DERADIKALISASI ANTARA RINTANGAN DAN KESADARAN


MPILampung.Org – Islam semakin hari semakin menjadi sorotan publik. Mengapa?  Karena Islam memiliki ideologi untuk menerapkan syariat  dalam pelaksanaan setiap harinya. Aqidah islam memancarkan sinar kehidupan dan mengatur kehidupan secara totalitas dengan penerapan syariat. Akan tetapi, Islam selalu tersudutkan ketika syariat Alloh yang dijalankan umat berbenturan dengan ideologi-ideologi yang terbangun dari pemikiran manusia.

Keunikan dari dinul Islam banyak mengalami rintangan. Kekhawatiran muncul dari musuh-musuh Islam karena Islam akan bangkit dan mengatur semua sisi kehidupan umat manusia sehingga tidak ada ruang untuk nafsu menguasai diri seseorang. Musuh-musuh Islam tidak pernah ridha dan terus berupaya untuk membendung kebangkitan Islam karena mereka tahu apabila Islam bangkit maka akan merusak tatanan dan konsep kehidupan yang mereka bangun berdasarkan pemikiran dan nafsu mereka akan duniawi.


Syiar Islam semakin terasa akhir-akhir ini. Gerakan keislaman memenuhi setiap ruang publik seperti di masjid, di kampus, di sekolah, di kantor, dll. Namun, kekhawatiran terhadap syiar islam ini pun muncul dan bahkan orang yang melaksanakan Islam sesuai tuntunan Allah dan Rasul Nya diberi cap “Radikal”.

Seorang muslim yang menerapkan syariat secara utuh dianggap tidak toleransi terhadap umat beragama yang lain. Seperti yang diungkapkan Sofyan Tsauri dalam Sindonews.com bahwasanya ancaman radikalisme adalah ancaman besar, ancaman yang sangat serius bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Maksudnya paham-paham yang tidak mengerti tentang toleransi, tidak mengerti tentang kemajemukan yang ada di Indonesia sehingga itu menjadi pemicu perpecahan.

Bagaimana bisa umat islam tidak mengerti toleransi dan menjadi pemicu perpecahan? Padahal Islam sangat menjunjung toleransi seperti yang difirmakan Allah Azza wa Jalla bahwa bagimu agamu dan bagiku agamaku. Dari firman Alloh tersebut pun sudah jrlas bahwa Islam sangat paham kemajemukan sehingga permasalahan ibadah dikembalikan kepada pribadi masing-masing. Islampun mengajarkan kesatuan dan persatuan umat. Islam mewajibkan bersatu dalam menerapkan hukum-hukum Alloh termasuk dalam urusan bernegara.

Pemikiran fragmatis dapat membawa opini publik seolah-olah radikalisme yang dimaksud adalah umat islam yang menerapkan Islam yang benar. Banyak kasus terorisme juga dikaitkan umat Islam karena KTP yang digunakan oleh pelaku teror tersebut beragama Islam sehingga secara tidak langsung umat islam itu merupakan pelaku teror. Berdasarkan hal tersebut, BNPT melakukan upaya untuk menumpas radikalisme dengan melaksanakan program deradikalisasi terorisme. Menurut Ust. Abu Rusydan dalam video kajian di youtube yang berjudul “Bahaya Deradikalisasi Terorisme” bahwasanya program deradikalisasi terorisme yang disasar adalah orang yang punya fikiran islam yang benar.

“Petrus Reinhard Golose dalam bukunya Deradikalisasi Terorisme menuliskan yang tidak diperbolehkan dalam pikiran seorang muslim itu tidak boleh ada dalam pikiran anda penegakkan syariat islamiyah, tidak boleh ada dalam pikiran seorang muslim kalimat hijrah, tidak boleh ada dalam pikiran seorang muslim ini al wala’ wal baro’. Keberpihakan yang benar kepada Alloh dan Rasul Nya dan orang-orang yang beriman dan permusuhan terhadap setan jin dan setan manusia. Kemudian yang tidak boleh ada dalam pikiran orang islam yaitu menyebut orang bukan muslim itu kafir, berikutnya yang tidak boleh ada dalam pikiran orang muslim adalah al jama’ah, yang tidak boleh ada dalam pikiran seorang muslim adalah kalimat al baiat. Dan yang tidak boleh ada dalam pikiran seorang muslim menurut buku ini adalah al jihad. Kemudian yang terakhir yang tidak boleh ada dalam pikiran seorang muslim adalah cinta syahid”, ujarnya.

Lalu apa yang tersisa dari islam bila semua hal tersebut diambil dari islam? Yang tersisa hanyalah covernya saja tetapi isinya ditinggalkan. Siapakah yang kejam? Umat islam tidak bisa merasakan keislaman yang sebenarnya sehingga umat Islam akan merasa phobia terhadap kata-kata syariat, hijrah, al jama’ah, dll. Islam akan dianggap sebagai agama ritual saja sampai menghilangnya kecintaan akhirat pada diri seorang muslim sehingga umat Islam meninggalkan dinul Islam sebagai sistem kehidupan.

Deradikalisasi terorisme sangat berbahaya bagi siapapun karena akan menghilangkan nilai-nilai keislaman dari jiwa seorang muslim. Oleh karena itu, upaya yang dilakukan untuk menangkalnya dengan cara menyadarkan umat dengan menanamkan syariat dan aqidah yang benar. Selain itu, memberikan penjelasan mengenai makna-makna yang benar tentang Islam bukan seperti yang dijelaskan oleh musuh-musuh Islam.

Proyek deradikalisasi akan menjadi sarana pembelajaran bagi umat Islam karena dengan begitu justru umat akan semakin mempertebal keyakinannya tentang din dan juga akan menyadarkan umat Islam betapa pentingnya isi dari dinul Islam. Mereka akan sadar betapa pentingnya menerapkan syariat yang akan mengatur kehidupan mereka secara total dan semakin mengenal ajaran Islam yang sesungguhnya.

Penulis : Mayhendra Putra Asmara

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.