Wasiat Terakhir Abu Yahya Al-Libi bagi Pejuang Media



Ilustrasi : Muslim Cyber Army


MPILAMPUNG.ORG - Syaikh Muhammad Hasan Qaid atau lebih dikenal dengan nama Syaikh Abu Yahya Al-Libi adalah salah satu ulama jihad senior yang kompeten dalam organisasi dan kharismatik. Al-Libi juga dikenal dengan julukan Yunis Al-Sahrawi, Hasan Qaid Al-Far, Muhammad Hasan Abu Bakar dan Abu Yahya Syaikh Yahya. Sesuai dengan penisbatan namanya “Al-Libi”, Abu Yahya lahir di Libya pada tahun 1963. Kakaknya bernama Abdul Wahab Muhammad Qaid atau Abu Idris Al-Libi, salah satu anggota senior LIFG ( Libyan Islamic Fighting Group) dan merupakan Kepala Penjaga Perbatasan Nasional Libya Selatan.

Riwayat pendidikannya tidak begitu dijelaskan mendetail. Tetapi, dapat dikonfirmasi bahwa Abu Yahya menuntut ilmu syar’i di bawah bimbingan ulama-ulama senior Mauritania setelah jatuhnya rezim komunis Najibullah.

Syaikh Abu Yahya Al-Libi datang ke bumi Khurasan pertama kalinya pada tahun 1990. Ia dikenal sebagai ulama mujahid yang brilian. Ulama asli Libya ini menguasai tiga bahasa, yaitu Urdu, Pashtun dan Arab.

Foto : Syaikh Abu Yahya Al-Libi
Dalam wasiat yang ditulisnya, Syaikh Abu Yahya Al-Libi menyampaikan sedikitnya tiga permasalahan yang harus dipahami oleh para pejuang media. Berikut adalah kutipan wasiat beliau rahimahullaah :

Perkara Pertama: Wahai tentara yang tersembunyi, tentara yang tidak diketahui nama maupun tempatnya, tidak memiliki foto pribadi yang dikenal, dan tidak memiliki gelar yang popular, dimana manusia hanya mengatahuinya lewat panah (tulisan-tulisannya & uploadnya) yang tajam , yang mampu menggugah emosi. Saya sampaikan kepada kalian wahai saudaraku, hendaklah kalian mengikhlaskan niat kepada Allah  جل جلاله. Dimana kalian memikul beban dakwah media ini, yang penuh dengan resiko; penculikan atau pembunuhan, hanya untuk Allah جل جلاله.

Sesungguhnya Allah جل جلاله tidak menerima sebuah amal kecuali dikerjakan dengan ikhlas, hanya mencari ridha-Nya. Allah tidak rela disekutukan dengan siapa saja. Siapa yang menyekutukan Allah جل جلاله, maka Allah جل جلاله akan meninggalkannya bersama sekutuannya tersebut.

Hadirkanlah selalu keikhlasan, kapanpun dan dimanapun Anda berada. Baik saat Anda duduk di kursi untuk mengolah sebuah produk berita, saat menulis makalah, menyebarkan buku, membantah syubhat, mengkaji sebuah peristiwa, mengumpulkan berita, mengirim surat atau menyusun kaset video. Maka, ingatlah, saat itu Anda bekerja untuk Allah, yang Anda harapkan adalah pahala dari Allah جل جلاله, tujuan Anda adalah untuk menegakkan kalimatullah. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah  : صلى الله عليه وسلم
“Berjihadlah kalian melawan orang-orang musyrik dengan harta, jiwa dan lisan-lisan kalian.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban,) Ibnu Hibban memasukkan hadits ini di Bab: Beberapa riwayat yang menghasung untuk jihad dan berperang melawan musuh-musuh dari kalangan orang-orang kafir.”

Ketahuilah saudaraku, bahwa keikhlasan akan menjadikan sebuah aktifitas berbarokah. Diantara barokahnya, Allah جل جلاله akan membukakan bagimu pintu-pintu kebaikan, taufik dan hidayah. Sebagaimana firman Allah جل جلاله :

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (Muhammad: 17)

“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.” (Maryam: 76)

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-‘Ankabut: 69)
 er 2013
Dalam ayat lain:
“Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. ” (An-Nisa’: 67-69).

Di ayat lain Allah menyebutkan hak para mujahidin yang berperang di jalan-Nya, yaitu berupa hidayah dan jaminan kebaikan bagi mereka,
“Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” (Muhammad: 4-5).

Mayoritas ulama ini membaca dengan ‘Qaataluu,’ Ibnu Jarir Rahimahullah berkata, “Allah Yang Maha Tinggi akan memberi taufik kepada mujahid itu untuk menempuh apa yang Allah جل جلاله ridhoi dan cintai, mereka adalah orang-orang yang berperang di jalan Allah جل جلاله. Dan Allah جل جلاله akan memperbaiki keadaan mereka di dunia dan akhirat.”

Dan hendaklah kalian saling mengingatkan dan menasehati perkara ikhlas diantara kalian, bahwa kalian dalam rangkaian ibadah kepada Allah جل جلاله, ibadah ini sangat agung, hanya sedikit mereka yang tegar di atasnya dan rela menanggung bebannya. Mintalah bantuan kepada Allah جل جلاله, banyak-banyaklah membaca

“Ya, Allah bantulah kami untuk selalu berdzikir kepadaMu, bersyukur kepadaMu dan agar selalu beribadah dengan baik kepadaMu.”

Ibadah yang baik adalah melaksanakannya dalam bentuk yang diridhoi oleh Allah جل جلاله, yaitu dengan sempurna dan keikhlasan. Ini semua tidak akan tercapai kecuali dengan bantuan dari Allah.

Baca halaman selanjutnya : Perkara kedua...

Halaman : 1 2 3
Diberdayakan oleh Blogger.