Masalah Moral dan Akhlak, Biar Kami Urus Sendiri

MPILampung.org - Belakangan ini sedang ramai dan hangat-hangatnya perbincangan mengenai salah satu acara yang paling kontroversial di dunia remaja ibukota DKI Jakarta, salah satu Event Organizer (tidak usah disebutkan namanya) mengadakan sebuah acara bertajuk pool party diperuntukkan bagi pelajar SMA yang baru saja menyelesaikan ujian nasional (UN), ya anggap saja semacam pesta ucapan selamat tinggal bagi SMA dan UN yang sudah susah payah mereka jalani selama kurun waktu yang lama. Dirayakan dengan party tentu adalah hal yang istimewa dan dapat membuat kesan bagi kehidupan masa muda.
Kebebasan ekspresi tanpa rambu agama (fotocommunity.it)
Meskipun acaranya akhirnya gagal terlaksana, dan beberapa pihak berkilah untuk tidak bertanggung jawab atas acara tersebut namun bukan berarti perbincangannya berhenti sampai disitu saja. Pasca tereksposnya isu tersebut secara luas kemedia, banyak kalangan yang menyampaikan perbedaan pendapat menanggapi masalah tersebut. Tentunya kebanyakan orang Indonesia menyampaikan penolakan dan bahkan sampai kecaman atas acara tersebut, sebut saja menteri pendidikan yang sampai mengeluarkan statement kekecewaan mengenai acara tersebut. Tidak sedikit juga yang mendukung acara tersebut, mereka buru-buru menolak argumen-argumen orang banyak bahwa remaja Indonesia saat ini mulai tercemari dengan acara semacam pool party/bikini party yang sangat kebarat-baratan. Bagi mereka, mengikuti tradisi barat adalah kemajuan, karena tolak ukurnya adalah hasil atau produk bukan moral atau akhlaq.
 
Bicara soal moral, bangsa Indonesia pun tidak sepakat untuk berdiri di atas moral pribadi maupun moral publik. Kenapa harus ada keduanya?, moral pribadi harus ada karena kaitannya bagaimana diri sendiri menghadapi lingkungan sekitarnya dengan standar-standar yang dibangun atas kesadaran pribadi hasil dari didikan rumah, keluarga dan sekolah. Moral publik juga tidak boleh dihilangkan, karena urusannya adalah diri kita sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dan menjadi bagian dari sebuah sistem masyarakat. Ada saatnya masyarakat melakukan judgement atau penilaian dari perbuatan yang kita lakukan, dan itu adalah sebuah kontrol alamiyah yang akan selalu ada. Orang tidak bisa menghindar dari penilaian orang lain terkait moral publik karena masyarakat biasanya akan menerima sebuah perbuatan dan bahkan mendukung jika hal tersebut sesuai dengan moral yang disepakati. Sebaliknya, masyarakat akan mengecam jika tidak sesuai dengan moral yang disepakati bersama.

Untuk kasus pool party ini, banyak anggapan salah soal standar moral. Masih banyak yang beranggapan kalau masalah moral itu adalah masalah pribadi yang mana orang lain tidak berhak atau tidak perlu punya urusan untuk masalah ini. Jadi kalau dibahasakan “urus saja moral masing-masing, tidak usah urusi moral orang lain”, atau “ga usah sok bersih dan sok munafik”, ungkapan-ungkapan seperti ini yang justru sejatinya sangat berbenturan dengan budaya bangsa, ajaran agama dan norma masyarakat. Seakan-akan cara berpikir kita diajak agar melepaskan sebebas-bebasnya pikiran dan jiwa manusia kita, membenarkan segala bentuk perbuatan yang menyenangkan diri pribadi saja dan menghilangkan nilai-nilai sosial. Kenapa banyak orang yang sangat mempermasalahkan acara tersebut?, karena masyarakat kita sadar betul bahwa yang terlibat dalam acara itu ada bagian dari masyarakat itu sendiri, bagian dari anak bangsa yang urusannya adalah kepentingan orang banyak, bukan kepentingan pribadi atau golongan saja. Setiap dari kita pasti mempermasalahkan jika salah satu anggota keluarga kita, misalnya adik perempuan kita terjerumus ke dalam tindakan amoral seperti minum-minuman keras, narkoba atau perzinaan. Hal itu dikarenakan kita sebagai sebuah keluarga menganggap kehormatan anggota keluarga lain adalah urusan yang tidak bisa diganggu gugat dan tidak bisa ditawar-tawar. Maka kita berlakukan analogi yang sama kepada remaja-remaja bangsa di mana pun berada, sebagai sebuah kesatuan yang dipersatukan oleh kesamaan budaya dan kesamaan bangbangsa, kita memperlakukan kesatuan tersebut layaknya seorang adik perempuan yang kehormatannya harus diperjuangkan. 

Jika kita mengetahui bahwa acara tersebut tidak berhasil dilaksanakan, jangan berpikiran tidak ada acara yang serupa tanpa sepengetahuan kita di belakang sana. Bisa jadi bentuk acaranya berbeda, namun intinya adalah merusak moral remaja kita. Kesadaran untuk memperbaikinya merupakan tanggung jawab keluarga, sistem pendidikan dan pribadi kita pula masing-masing. Kita tidak bisa mengharapkan bangsa lain untuk mengurusi permasalahan remaja kita, maka kita yang membenahi apa yang masih kurang dan apa yang terlanjur ternoda. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya berbuat amoral didepannya, maka si anak melakukannya di belakang tanpa sepengetahuan orang tuanya, setelah anaknya hancur tentu orang tualah yang akan menyesal dikemudian hari. Begitu juga sebagai sebuah bangsa, jika generasi muda kita melakukan perbuatan menyelisihi budaya dan agama, maka bangsa ini pula yang kelak akan merasakan penyesalan di kemudian hari. Maka solusi terbaik adalah menjadikan segala aspek kehidupan kita mulai dari urusan berkeluarga, pendidikan, berorganisasi, berniaga dan lain-lainnya senantiasa berada dalam frame Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits bukan berlandaskan standar manusia yang terkadang berubah-ubah sesuai dengan dorongan tabiat. 



Penulis: Musthafa Akhyar
Editor: Khoththob
Diberdayakan oleh Blogger.