Beratnya Memegang Amanah

Bayangkan jika kita sibuk bekerja di kantor, teman-teman yang lain malah bercanda, main game, atau tidur-tiduran. Namun begitu pimpinan datang, buru-buru mereka kembali ke meja kerja dan nampak seolah-olah sibuk bekerja. Atau pekerjaan yang kita serahkan kepada orang lain gagal total karena orangnya tidak amanah. Malas banget kan?
Padahal sebagai orang Islam, kita bertanggung jawab atas kualitas suatu pekerjaan yang diberikan kepada kita. Baik kewajiban itu berhubungan dengan hak-hak Allah, maupun hak-hak sesama manusia. Baik kewajiban itu bernilai tinggi ataupun tampak remeh. Kita ingin agar ia berjalan atau mencapai tujuannya sesuai dengan yang seharusnya. Atau kita ingin menempatkan sesuatu pada tempatnya secara layak dan patut. Inilah yang disebut amanah. Lawannya adalah khianat.
Selain mengedepankan tanggungjawab, orang yang amanah lebih sadar akan resiko pilihan tindakannya. Oleh karena itu, orang yang amanah akan menyeleksi apa-apa yang bisa dikatakan sejujurnya dan apa-apa yang tidak perlu dikatakan. Dia juga bisa memelihara hak-hak Allah dan hak-hak manusia pada dirinya. Dengan sikap seperti itu, dia tidak pernah menyia-nyiakan tugas yang diembannya, baik tugas ibadah maupun muamalah.
Mengetahui Caranya
Tentu saja kita sangat senang jika orang-orang yang bekerja sama dengan kita berlaku amanah. Seperti kita yakin, mereka pun menginginkan kita berlaku seperti itu juga. Selain menjamin kerja sama itu berjalan dengan baik dan Insya Allah barakah, perilaku amanah adalah tindakan terpuji yang mengamankan batin. Tapi, bagaimana caranya?
Yang pertama harus kita fahami, bahwa berlaku amanah merupakan kewajiban yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Sehingga setiap kali kita menerima sebuah tugas, tekad untuk menjaganya secara amanah adalah pengejawantahan dari ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Juga keinginan untuk menjadikannya sebagai sarana taqqarub kepada-Nya. Yang bila kita ikhlas, akan mendatangkan keridhaan dan pahala di sisi-Nya. Insya Allah.
Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (QS. an-Nisâ’: 58)
Sementara Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tunaikanlah amanah kepada siapa yang memberikan amanah kepadamu, dan janganlah engkau mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR. at-Tirmîdzî)
Yang kedua, mengenali dan menyesuaikan karakter pekerjaan dan karakter diri. Hal ini harus kita lakukan karena setiap kita memiliki karakter yang berbeda-beda, sehingga tidak semua jenis tugas dan pekerjaan cocok dengan karakter kita.
Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam pernah menolak permintaan Abu Dzar akan sebuah jabatan karena mengerti karakternya yang tidak sesuai dengan jabatan yang diminta. Beliau berkata, “Wahai Abu Dzar, engkau itu lemah sedang ia adalah amanah. Sesungguhnya pada hari kiamat nanti ia adalah kehinaan dan penyesalan. Kecuali siapa yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan (kewajian) atasnya dalam hal tersebut.”

Kenali Kemampuan
Berikutnya adalah mengenali kemampuan diri dan bobot pekerjaan. Mengingat bobot kewajiban yang tidak sama dan sejumlah keterbatasan yang kita miliki, kualitas maupun kuantitasnya, menyebabkan tidak semua pekerjaan akan mampu kita laksanakan dengan sikap amanah yang baik. Beberapa jenis kewajiban menghajatkan sejumlah ilmu dan ketrampilan khusus, yang tidak semua manusia memilikinya. Sehingga sebagian manusia menjadi ahli dan pakar di satu bidang pekerjaan, tapi tidak di bidang yang lain. Intinya jika merasa tidak mampu, janganlah kita memaksakan diri, sebab hal itu sangat berbahaya.
Setelah itu, saat memiliki pekerjaaan yang harus diserahkan kepada orang lain, kita harus menempatkan orang sesuai dengan kapabilitasnya, bukan karena pertimbangan keuntungan yang tersebunyi atau nepotisme. Kalau tidak, berarti kita telah membuka peluang munculnya pengkhianatan, sehingga kita hanya menunggu kegagalan dan kehancurannya. Rasulullah pernah menjawab pertanyaan seorang Arab Badui tentang kedatangan hari akhir, “Apabila amanah telah ditelantarkan, yaitu jika suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya.” (HR. al-Bukhârî)
Kenali Area dan Fokus
Ketika kita telah ‘terikat’ dengan satu pekerjaan, sesungguhnya waktu kita di dalam mengerjakan pekerjaan itu telah menjadi miliknya. Hal yang menyebabkan semua bentuk tindakan di luar area pekerjaan dan yang tidak menjadi bagiannya terlarang untuk dikerjakan. Sebab meski tidak semua berujud materi, setiap pekerjaan pasti memiliki upahnya sendiri. Termasuk upah bernama ridha Allah.
Jika saat kita menerima gaji merasa keberatan dengan banyaknya ‘potongan’ yang menyebabkan pendapatan kita berkurang, bukankah sang pemilik pekerjaan pun tidak ingin waktu bekerja kita berkurang karena sibuk mengerjakan pekerjaan lain bukan? Seringkali, kita malah merasa terganggu saat ada pengawasan ketat di saat bekerja, namun tidak merasa bersalah ketika menggunakan jam kerja untuk tidur, main game, atau malah mengerjakan pekerjaan lain.
Untuk itu, kita harus mengenali area pekerjaan kita. Mana yang boleh dan mana yang tidak. Kemudian berusaha untuk fokus pada pekerjaan itu. Hal ini agar kita tidak terkena salah satu ciri orang munafik; apabila diberi amanah, berkhianat. Karena sebagaimana nasihat anak perempuan Nabi Syu’aib kepada bapaknya agar mengangkat Musa sebagai pegawai, “..karena sesungguhnya, orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja adalah yang kuat lagi amanah.” (QS. al-Qashshash: 26)
Jujur dan Ikhlas
Sebagai manusia, fitrah kita pada dasarnya baik, jujur, lugu, berketuhanan, dan memiliki rasa keadilan. Tetapi, kita juga memiliki syahwat dan nafsu yang cenderung menuntut pemuasan mendesak. Di sisi lain, sudah menjadi sunnah kehidupan bahwa daya tarik keburukan itu lebih kuat dibanding daya tarik kebaikan. Sebab untuk menggapai kebaikan orang harus berfikir dalam dan ‘jauh’, sementara keburukan justru menggoda dengan argumen praktis dan instan.
Karena itulah kita harus mengikhlaskan niat dan menjaga kejujuran saat memikul sebuah pekerjaan. Jangan gampang tergoda dengan godaan instan yang menjebak demi keuntungan pribadi. Termasuk mengurangi hak Allah, seperti kewajiban ibadah, hukum-hukum halal haram seputar pekerjaan itu, maupun hak harta semisal infaq, shadaqah, atau zakat.
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian mengetahui.” (QS. al-Anfâl: 27)
Bentuk ‘berkhianat’ mencakup pelanggaran amanah dengan melakukan dosa-dosa kecil dan dosa-dosa besar, yang berdampak pada diri seseorang, ataupun orang lain. Dengan demikian, Insya Allah, kita akan menjadi pemegang pekerjaan yang amanah dan bisa dipercaya. Sehingga tidak ada lagi bentuk-bentuk pengkhianatan yang memalukan dan muatan-muatan tendensi pribadi yang tidak perlu. Kita harus percaya, bahwa Allah Maha Melihat segalanya.

Wallâhu a’lam. (trias/ www.ar-risalah.or.id)
Diberdayakan oleh Blogger.