Haid, Bukan Berarti Berhenti Beramal

Mpilampung.org - Pada kesempatan kali ini, kami ingin membahas problema yang seringkali menjangkiti kaum muslimah, yaitu tentang kondisi haid yang seringkali membuat muslimah mengalami penurunan amal shalih yang sangat signifikan.
Wanita adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan sangat istimewa, Allah mengaruniakannya dengan berbagai kelebihan yang menjadi karakteristik dari seorang wanita. Banyak muslimah memandang kondisi haid atau menstruasi sebuah waktu dimana seorang muslimah terbebas dari banyak amal ibadah dan tak jarang pada kondisi tersebut para muslimah terjerumus ke dalam kefuturan (kondisi lemah semangat dari beramal shalih) atau memang menjadikan haid sebagai alasan untuk sengaja bermalas-malasan, padahal sebenarnya banyak aktivitas amal shalih lainnya (selain shalat, puasa, thawaf, berdiam di masjid dan lain sebagainya) yang bisa dilakukan untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah.

Pada saat haid, kondisi hormonal membuat emosi para muslimah terkadang lebih labil dan sensitif daripada biasanya ditambah dengan tidak banyak melakukan amal shalih sehingga menyebabkan ruhiyah menjadi kering, dan futur. Padahal hakikatnya, haid bukanlah suatu kelemahan. Haid adalah salah satu tanda dan bukti kekuasaan Allah yang ditujukan untuk menjaga kondisi tubuh wanita.
Rahim wanita yang berfungsi sebagai rahim peradaban yang kelak akan menghasilkan generasi-generasi penerus perjuangan Islam, telah Allah lekatkan suatu sistem yang kompleks dan unik di dalam diri seorang wanita untuk dijaga dengan sebaik-baiknya demi terjaganya fungsi pewarisan generasi Islam yang unggul. Dalam sebuah hadits dikatakan;

"....dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid." (HR. Malik, Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa'i, juga Ibnu Majah)

Kemuliaan posisi seorang wanita pada hakikatnya ditunjang dengan kondisi fisik wanita yang diciptakan Allah dengan sedemikian kompleks. Adanya rahim, fungsi kontrol oleh hormon esterogen, progesterone, ovarium, dan komponen-komponen fisik lainnya yang kadang tidak kita sadari akan keberadaan dan fungsinya yang sedemikian penting. Bahkan nyeri haid atau dismenore yang banyak dirasakan remaja putri selama haid, yang terkadang menyebabkan rasa sakit serta rasa tidak nyaman, apabila ia bersabar, maka sesungguhnya pahala yang ia dapatkan sesuai dengan besarnya kesabaran, begitu pula dengan lelahnya seorang ibu yang mengandung, melahirkan dan menyusui, tidak diragukan lagi jika ia bersabar maka ia akan mendapat pahala yang sesuai dengan besarnya kesabaran.Firman Allah yang artinya:  

"Maka rasa sakit akan melahirkan anak-anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma..." (QS. Maryam:23)

Jadi, sangat penting untuk mengubah paradigma berpikir seorang muslimah yang memandang bahwa masa haid adalah masa beristirahat dari aktivitas ibadah, masa yang bisa dijadikan alasan bermalas-malasan, masa yang dianggap tanda berhenti beramal bagi seorang wanita, serta pandangan-pandangan negatif lainnya, karena masa haid adalah masa di mana seharusnya syukur dan sabar tetap berada dalam diri seorang muslimah. Bersyukur karena datangnya haid sebagai indikasi normalnya sistem hormonal yang akan menunjangnya untuk meraih gelar istimewa, dan bersabar karena wanita haid tidak diperkenankan melaksanakan shalat, puasa, thawaf, berdiam di masjid, dan berhubungan badan (bagi yang sudah bersuami).

Akan tetapi, masa haid adalah kondisi yang masih sangat memungkinkan untuk tetap melakukan banyak amal shalih yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Amalan yang bisa dilakukan ketika haid misalnya dengan meningkatkan intensitas dzikir (dzikir pagi-sore dan dzikir lainnya yang sangat banyak dalam aktivitas sehari-hari); bermunajat di sepertiga malam terkahir meskipun tidak dengan shalat malam atau qiyamullail, akan tetapi kita tetap  bisa membersihkan diri kemudian bermunajat ketika Allah turun ke langit dunia; muroja'ah (mengulang-ulang) hafalan; sedekah, memperbanyak doa dan masih banyak ibadah lainnya.

Wanita muslimah yang sedang haid tidak akan kehabisan amal ibadah untuk dilakukan, karena Allah telah menyediakan fasilitas lain yang masih bisa digunakan untuk tetap mendekatkan diri kepada-Nya, tinggal bagaimana dengan kitanya sendiri, mau atau tidak melakukannya. Semoga kita semua dapat selamat menjaga kondisi imannya ketika tamu istimewa berbaju merah datang menyapa. Aamiin.

--------------------------------
Redaktur: Ummu Al-Fath
Editor: Bintu Amrillah

Diberdayakan oleh Blogger.