Jawaban atas Fitnah Dina Sulaeman Terkait Serangan Gas Kimia di Idlib 3

Jika dilihat dari kondisi di atas, akan muncul pertanyaan : apa yang salah dengan aksi Dr. Shajul Islam membuat sebuah tweet? Lagi pula tweet berikutnya muncul satu jam setelahnya, dan bukan berarti Dr. Shajul Islam terus-terusan membuat cuitan di Twitter.
Tidak cukup menyebutkan aksi aneh (menurutnya) yang dilakukan Dr. Shajul Islam, Dina juga menyebut hal lain tentang beliau. “Dokter satu ini rekam jejaknya berafiliasi dengan ‘mujahidin’,” tudingnya.


Penyesatan opini yang selalu dilakukan oleh orang-orang semacam ini adalah dengan pola kill the messenger, sebuah cara yang dilakukan untuk menjatuhkan opini dengan mendelegitimasi fakta. Bagaimana mereka melakukannya? Mudah saja. Dina selalu melakukan itu dalam analisisnya dengan memfitnah penyebar pesan adalah seorang teroris, berafiliasi dengan kelompok “ekstrimis”, radikal, dan sebutan-sebutan semacamnya. Tak jarang, masyarakat awam yang belum mengenal sepak terjang Dina mudah sekali termakan oleh hastan Dina Sulaeman.

Jangan lupakan fakta juga, bahwa Dina pernah melakukan hal semacam ini dalam memfitnah Mahmoud Raslan. Seorang fotografer yang mengabadikan gambar Omran Daqneesh, si bocah kursi oranye. Baca juga: Menyanggah Logika Sesat Dina Sulaeman Soal Aleppo dan Suriah

Dengan orang seperti Dr. Shajul Islam yang menunjukkan bukti serangan gas kimia saja, dunia masih acuh-tak acuh, apalagi jika beliau tidak menyuarakannya.

Penyesatan opini yang selalu dilakukan oleh orang-orang semacam ini adalah dengan pola kill the messenger, sebuah cara yang dilakukan untuk menjatuhkan opini dengan mendelegitimasi fakta.
3. Tak ada  wartawan yang langsung meliput di lapangan?
Dalam tulisannya, istri dari Otong Sulaeman ini berani mengklaim tak ada satupun jurnalis yang meliput serangan gas kimia di Idlib. Argumen ini lemah sekali karena faktanya beberapa wartawan datang ke lokasi serangan untuk meliput. Jurnalis muda Hadi Al Abdallah merilis video liputannya yang jelas menunjukkan sebuah kawah di jalan, yang dilaporkan sebagai akibat serangan itu.

 

“Ini adalah korban meninggal dan terluka di distrik Al Shamali di Khan Sheykun sebagai akibat dari serangan roket yang mengandung gas kimia. Sementara ini lebih dari 70 korban dan 200 terluka akibat serangan tersebut. Kita sekarang berada di lokasi kejadian yang diserang dengan gas kimia,” lapornya.

Hadi juga menyampaikan bahwa mereka, maksudnya tim pers, tidak diperbolehkan untuk berada di sana sebelumnya karena bau gas masih tersebar di wilayah tersebut. Beberapa lokasi lainnya yang terkena serangan juga ditunjukkan dalam sebuah video yang diterbitkan oleh saluran Pusat Jurnalisme Suriah di laman Youtube.

“Pemukiman warga diserang hari ini. Tidak ada pangkalan militer di daerah-daerah yang ditargetkan oleh serangan udara (yang diserang adalah sipil). Roket pertama menghantam pada pukul 06.30 yang berlokasi agak jauh dari sini, roket kedua menghantam lokasi ini, di sini!” lapor wartawan pada video tersebut.

Untuk lebih memahami detil serangan, silahkan baca laporan yang dirilis oleh Seraa Media.
Entah terbuat dari apa nurani seorang Dina Sulaeman dan orang-orang semacamnya sampai begitu gigihnya memutarbalikkan fakta. Lagi pula kenapa harus repot-repot menutupi fakta kemanusiaan di Suriah? Sementara PBB sudah berkali-kali mengatakan konflik di Suriah telah menelan 290.000 korban jiwa dan jutaan pengungsi ke berbagai belahan dunia sejak tahun 2011.

Memasuki tahun 2017 diprediksi sudah 450.000 warga tewas. Bahkan UNICEF menyebut tahun 2016 adalah tahun mematikan bagi anak-anak Suriah, dan di tahun ini, mereka merasakan derita serupa, namun Dina dan teman-temannya masih berusaha keras memutarbalikkan fakta?

Ibu Dina Sulaeman, saya juga berharap agar gambar dan video anak-anak yang mati dan menderita di Suriah itu palsu, tapi sayangnya tidak begitu.

Ditulis oleh : Astriva Harahap, mahasiswi Jurusan Kimia Fakultas MIPA Unila, Sekjen Muslimah MPI Lampung.

Referensi :
[1]https://www.cdc.gov/niosh/ershdb/EmergencyResponseCard_29750001.html
[2]https://www.questia.com/magazine/1G1-16435096/nearly-half-a-million-liters-of-chemical-warfare-agents
[3]https://www.lawfareblog.com/poisonous-affair-america-iraq-and-gassing-halabja-joost-r-hiltermann
[4]http://library.thinkquest.org/27393/dreamwvr/agents/sarin1.htm
[5]Gussow, Leon. 2005. Nerve Agents: Three Mechanisms, Three Antidotes. Emergency Medicine News. 27(7):12.
[6]Evans, R.J. 2008. The Third Reich at War, 1939–1945. Penguin. p. 669. ISBN 978-1-59420-206-3.
[7]https://nationalgeographic.co.id/berita/2016/09/dampak-mematikan-gas-klorin-dalam-konflik-suriah

1 2 3
Diberdayakan oleh Blogger.