Muslim Sejati : Kami Dengar dan Kami Taat




MPILAMPUNG.ORG - Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya apa yang membinasakan umat sebelum kalian hanyalah karena mereka banyak bertanya dan menyelisihi Nabi-nabi mereka’.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Imam An-Nawawi berkata, “Hadits ini merupakan bagian dari kaidah-kaidah Islam yang penting dan termasuk jawami’ul kalim serta mengandung hukum-hukum yang sangat banyak.”

Di dalamnya terdapat anjuran untuk iltizam dengan syari’at Allah ‘azza wa jalla baik itu melakukan perintah atau menjauhi larangan dan berhenti pada batasan yang telah ditentukan, tidak meremehkan dan tidak pula berlebih-lebihan.

Dalam hadits ini terdapat permisalan, pelajaran dari kaum terdahulu yang hancur serta binasa dikarenakan tidak mematuhi perintah, banyak bertanya serta menyelisihi Nabinya. Mau’idzah buat kita semua untuk selalu taat dan tunduk dengan syari’at Allah dan selalu mengikuti petunjuk Rasulullah.

MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI
Meninggalkan larangan dalam hadits ini didahulukan dari mengerjakan suatu amalan, hal ini sebagaimana kalimat tauhid Laa Ilaaha ilAllaah, mengosongkan dulu baru kemudian mengisi dengan yang benar. Tinggalkan Illah yang tidak berhak disembah dan beribadahlah hanya kepada Illah yang berhak disembah yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak boleh mengamalkan tauhid tapi juga mengerjakan larangan yang berupa syirik.

Di antara ulama ada yang berkesimpulan bahwa hadits ini menunjukkan : meninggalkan larangan itu lebih ditekankan dan mendapat porsi perhatian yang lebih besar daripada menjalankan perintah atau suatu amanal, tentunya ini tidak berarti menganggap enteng dari perkara yang diperintahkan.

Sehingga muncullah kaidah dari hadits ini, darul mafasid muqaddam ala jalbil manafi’ (mencegah terjadinya kerusakan itu lebih utama dan didahulukan daripada mendatangkan kemaslahatan). Contoh aplikatifnya adalah larangan menjual buah anggur kepada orang yang telah diketahui memiliki pabrik minuman keras, meskipun ia memberikan harga yang lebih tinggi dibanding pembeli yang lain dan mendatangkan keuntungan melimpah serta meningkatkan devisa negara dan menstabilkan perekonomian. Tetap saja muamalah jual beli itu tidak dilakukan karena akan menyebabkan kerusakan yang lebih besar.

TINGGALKAN LARANGAN KESELURUHAN
Bila ada larangan yang haram maka wajib hukumnya ditinggalka kecuali bila keadaan darurat menuntut kita untuk melakukannya maka boleh mengambil keharaman secukupnya. Misalnya boleh memakan bangkai bagi yang tidak memiliki makanan yang halal, tapi tidak boleh sampai kenyang dan menyimpannya. Dalam fiqih termasuk kaidah adhorurat tubihul mahdzurat (kondisi darurat membolehkan untuk melakukan yang dilarang).

PILIH YANG MUDAH DAN CONTOH RASULULLAH
Islam mengajarkan kepada umatnya supaya mencontoh Nabi Muhammad shalallaahu ‘alayhi wasallam dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Artinya kita tidak boleh berlagak pintar dengan melakukan ibadah semau kita. Akan tetapi contek saja bagaimana Rasulullah beribadah dan semampu kita, dan ternyata kita tidak bisa menyaingi ibadahnya Rasulullah baik dalam kuantitas maupun kualitas.

Bila tidak mampu shalat berdiri maka dudukpun boleh, jadi pilihlah yang mudah dan jangan memberatkan diri sehingga bisa membahayakan jiwa. Terdapat kaidah almaisur la yasqutu bil ma’sur (kemudahan tidak gugur dengan kesulitan), jadi shalatnya tidak gugur tetapi tetap dikerjakan dan kesulitan yang dihadapi membolehkan ia mengambil yang lebih ringan yaitu shalat dengan duduk, bila tidak bisa duduk maka shalat dengan berbaring.

Ada pula kaidah al-masyaqqah tajlibu taisir (kesulitan itu mendatangkan kemudahan), contohnya; musafir boleh berbuka (tidak puasa saat safar) dan menggantinya di waktu yang lain. Ia juga diperbolehkan menjamak atau mengqashar saja tanpa menjamaknya. Bila tidak menemukan air maka boleh tayammum.

Definisi kepayahan, kesulitan, dan darurat dalam setiap kaidah fiqih yang disebutkan perlu diperinci lagi sehingga tidak salah dalam penggunaannya. Bila seseorang memiliki modal sedikit maka tidak boleh baginya bermuamalah dengan riba untuk memperbesar usahanya dengan dalih darurat, begitu juga perkataan orang “karena darurat maka boleh berobat dengan yang haram”, perkataan ini tidak benar menurut Syaikh Al-Utsaimin dari dua sisi; pertama, kadang penyakit hilang tanpa diobat, dan kedua, kadang berobat tapi tidak sembuh. Dan para ulama rahimahumullah berpendapat akan keharaman berobat dengan yang haram.

SEBAB-SEBAB KEHANCURAN UMAT
Yang memecah persatuan, melemahkan kekuatan adalah banyak bertanya, bantah-bantahan, dan berselisih. Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallam melarang umatnya dari tiga hal’ dari mengucapkan ‘katanya’ (berita yang tidak jelas dan tidak manfaat-pent), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Al-Bukhari)

Yang dibutuhkan adalah memahami apa yang diturunkan Allah dan mengetahui kabar dan petunjuk Rasulullah kemudian mengikuti dan mengamalkannya. “Kami dengar dan kami taat.”

Bertanya untuk memahami kewajiban adalah wajib bagi setiap muslim. Adapun bertanya tentang suatu hal yang dirahasiakan Allah, misalnya kapan kiamat, hakikat ruh dan bentuknya, rahasia qadha dan qadar, kemudian pertanyaan yang tidak realistis atau permasalahan yang belum terjadi maka hal ini terlarang. Apalagi bertanya untuk merendahkan dan melecehkan syari’at serta menyelisihi Rasulullah shalahhaahu ‘alayhi wasallam maka Jahannam tempat kembalinya. Wallaahu a’lam.

Redaktur : Ve
Sumber : Ar-Risalah
Diberdayakan oleh Blogger.