Mahasiswa Mubadzir, Kampus-Kantin-Kamar



MPILampung.org - Banyak pemuda yang sejatinya ingin mencapai cita-cita tinggi. Ia rela menghabiskan masa-masa bermainnya untuk mengumpulkan dana guna memenuhi cita-citanya. Masih ada mereka yang jauh hidup di pedalaman ingin keluar dari rimba untuk mencapai gelar sarjana.

Tak tampak asing jika berkelana di tengah hiruk-pikuk kampus. Bisnis paling subur di kawasan kampus adalah rumah makan. Banyaknya kantin membuat mata kesulitan menentukan hendak ke mana mata tertuju hingga hati pun berkata kantin burjo yang mewarnai kehidupan Jogja. Beda kota tentu akan beda menu yang tersedia. Namun faktanya kehidupan ala mahasiswa tak jauh beda.

Mahasiswa yang berkarakter pelajar tentu lebih suka menghabiskan waktunya dengan belajar, belajar dan belajar. Sayangnya ia terkotak pada kehidupan kampus yang sekedar mendidiknya untuk menjadi seorang pelajar. Justru dalam kehidupan bermasyarakat, keterampilan dalam mengelola emosi, retorika, perilaku dan pergaulan jauh berfungsi daripada rumus Mekanika Kuantum. 

Bedanya penduduk asli dengan anak kos pun cukup tampak. Di kota-kota besar semisal Jogja, justru penikmat wisata kuliner yang begitu banyaknya itu disinggahi oleh para mahasiswa kos. Mahasiswa yang merupakan pribumi pun lebih memilih untuk menikmati masakan ibu. Maklumlah, harganya sudah tidak seperti dulu yang segelas es teh saja cuma seharga Rp 500-1000. Kini semua harga telah naik. Namun tidak mengerdilkan minat untuk singgah di rumah makan atau kantin.

Pola kehidupan mahasiswa pun kini sudah sedikit bergeser. Menyibukkan diri pada kegiatan perkuliahan membuat diri semakin sibuk untuk segera lulus. Padahal justru ketika menjadi mahasiswa itulah, pencarian jati diri akan semakin tampak.

Jangan jadi mahasiswa mubadzir!
Mahasiswa yang mubadzir adalah ia yang menghabiskan masa-masa menjadi mahasiswa hanya seputar kampus-kantin-kamar. Ia tidak memiliki kehidupan lain selain kuliah. Banyaknya kegiatan ekstrakurikuler hendaknya dimanfaatkan untuk menambah bekal ketika terjun ke masyarakat. Betapa ilmu manajemen itu bisa didapatkan dengan mengikuti organisasi semisal BEM, HMJ dan lain-lain.

Dalam menjalani kehidupan sebagai manusia, kita dituntut untuk memahami tujuan, maksud dan jalan hidup yang diturunkan untuk dilalui. Sebagai seorang mahasiswa muslim, hendaknya mengisi waktunya dengan kegiatan-kegiatan islami yang tertata.

Profesi terbaik dalam kehidupan manusia adalah meneruskan tugas para Nabi. Menegakkan Islam dalam setiap posisi. Jika statusnya sekarang adalah sebagai mahasiswa maka lakukan tugas mulia itu sesuai porsi sebagai mahasiswa. Betapa banyak lembaga dakwah mahasiswa yang memberikan wadah untuk belajar menjadi seorang penerus risalah para Nabi. Jika pun enggan, maka tidaklah mengapa karena keuntungan dan kerugian itu bukanlah terletak pada Islam tapi pada diri kita sendiri. Sungguh peranan mahasiswa untuk menyelamatkan rekan-rekan mahasiswa lain yang mulai tergerus arus zaman EDAN ini adalah penting.

Luangkanlah waktu ke majlis ilmu syar'i!
Belajar tentang ilmu yang sesuai dengan fakultas yang kita sukai adalah penting. Namun ada sisi yang lebih penting namun senantiasa dikesampingkan. Ilmu agama amatlah penting sebagai rem, gas dan juga helm. Ilmu agama akan bertugas sebagai rem agar kita tidak terjerumus dalam kesesatan. Ilmu agama akan bertugas sebagai gas agar kita lebih semangat menuai pahala. Ilmu agama akan bertugas sebagai helm agar kita selamat dalam mengarungi dunia yang brutal ini.

Ikutilah organisasi-organisasi dakwah kampus
Jangan takut dengan labelisasi sok alim, sok suci atau semisalnya. Bukankah kita memang bukan orang suci? Justru kitalah yang berusaha untuk mendapat rahmat Allah agar termasuk dalam orang-orang yang disucikan dari dosa-dosa. Pilihlah organisasi dakwah kampus yang akan membawamu dalam atmosfer lain perjuangan mahasiswa. Raihlah pahala dan jadilah mahasiswa yang punya ideologi Qurani, bukan mahasiswa mubadzir yang tak peduli akan terevaporasinya Islam dari kehidupan kampus. (Khothob)
Diberdayakan oleh Blogger.