Wasiat Terakhir Abu Yahya Al-Libi bagi Pejuang Media - 3



Perkara Ketiga: fokuskan target pemberitaan pada segmen masyarakat awam. Hindari menghabiskan sumber daya untuk membuka wacana dan beradu argumentasi dengan bagian masyarakat yang disebut dengan kelompok elit.

Tipe kelompok ini tidak banyak memberi kontribusi kepada jihad melebihi apa yang diberikan oleh masyarakat awam. Umumnya, fitrah orang awam masih steril. Peluang mereka untuk menerima kebenaran terbuka lebar. Meskipun kehidupannya bergelimang maksiat dan dosa. Baik dosa kecil maupun besar.

Pemikiran orang awam masih belum rusak dan terkena virus pemikiran sesat. Lebih dari itu, orang awam bukan tipe orang jahil murakkab, yaitu kondisi di mana si jahil tidak sadar ia tidak tahu. Lebih parah dari itu, orang bodoh yang menyangka memiliki ilmu dan wawasan luas yang perlu dibagi ke masyarakat. Orang tipe ini bersikap seolah ia memiliki kedudukan tinggi yang dengan mudah menyampaikan hoax. Fenomena ini bisa ditemukan di kalangan orang yang disebut para pemikir atau elit.

Untuk mereka, seorang sastrawan menggubah bait:
Kala kamu bodoh, kamu tak tau jika kamu tak tau
Sungguh, kebodohan itu sebuah penyakit komplikasi


Jika anda mengamati medan-medan jihad yang ada. Jika ingin melihat siapa yang menyambut seruan itu tanpa banyak ulah, mereka adalah generasi muda yang belum tersentuh pemikiran-pemikiran menyimpang. Karena itu, biasanya mereka mudah meninggalkan maksiat dan dosa. Mereka juga gampang untuk bertobat dan kembali ke jalan kebenaran.

Sedangkan orang yang teracuni pemikiran syubhat pemikiran menganggap ideologinya sangat positif. Karena itu, tak banyak manfaat dalam dialog dan memberi mereka peringatan. Mereka menganggap jihad sebagai aksi kekerasan. Sedangkan sikap diam nan pengecut mereka namakan intelektualitas. Di mata mereka, perang di jalan Allah adalah tindakan bodoh dan anarkis. Tapi, meletakkan senjata sambil sibuk menyelesaikan urusan duniawi dianggap sebagai sikap bijaksana dan sikap toleran. Menumpahkan darah orang kafir dalam perjuangan jihad fi sabilillah dikatakan sebagai tindakan tidak berperi kemanusiaan. Sedangkan menjalin kasih sayang dan merendahkan diri kembali dianggap sebagai tindakan bijak dan berwawasan. Dan masih banyak lagi pemahaman terbalik. Setiap kali anda berusaha masuk lewat sebuah pintu, mereka akan berupaya memalang pintu tersebut.

Pesan yang ingin saya sampaikan adalah, tidak usah menghabiskan konsentrasi dan sumberdaya untuk menangani kelompok tersebut. Karena manfaat mereka untuk jihad sangat sedikit, kecuali bagi orang yang dikehendaki Allah. Untuk itu, langkah yang wajib kita tempuh yaitu menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat awam dan golongan pemuda. Gunakan bahasa yang menyentuh emosi, membangkitkan solidaritas dan membakar semangat. Tentu saja secara bertahap dan perlahan. Setelah itu, anda akan melihat mereka menyambut seruan kembali kepada Allah.

Faktor emosi dan solidaritas adalah pintu masuk yang lebar. Jangan pernah anda remehkan atau menafikannya. Seperti yang telah saya sampaikan di atas, ini termasuk dalam proses tahridh yang termaktub dalam ayat Al-Quran:

“Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (At-Taubah: 13)

Sambutan positif kelompok masyarakat awam dengan stimulasi unsur emosional dan solidaritas jauh lebih baik dari pada upaya memahamkan mereka dengan argumen logis atau diskusi ilmiah. Tipikal orang aman membutuhkan sesuatu yang sederhana dan ringan. Sehingga untuk menyampaikan pesan kepada mereka harus dengan uslub atau gaya komunikasi yang bisa mereka tangkap dan pahami. Untungnya, permasalahan besar umat Islam hari ini sangat mudah disampaikan kepada mereka karena sangat jelas dan gamblang.

Salah satu contohnya adalah pemimpin organisasi Islam dan sebagian ulama di Pakistan yang berupaya membela fatwa memerangi tentara militer Pakistan. Mereka memberi legitimasi fatwa dengan menukil dari kitab-kitab dan memberi jawaban dengan gaya bahasa yang rumit bagi orang awam.

Padahal, orang awam yang berasal dari suku-suku di wilayah pakistan cukup dipahamkan dengan melihat jet tempur militer yang mengebom masjid. Al-Quran yang ada didalamnya turut hancur seiring runtuhnya masjid. Nah, setelah bukti-bukti itu terpapar, seharusnya para ulama bersuara lantang, “Para tentara tersebut lebih kafir daripada orang yahudi dan nasrani.”

Karena itu, untuk apa membebani orang awam yang fitrah mereka masih lurus dengan argumentasi yang berat dan dalam. Padahal untuk menyingkapnya cukup dengan mengajak mereka membuka mata menyaksikan realita. Seperti inilah seharusnya permasalahan umat disampaikan.

Apa yang saya sampaikan ini bukan berarti meremehkan upaya menguatkan pemahaman Islam serta upaya memerangi syubhat dan penyimpangan. Maksud kami ialah bahwa kerja keras media seharusnya langsung berhadapan dengan masyarakat muslim yang masih awam. Media Islam harus terjun sesuai dengan tingkat pehamanan kelompok masyarakat itu. Sebisa mungkin memaparkan isu-isu keumatan dengan bahasa yang ringan agar mereka mudah memahaminya.

Allah berfirman kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم:

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahf: 28)

Para aktivis media perlu memahami faktor apa saja yang membawa dan menjauhkan orang dari hidayah dan istiqamah di atasnya. Seperti yang saya sebutkan di atas, jalan utama untuk menyelamatkan masyarakat dari kesesatan adalah jihad fi sabilillah. Isu jihad bisa menjadi senjata utama bagi orang yang tahu cara memanfaatkannya dan menguasainya dengan baik. Jihad adalah alat dakwah dan hidayah yang selama ini dilupakan.

Namun, untuk memanfaatkannya butuh upaya ekstra lebih dari yang lain. Bisa jadi ini seperti yang disabdakan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم:

“Apabila kalian berjual beli dengan sistem Al-‘Inah (salah satu bentuk riba), mengikuti ekor-ekor sapi, ridha dengan pertanian (terlena dengan kehidupan dunia) dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menurunkan kehinaan kepada kalian. Dia tidak akan mengangkat kehinaan tersebut sehingga kalian kembali ke agama kalian.” (HR Abu Dawud)

Dari hadits di atas bisa dipahami bahwa kembali ke jalan jihad berarti kembali ke jalan agama. Sebaliknya, meninggalkan jihad berarti meninggalkan agama.

Anda pasti tahu jika orang awam tidak bisa memahami debat ilmiah, manuver-manuver politik dan saling serang argumen. Mereka hanya bisa digerakkan dengan menyentuk sisi emosionalnya. Bisa jadi, satu bait lirik dari lagu perjuangan lebih dapat menggerakkan mereka. Bisa jadi pula satu foto orang miskin dan korban kekerasan mendorong para hartawan mendermakan harta.

Hasil serupa tidak didapat dengan menulis buku dan mencetaknya dengan kertas paling mahal. Orang-orang tersebut malah tidak tersentuh sama sekali. Sekali lagi, apa yang saya sampaikan ini tidak menafikan hal tersebut. Untuk urusan ini, sudah ada pakar dan segmennya marketnya sendiri. Yang ingin saya sampaikan, hendaknya dakwah disampaikan secara umum. Dakwah itu berupaya menyentuh hati dan fitrah manusia yang masih lurus lewat pintu yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Di lain sisi, sikap solider dan emosional tercela. Kadang dua hal itulah yang membuat seseorang  sempurna. Justu orang yang tak bergairah setelah melihat apa yang menimpa umat ini, bercerminlah. Apakah nuraninya masih ada atau sudah hilang?

Kesimpulan paragraf ini ialah; tingkatkan upaya kalian dengan fokus menggarap masyarakat Islam yang awam. Manfaat besar masih terpendam dalam kelompok itu. Jangan habiskan sumber daya media untuk kalangan ‘elit’. 

Masyarakat umum menyimpan banyak potensi untuk kepentingan jihad. Dalam masyarakat awam terdapat tenaga medis, pengusaha, insinyur, tenaga ahli dan lain sebagainya. Setiap orang dari mereka memiliki peran khusus dan sesuai yang bisa diberikan dalam medan jihad.

Redaktur : Ve
Sumber : Lapsus Syamina Edisi VI
Halaman : 1 2 3

Diberdayakan oleh Blogger.