Kuliah Foya-Foya, Kerja Semena-Mena Mati Mau Dibawa Ke Mana?



MPILampung.org - Pemuda adalah sosok yang patut disemaikan orientasinya. Tampaklah kini orientasi para pemuda ini semakin gersang. "World Oriented" semakin marak dan menjamur luas. Betapa panu adalah sebuah momok memalukan bagi seseorang, terlebih wanita. Panu disebabkan oleh jamur yang penyebarannya begitu cepat memberikan warna tersendiri. Jika hidup penuh warna bisa membuat gembira, namun ketika warna itu disebabkan oleh panu maka gembira pun akan pupus.

Teringat kisah seseorang yang kini sudah tidak muda lagi. Ya, mereka adalah ayah-ayah kita. Sesekali ajaklah untuk membahas kisah masa mudanya. Banyak sekali kisah perjuangan yang akan kita dapatkan. Salah satunya adalah perjuangan untuk menempati bangku perkuliahan. Ada di antara mereka yang harus menempuh perjalanan puluhan Kilometer untuk sekedar mendapatkan gelar sebagai pak guru. Dulu ada yang namanya Sekolah Rakyat, sekolahnya para calon guru. Semuanya gratis dan memang diperuntukkan bagi masyarakat agar menjadi masyarakat cerdas.

Banyak di antara orang tua kita yang bersusah-payah pada waktu Shubuh mengantarkan dagangan ke pasar. Setelah itu mereka tinggal sebentar untuk sekolah dan kemudian setelah pulang mereka berjualan. Ada pula yang bersekolah sembari berjualan. Tidak sedikit pula yang menempuh pendidikan tinggi dengan biaya sendiri karena merantau ke luar daerahnya. Mereka hidup dari berjualan hingga menjadi buruh di pasar. Faktanya sekarang perjuangan itu menghasilkan kita anaknya yang sudah tidak menempuh perjuangan seberat itu lagi.

Kuliah Foya-Foya
Sadarkah kita, motor atau bahkan mobil yang kita bawa ke kampus sebagian besar masih numpang dari hasil keringat orang tua. Meskipun sudah ada yang mandiri namun jumlahnya tidaklah lebih dari 10% dari penduduk kampus. Hidup penuh gaya dan menghambur-hamburkan uang orang tua. Lucu jika melihat anak-anak kampus hobi makan di warung makan yang disebut "Cafe". Harga es jeruk jika di warteg cuma Rp 2.000, di cafe bisa jadi Rp 10.000. Hei,,,gak usah sok artis deh.

Padahal, uang Rp 5.000 itu jika dibawa ke Angkringan (warung makan pinggir jalan khas Jogja-Jateng) maka sudah cukup puas dengan Nasi + Gorengan + es jeruk. Lebih sedikit pun paling cuma habis 6 ribuan. Ingatlah, kita masih anak kos yang sebagian biaya hidup masih disokong hasil keringat orang tua, jangan dihambur-hamburkan hanya untuk mengejar gengsi.

Belanja yang ketika di rumah biasanya cuma dipasar murah yang serba obral, ketika hidup di kawasan kampus berubah menjadi artis dadakan. Semua perabot hasil transaksi bareng nyonya Mall. Jika sudah mulai terjuan dalam dunia pacaran, tidak segan-segan mengajar pacaranya makan Pizza, nonton di bioskop dan lain-lain.

Kerja Semena-mena
Hasil dari perilaku yang foya-foya tersebut banyak membuat kita tertipu dengan tujuan masuk kampus. Tujuan yang semestinya dihabiskan untuk mencari ilmu tergantikan dengan rutinitas wisata kuliner dan shopping. Dengan begitu usai sudah kuliah dan tersisalah para wisudawan "kopong" (Kopong adalah bahasa serapan dari bahasa daerah yang artinya kosong). Kerja memerlukan keseriusan dan pertanggungjawaban.

Hendak ke mana akhirnya kita?
Harap penuh kepada Pemegang taqdir bahwasanya yang tertulis adalah bahwa kita termasuk penghuni surga. Namun sudahkah kita bercermin terhadap perilaku kita. Sudahkah kita berperilaku sebagaimana calon penghuni surga?

Sungguh surga itu diliputi oleh segala kepahitan dan neraka itu dikelilingi oleh hal-hal yang manis. Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasuulullaah shollallaahu ’alayhi wasallam bersabda,

 حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ 

“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)

Jika memang kita mengharap bahwa ujung dari kematian kita kelak adalah sebagai penghuni surga, maka marilah kita berubah. Kuliah dengan sungguh-sungguh, kerja dengan hati yang gembira, ibadah sesuai sunnah dan surga pun menanti kita. (Khothob)
Diberdayakan oleh Blogger.