Jawaban atas Fitnah Dina Sulaeman Terkait Serangan Gas Kimia di Idlib 2

Kedua, jika memang benar foto di atas relevan dengan waktu kejadian serangan, apa yang membuat Dina dan para pengikutnya yakin bahwa daerah dalam foto tersebut terpapar gas sarin dan bukan gas klorin? Karena secara umum gas klorin memang tidak lebih berbahaya daripada gas sarin.

Gas klorin memang mematikan, tapi butuh waktu beberapa jam sampai muncul gejala paparan berat. Tidak seperti gas sarin yang dapat dengan cepat meracuni bagian dalam tubuh melalui paparan pada kulit, gas klorin cenderung meracuni tubuh melalui jalur inhalasi (pernafasan).

Ketiga, terlepas dari gas apa yang menyerang daerah dalam foto tersebut, bagaimana Dina memastikan pada saat foto tersebut diambil, gas beracun masih menyelubungi daerah itu? Artinya, ada kemungkinan saat foto itu diambil gas beracun tidak lagi menyelubungi daerah itu.

Selalu ada faktor x seperti angin yang dapat membuat kepekatan gas beracun di daerah tersebut menjadi berkurang. Apakah Dina sudah memastikan keberadaan faktor x ini?

Dari satu foto saja, banyak hal yang belum dipastikan oleh Dina, sehingga argumen Dina terkait aksi penyelamatan White Helmets yang menurutnya janggal itu tidak ilmiah, tidak bisa dijadikan dasar untuk memunculkan keraguan.

Relawan kemanusiaan harus menghirup oksigen pascamelakukan tugas evakuasi. Kredit : Ammar Abdullah/Reuters

Regu penyelamat White Helmets, dengan perlengkapan seadanya, rela mempertaruhkan nyawa mereka demi menyelamatkan nyawa rakyat sipil yang menjadi korban keberingasan rezim.

Bahkan gambar di atas menunjukkan seorang relawan harus diberi asupan oksigen setelah menolong warga Idlib dalam serangan pada Selasa (4/4/2017). Namun lihatlah bagaimana Dina memojokkan mereka. “Hanya orang gila yang mau berada di kawasan yang ada gas sarinnya tanpa pengaman sama sekali.”, ujarnya.

Gas klorin memang mematikan, tapi butuh waktu beberapa jam sampai muncul gejala paparan berat. Tidak seperti gas sarin yang dapat dengan cepat meracuni bagian dalam tubuh melalui paparan pada kulit, gas klorin cenderung meracuni tubuh melalui jalur inhalasi (pernafasan).

2. Dr. Shajul Islam
Tidak hanya White Helmets, dokter yang ikut menolong korban serangan gas kimia di Khan Sheykhun pun tak luput jadi bahan gosip Dina Sulaeman. Dina mempermasalahkan Dr. Shajul Islam yang sempat mengeluarkan kicauan di akun Twitter pribadinya saat korban serangan gas kimia membanjiri rumah sakit.


 Pada pukul 06.24 UTC (09.24 waktu setempat) Dr. Shajul Islam yang berbasis di Binnish, 50 km utara dari Khan Sheykhun mentweet, “Rumah sakit kami penuh dengan korban serangan bom sarin hari ini. Siapapun yang ingin bukti, saya akan kirimkan video kepada anda.” Tak lama setelah itu, pada pukul 06.33 UTC (09.33 waktu setempat) Dr. Shajul Islam mengirim video yang menunjukkan 9 anak meninggal, korban dari serangan kimia yang dipublikasikan secara online.

Sejak saat itu, tidak ada kabar lagi dari Dr. Shajul Islam baik pada akun Twitternya maupun saluran Youtube miliknya, sampai akhirnya ia mengunggah sebuah video pada akun Twitternya (pukul 07.46 UTC atau 10.46 waktu setempat) yang menunjukkan semua pupil korban serangan gas mengecil dan tidak merespon cahaya.

Mari kita perhatikan video berikut.

Berdasarkan analisis dengan Youtube Data Viewer, sebuah program investigasi milik Amnesti Internasional, video ini diunggah Dr. Shajul Islam ke saluran Youtubenya pada pukul 10.18 UTC (13.18 waktu setempat). Dalam video ini Dr. Shajul Islam menjelaskan situasi di rumah sakit Binnish yang merawat pasien korban serangan gas kimia. Jika diperhatikan dengan saksama, terlihat bahwa cukup banyak terdapat tenaga medis yang menangani pasien.

Baca halaman selanjutnya: Jika dilihat dari kondisi di...
Halaman Selanjutnya 1 2 3
Diberdayakan oleh Blogger.