Euforia Syndrome

mpi , muktamar3mpi , muktamar, mpi

Euforia syndrome

Muktamar MPI ke-3 sudah berakhir. Banyak kenangan yang terukir selama proses berjalannya acara. Berkenalan secara tatap muka langsung dengan ikhwan yang datang dari berbagai macam daerah, mendapat kesempatan bertemu dengan asatidz pembina dan pengurus MPI di level nasional, dan yang tidak kalah menyenangkannya bisa bertukar ide juga pemikiran antar pengurus. Kesempatan tersebut tidak dapat diperoleh untuk interval waktu yang dekat, butuh waktu kurang lebih 2 tahun untuk bisa menemukan kesempatan langka seperti ini. 

Pada muktamar ke-3 ini, pengurus yang datang dari kejauhan ini menyaksikan peristiwa sejarah penting di tubuh MPI. Dengan segenap kekuatan kadernya, MPI perlahan mulai meletakkan batu budaya organisasi untuk menyempurnakan infrastruktur institusi yang memang dituntut untuk semakin canggih dan modern. Kader dikenalkan dengan budaya kritis melalui prosesi 5 sidang pleno selama 2 hari, dinamika diskusi yang mengasyikkan dan menantang visi pribadi maupun visi bersama untuk tampil dan beraspirasi menyuarakan ide dan pandangan. Sidang yang berlangsung sampai larut malam pun tidak serta merta menyurutkan semangat untuk menyongsong kejayaan organisasi secara spesifik, dan menatap masa depan kejayaan Islam secara umumnya. Meskipun sampai larut malam, kader tetap ngotot bangun di subuh harinya untuk sholat berjamaah.

Pemimpin baru, nafas baru.

Sudah menjadi keniscayaan layaknya sebuah bahtera di lautan, kapten tua yang sudah selesai tugasnya akan digantikan dengan kapten muda yang lebih segar dan visioner. Kader perlu sosok baru untuk memimpin pelayaran dengan usungan visi dan misi terbaru dengan tidak menghilangkan visi besar organisasi. Seluruh kapten dan awal organisasi bahu-membahu mengayuh dayung dan membentangkan layar untuk mencapai cita-cita mewakili perjuangan umat Islam menyongsong kejayaan. Mahasiswa! Ya, inilah kapal dengan kapten baru yang berisikan mahasiswa-mahasiswa muslim terbaik dari daerah masing-masing. 

Strategi boleh boleh saja direvisi, semangat bisa saja mendapat stimulus baru, visi bisa saja semakin mengerucut dan tajam, mental bisa saja bisa menebal seakan baja yang ditempa dengan kerasnya. Tapi ada satu hal yang tidak boleh terlupakan dan dianggap remeh, penyakit lama, euforia sekejap. Kita sering lupa dan sering terjebak pada sensasi kesenangan dan kemenangan sesaat di awal, dan lupa menjaga langkah agar tetap melaju meski pada kecepatan konstan minimal. Bahayanya sindrom euforia ini dirasakan oleh para pendahulu ketika kesibukan di luar MPI dengan efektif menutupi semangat bergerak pada masa-masa awal pasca muktamar. Kadang kita kehilangan kontrol untuk hal tersebut, kadang nasihat dan masukan tidak serta merta mengingatkan. Maka hal yang perlu ditekankan dari awal adalah bagaimana membangun kesadaran diri sendiri ; sadar untuk proaktif, sadar untuk berkolaborasi, sadar untuk berkomunikasi dan sadar untuk menjaga hubungan baik dengan alumni juga asatidz pembina.

Hanya orang mati yang stagnan. Hanya orang yang terkubur yang berhenti bergerak. Jangan pernah lelah memperbaiki kualitas pribadi dan organisasi. Referensi bertebaran dimana-mana dan kompetitor mengintai selalu berjaga-jaga barangkali di masa depan tubuh kita berkembang meraksasa. Mari jaga mimpi untuk menjadikan seragam/jaket kebesaran MPI sebagai ikon yang mana orang-orang berebut untuk memperoleh gengsi dengan menggunakannya, karena menganggap dengan menggunakan atribut ini artinya saya berdiri di dalam organisasi yang tepat dan berkualitas. 10 tahun mulai dari sekarang. Mimpi yang cukup beralasan bukan?

Kuncinya hanya satu, jangan hanya sekedar euforia saja.

Musthafa Akhyar - Alumni MPI
12 April 2016
Dalam perjalan kereta api Yogyakarta-Kediri
Diberdayakan oleh Blogger.