Pemuda sebagai Pemangku Peradaban Islam

MPI Lampung.org -- Perlu diketahui bahwa Islam adalah agama yang cerdas. Agama yang mengajarkan ummatnya dalam segala aspek, aspek sekecil apapun itu. Mulai dari makan, tidur, masuk ke WC, dan lain sebagainya diatur sedemikian rupa oleh Allah Subhanallahu Wa ta’ala dan disampaikan Rosulullah kepada kita untuk ditiru dan dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sunnahnya.

Foto: Ilustrasi Pemuda

Islam dahulu pernah jaya dimasanya, dan kejayaan itu tidak serta merta diperoleh dengan cepat dan mudah, melainkan melalui proses yang panjang dengan melalui beberapa proses dan tahapan. Fase pertama dilakukan secara sembunyi-sembunyi pada saat Rosulullah menerima wahyu yang pertama dan saat itu kaum muslimin belum memiliki daya yang kuat. Pada fase ini Rosulullah menggeliatkan dakwah secara fardiyah kepada saudara, para sahabat dan teman-teman yang dirasa memiliki potensi untuk diajak masuk kedalam Islam. Pada fase inilah Rosulullah mendapat halangan dan rintangan yang terus-menerus berdatangan. Mulai dari hinaan, penindasan, cemoohan, anggapan aneh seperti orang gila, tukang sihir, penyair, dan lain sebagainya yang setiap waktu dirasakan.


Kemudian berpindah sejenak pada fase selanjutnya, pada saat Rosulullah berhijrah bersama para sahabat dari Mekkah menuju Madinah, dari sinilah Rosullah mulai menebarkan Dakwahnya secara terang-terangan. Terlebih lagi, kala itu kaum muslimin dikuatkan dengan masuk Islamnya seorang Hamzah dan Umar bin Khaththab yang pada kalangan Quraisy disegani posisi dan keberadaanya. Perlu digarisbawahi dalam catatan sejarah, bahwa kaum muslimin dimenangkan oleh Allah saat itu ditopang oleh para pemuda sebagai penggerak dan penegak Islam di kancah jazirah Arab. Seperti yang dikabarkan oleh Rosulullah tentang sepuluh shahabat yang dijamin masuk surga, mayoritas semuanya merupakan golongan pemuda. Sembilaan diantaranya seorang pemuda. Maka berbanggalah kalian sebagai seorang pemuda, Karena ditangan pemudalah islam dibangkitkan, karena ditangan pemudalah Islam dahulu berjaya, karena ditangan pemudalah islam nantinya akan dimenangkan oleh Allah. Semuanya merupakan sunnatullah yang disampaikan Rosulullah.


Sekarang ini yang menjadi pertanyaaannya untuk kita sebagai seorang pemuda, pemangku peradaban Islam, dimanakah posisi kita sebagai seorang pemuda? Dimanakah peran kita sebagai pemuda didalam Islam? Sebagai seorang pemuda sudahkah kita berkontribusi dalam penegakan diennul Islam? Tentunya sebagai seorang pemuda, pemangku peradaban Islam pertanyaan ini menohok keras dalam hati kita, menyelip lembut dalam sanubari kita. Menilik sebuah kisah masyhur dikalangan pencari ilmu, yang kisah heroiknya sangat terkenal, kisah yang penuh inspirasi dan motivasi.serta hikmah didalamnya. Seorang pemuda, pemangku peradaban Islam yang kala itu mampu memimpin pasukan islam memenangkan sebuah pertempuran melawan kaum kafir dan menebarkan syiar-syiar Islam secara luas.


Pemuda ini bernama Sultan Mehmed II (Muhammad II) atau yang lebih kita kenal sebagai Muhammad Al-Fatih, seorang pemuda, pemangku peradaban Islam dimasanya. Atau juga dikenal sebagai el-fatih yang memiliki arti “sang penakluk”. Perlu diketahui bahwa ia merupakan seorang pemuda, pemangku peradaban Islam sekaligus sebagai sultan Turki Utsmani yang kala itu mampu menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur, meneruskan perjuangan sultan sebelumnya yaitu ayahnya dan bernama Sultan Murad II. Perjuangan Beliau tidak mudah kawan, yang pasti melalui masa yang panjang dan manis pahitnya sebuah kegagalan. Bagaimana tidak? Kala itu beliau sebelumnya sudah menjabat sebagai seorang sultan, namun mengundurkan diri menjadi seorang sultan karena ketidakcakapan beliau memimpin saat itu dan umurnya yang masih terlalu muda. Kemudian kesultanannya dilimpahkan kembali pada ayahnya, Sultan Murad II sampai kemudian ayahnya meninggal. Namun dari situlah, beliau belajar bagaimana mengemban sebuah amanah kepemimpinan yang baik dan benar sesuai dengan kadar dalam Islam. Sehingga beliau sebagai seorang pemuda, pemangku peradaban Islam mampu menaklukkan kekuasaan besar Byzantium atau kekaisaran Romawi Timur pada saat beliau berumur 21 tahun. Hal ini persis seperti yang dikabarkan Rosulullah dalam sebuah sabdanya “Konstatinopel akan ditaklukkan oleh Islam. Pemimpinnya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan”.


Dilihat dari sudut pandang Islam, ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding, dan tawadhu’ sebagai kawan maupun lawan. Serta perlu kita tahu bahwa kejayaannya dalam menaklukkan konstatinopel yang merupakan tembok pertahanan terkuat Kekaisaran Romawi Timur menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum terhadap kepemimpinannya. Baik dari strategi, taktik peperangan, serta kaidah dalam memilih tentaranya. Oleh kerananya, kita sebagai seorang pemuda, pemangku peradaban Islam harus berperan aktif dalam iqomatuddin di jalan yang telah Allah tentukan, yaitu dijalan diennul Islam yang syumul dan kaffah ini.





Penulis : Amirul Syahid
Previous
Next Post »