengklarifikasi tulisan-tulisan DR Mahmud Suyuti di Tribun Timur. Menurutnya, tulisan Mahmud cenderung memojokkan umat Islam.
“Keduanya dipertemukan supaya ada kejelasan dan keterbukaan secara ilmiah agar semuanya bisa tercerahkan dengan benar,” ujar Aswin yang masih menempuh studi di Fakultas MIPA ini.
Dirinya juga bersyukur karena atas izin Allah SWT, acara yang disiapkan kurang lebih hanya 1 minggu ini berlangsung dengan tertib sesuai harapan. “Alhamdulillah, peserta yang datang memenuhi kantor rektorat hingga membludak sampai di luar ruangan, meski publikasi hanya disampaikan melalui jejaring sosial saja,” tambahnya.
Menurut sumber Kiblat.net di Makasar, DR Mahmud Suyuti terlihat kewalahan menghadapi materi yang disampaikan oleh pembicara kedua Ust Muhammad Yusran Ashar. Mahmud berkilah, metode penelitian setiap orang berbeda-beda.
Ia juga menjelaskan bahwa tulisannya di Tribun Timur itu bukan untuk mencari popularitas sama sekali. Menurutnya, judul yang muncul di media juga dari redaksi Tribun, bukan dari dirinya sendiri.
Acara dialog yang dimulai pukul 09.30 itu selesai pada pukul 11.30 WITA. Sekitar 500 peserta putra dan putri, mayoritas di antaranya mahasiswa dan akademisi mengikuti jalannya acara dengan tertib. Tidak terdengar suara tepuk tangan dari peserta, meski sesekali terdengar sahutan-sahutan kecil saat DR Mahmud Suyuti melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial.
Salah seorang peserta dialog, Arifudin Faisal mengaku tertarik mengikuti acara dialog ini karena temanya sangat penting, apalagi sebelumnya ia sudah membaca tulisan-tulisan DR Mahmud Suyuti. Pegawai PNS pada Dinas Kependudukan Kabupaten Maros ini mendapat informasi digelarnya acara diskusi dari siaran pesan via BBM.
Pada awalnya, Arifin mengaku sependapat dengan Mahmud Suyuti karena menurutnya sangat masuk akal. Apalagi dirinya sampai sekarang juga masih isbal (memanjangkan celana di atas mata kaki, red). Tapi, setelah mengikuti acara dialog ini dia mengaku mendapat tambahan ilmu dan berubah pikiran.
“Pemaparan Ustadz Yusron lebih ilmiah dan menguasai materi, apalagi banyak sekali hadits dan ayat yang disampaikan. Berbeda dengan Mahmud Suyuti yang kurang menguasai materi dan lebih banyak mengutip perkataan orang dan pendapatnya pribadi,” ujar Arifin kepada Kiblat.net, Ahad, (19/10).
Tiga buah tulisan pada kolom Tribun Timur berjudul “Tidak Isbal bukan Sunnah”, “Berjenggot Lebih Dekat ke Bid’ah”, dan “Cadar Bukan Pakaian Muslimah” yang ditulis oleh DR. Mahmud Suyuti menuai protes keras dari berbagai kalangan. Mulai dari akademisi, tokoh agama hingga masyarakat awam bereaksi menanggapi tulisan tersebut.
Reporter: Ahmad (Makasar)
Editor: Fajar Shadiq
Sumber : kiblat.net

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.