Tak Harus Seperti Muzammil dan Sonia

Pada 7 Juli 2017, ada sebuah fenomena yang booming di jagad media dan sukses membuat para akhwat jejeritan serta heboh yaitu hilangnya masa jomblo saudara Muzammil Hasballah dengan bidadarinya, Sonia Ristanti. Ya mungkin bisa dikategorikan  BAPER level HQQ (haqiqi). Untuk kalian yang paham dengan dunia sosial media terkhususnya instagram, pasti tau siapa Muzammil Hasballah. Singkatnya, beliau adalah salah satu dari qori berprestasi yang merupakan alumnus perguruan tinggi yang terpandang di Indonesia yaitu ITB (Institut Teknologi Bandung).

Actually, penulis tidak mempunyai niatan untuk mengupas secara panjang lebar mengenai saudara Muzammil, tetapi lebih menekankan pada pembahasan fenomena para akhwat jomblo karena dibuat shock dan baper, lantas minta menikah muda serta munculnya meme-meme aneh dengan tagar #haripatahhatiduniaakhirat. Hm, apa maksud dari tagar itu? Apa karena sudah sold outnya tipe ikhwan dambaan macam Muzammil kah, sampai batin tak karuan? Dan apakah stok orang-orang sepertinya begitu limited kah? Open your eyes sholihah!

Sebegitunyakah cara menanggapi pernikahan Muzammil? Tetapi, jika menangis sebagai bukti terharunya karena bahagia melihat saudara seiman yang menikah, maybe it’s nevermind. Namun,  kalau karena “Yaa Allah, aku pingin nikah sama yang kayak gitu, tapi apa aku pantas, ngaji aja liat mood, kajian aja males banget kalau gak menarik, tapi aku pingin dapet yang semacam itu.” (sambil sesengukan) “Yaa Allah, kenapa sih dia gak sama aku aja, aku kan fans beratnya, semua audio suaranya ku punya,dan dia yang selalu kuselipkan dalam do’a disetiap sujudku.Maa syaa Allah sekali, memang tidak sedikit akhwat yang berharap ingin menjadi pasangan dunia akhirat beliau. Tapi sholihah, terpikirkah kau dengan sebuah ayat:
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An-Nur : 26).

Mau dapat yang seperti Muzammil? Seharusnya diimbangi dengan do’a dan usaha. Lantas, apakah langsung bisa mendapatkan sesuai dengan yang diinginkan jika dari kita sendiri pun masih belum mau move on dari masa lalu yang kurang baik untuk go straight on the right path memperbaiki diri. Mau dapat yang hafidz memang tidak mesti jadi hafidzoh dulu sih. Tapi kelebihannya dari sama-sama hafidzh nantinya saat sudah berbahtera bisa muroja’ah (review hafalan) dengan pasangan halal dan mentarbiyah generasi dengan metode qur’ani. Mau dapat yang aktivis berarti kita juga harus membangun mental juang dan tahan banting mulai sekarang; siap mental saat pasangan kita nanti akan pergi lama atau pulang hanya nama. Jadi, bukan caranya mencari calon lewat media sosial (medsos). Memangnya online shop? Udah klop langsung order. Kesimpulannya, jodoh memang sudah Allah azza wajalla  tetapkan, yang jadi masalahnya adalah bagaimana karakter pasangan nanti ialah kembali ke kita.

Allah azza wajalla berfirman “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembang biakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah dan dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan.Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QR. An-Nisa:1).

Pernikahan merupakan ibadah yang dengannya wanita muslimah telah meyempurnakan setengah dari agamanya serta akan menemui Allah dalam keadaan suci dan bersih. Ada yang berpendapat “Dia yang belum menikah belum menjadi manusia seutuhnya”. Sebagaimana diriwayatkan dari Annas rodhiallahu ‘anhu “Barangsiapa diberi oleh Allah seorang istri sholihah, maka dia telah membantunya untuk menyempurnakan setengah dari agamanya. Untuk itu ia bertakwa kepada Allah pada setengah lainnya.” (HR. Ath-Thabrani dan Al-Hakim)

Kalau dibilang siapa yang tidak mau menikah? Tidak masalah kalau calon imamnya sudah jelas, nah kalau masih jadi buah tidur? Okelah, mungkin sudah banyak fenomena yang menjadi lalapan mata (bagi yang sering melihat) dengan kasus anak muda yang ramai dengan status-status ditambah dengan video-video dan foto-foto baper (katanya)  tentang menikah muda. Ada foto trevelling bersama pasangan, saling suap-suapan bareng, jogging bareng sambil direkam dan diunggah ke medsos. Memang terlihat biasa bagi yang beranggapan “Apaan, video pribadi kok dipamerkan ke publik, sangat tidak berfaedah.” Namun terlihat awesome bagi yang beranggapan “Ih, pingin loh bisa kayak gitu, daripada pacaran mending sama yang halal hehe.” Apapun pendapat kalian pastinya kita harus saling menghargai ya. Tapi, sebenarnya apa tanggapan dengan banyaknya video-video dan foto-foto tersebut, jujur saja nih?

Muslimah sholihah, sungguh disayangkan. Mungkin mereka beranggapan dengan menunjukan kemesraan mereka di jagad media membuat orang lain bisa termotivasi, namun bukankah itu juga bisa membuat si pelaku terjerumus ke dalam dosa tanpa sadar? Mungkin niat mereka baik, ingin memotivasi dan banyak pula yang beranggapan bahwa itu bisa menjadi salah satu jalan syi’ar atau dakwah dengan memberikan contoh bagaimana pacaran yang dimubahkan (diperbolehkan) dalam Islam. Namun, naasnya justru lebih kasihan, kenapa? Suami dan istri yang seharusnya dijaga dari pandangan-pandangan nakal malah dipublikasikan, betapa kasihannya bukan? Yang ditakutkan adalah jika foto-foto pasangan itu dijadikan sarana yang bisa membahayakan empunya. Sudah banyak terjadi dewasa ini, akun-akun nakal yang menyalahgunakan foto-foto ataupun video-video untuk kepentingan dan kepuasan pribadi, dan foto sang istri bisa saja di-screenshoot dan dijadikan koleksi oknum yang tidak bertanggung jawab. Begitu pula dengan foto-foto ataupun video-video yang memampang jelas wajah sang suami, na’udzubillahi min dzalik. Kalaupun masalah ingin membuat cinta bersemi diantara pasangan in syaa Allah itu akan tergerak sesuai naluri, tidak perlu melihat contoh dari video-video  ataupun foto-foto ikhwan dan akhwat yang banyak terlintas di media-media sosial.

Muslimah sholihah, akhwat ataupun ikhwan yang memiliki pandangan tuk menikah muda tak sedikit dari mereka yang hidupnya terombang ambing, kalut melanda ketika nafsu sulit dikendalikan. Ah, males nyusun skripsi, enak juga nikah, nanti ada yang bantuin.” “Gak enak banget sih dilarang kemana-mana, enak juga nikah ada yang ngajak jalan.Inilah beberapa contoh alasan nikah muda. Tapi apakah untuk masalah menyusun skripsi harus ada si imam yang mendampingi baru bisa semangat? Dan apakah masalah jalan-jalan harus ada imam agar bisa diajak? Kemanakah peran teman?

Muslimah Sholihah, akibat dari orang-orang yang terlalu fokus dengan satu perkara (nikah muda, -ed) akibatnya perkara lain tak sempat terpikirkan atau bahkan terlewatkan. Coba, bisa dilihat di instagram atau media sosial  lainnya, mana yang sering muncul, video baper ala-ala yang mengimingkan romantisnya nikah muda atau video saudara-saudara kita yang terdzolimi di negerinya sendiri missal Rohingya, Yaman, Suriah, Pattani, Somalia dan masih banyak lagi? Lebih sedih mana melihat video dan foto saudara-saudara kita yang terdzolimi atau video-video baper itu? Ya, mungkin bagi pembuat video itu sebenernya tidak ada maksud untuk mengimi-imingi, hanya saja yang menonton pastilah adalah rasa pingin setelah melihat dari apa yang telah tergambar dalam video-video itu, terkhusus warganet yang jomblo dan ingin menikah muda.

Muslimah sholihah taukah kamu? Menikah muda sekarang sudah menjadi trending topic di seluruh jagad media. Apa sebabnya? Banyak faktor. Salah satunya, yaitu menahan gejolak manusiawi.Rasulullah salallahu ‘alayhi wassalam telah menjelaskan hikmah ini ketika menghimbau para pemuda “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa.(HR. Bukhori 5065 dan Muslim 14000). Mayoritas dari mereka yang belum mampu menahan *maaf nafsu birahinya, menikah adalah solusinya. Namun ulama bersepakat perintah ini sifatnya anjuran dan bukan wajib. Karena itu, tidak wajib harus menikah dengan seorang wanita, baik khawatir zina ataupun tidak.Inilah madzhab umumnya ulama. Namun Imam An-Nawawi berkata kecuali jika mengambil pendapat dari Daud az-Zahiriyah dan orang yang mengikuti madzha zahiriyah serta salah satu riwayat Imam Ahmad yang berpendapat “Lelaki wajib menikahi budak wanitanya apabila khawatir tejerumus dengan zina”. (Syarh Shahih Muslim, 9/173). Terjadinya MBA (Married By Accident) atau bahasa lainnya menikah karena faktor kecelakaan karena akibat pergaulan bebas, yang mengibaratkan pacaran adalah sebuah ikatan resmi; yang bisa saling panggil mami papi ke sesama kekasih hati padahal nikah saja belum. Ya kurang lebih karena masalah itulah yang menjadikan nikah muda ini sebagai solusi.

Banyak sekali kita mendapati kajian, video-video tentang menikah, seruan, dan sudah banyak kita dapati buku tentang menggapai sukses dengan menikah muda. Namun kekhawatiran di sini adalah yang menikah muda itu karena ikut-ikutan perilaku orang lainatau karena niat suci yang asalnya pribadi? Nah, kalau  seperti ini bagaimana?

Perlu jadi catatan, bahwa bukan berarti penulis ada dipihak yang kontra karena menganggap nikah muda bukanlah hal urgent. Sejatinya masalah nikah bukanlah perkara yang mudah. Sebagaimana yang kita pikirkan di usia muda seperti sekarang ini. Permasalahan menikah merupakan hal yang multidimensional. Suka sama suka memang menjadi salah satu dasar utamanya menikah. Mungkin bagi yang ingin menikah syarat ini sudah terpenuhi, namun mereka  lupa ada satu  syarat yang kadang terabaikan oleh para pelaku nikah muda.Apa itu? Mental.

“Jika menikah hanya dilandasi oleh rasa saling mencintai, lalu dimana kedudukan iman?” Begitulah pesan Umar bin Khottob radhiallahu ‘anhu. Dan inilah syarat kedua dalam membangun bahtera rumah tangga. Tidak sedikitnya perceraian menjadi jalan keluar saat semua solusi tak ada yang berhasil ditempuh.

Karena imanlah Rasulullah mampu membina rumah tangga beliau dengan istri-istri beliau, karena imanlah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sabar menjadi kuli menimba air dan istrinya Fatimah radhiallahu ‘anha sabar menggiling gandum hingga tangannya melepuh, dan karena imanlah kesetiaan keluarga Yasir bin Amir dan Sumayyah bintu Khayyath menggenggam api tauhid hingga gelar syuhada dan jannah sebagai hadiah istimewa bagi mereka rahimahumaallahu ta’ala. Itulah sedikit dari contoh para salaf dengan gambaran iman yang tersirat jelas dalam bahtera (rumah tangga) yang selebihnya dapat dibaca dalam buku-buku tarikh (sejarah).

Jangan bayangkan pernikahan seindah buku pranikah, semanis kata-kata dari motivator, dan selalu lancar tanpa hambatan layaknya  dunia perfilman yang banyak berseliweran pada layar kaca. Pastinya akan banyak cobaan dan ujian. Maka pahamilah, rasa cinta tak cukup menjadi syarat untuk menikah. Iman dan mental layaknya kunci dalam berumah tangga, karena iman adalah pedang kesabaran dikala susah dan tameng menjauhkan keluarga dari kemaksiatan. Dan mental akan senantiasa mengikuti setelah adanya iman.

Oleh karenanya, boleh-boleh saja menikah karena saling mencintai. Namun, pastikan perasaan itu hanya menjadi makmum, imanlah yang harus menjadi imamnya. Dan  pahamilah, tak semua cinta mampu melahirkan iman. Tapi, semua keimanan pasti melahirkan cinta.

Akan tetapi, bagi yang tidak berkeinginan tuk menikah muda jangan memandang sebelah mata para pelaku nikah muda, ujian setiap orang berbeda dan dengan menikah mungkin solusi terakhir yang tidak bisa diganggu gugat kembali. Menikah merupakan sunnah Rasulullahu salallahu ‘alayhi wa sallam yang mulia, salah satu sarana menggapai ridho Allah azza wajalla dan dapat menutup banyak jalan kemaksiatan. Yang penulis ingin tekankan disini adalah menikah tidak lantas menjadi tujuan hidup apalagi landasan hidup.

Nastaghfirullah lii wa lakunna walhamdulillahi Robbil ‘alamin, Baarakallahu fiikunna.


Penulis : Oliver Al-Qori
Editor   : Rachma Vivien

2 komentar:

  1. MaasyaAllah... Sangat membuka wawasan. Jazaakillah khoiron ukht 😊😊

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.