Militansi Mahasiswa yang Kian Dikebiri


MPILampung - Bukan suatu hal yang tabu memang kala sebuah kekuasaan berada di tangan orang jahil, seluruh jalannya kekuasaan juga akan jahil. Hal ini akan terasa pada saat ia mulai kehabisan amunisi untuk mencitrakan diri sebagai sosok pembaharu. Padahal sejatinya hanyalah sosok pembuat haru. Haru yang hanya dirasakan oleh siapa pun yang berada di bawah kekuasaannya.

Santer tersiar belakangan, beberapa kampus telah mendapat sorotan dari penguasa jahil itu. Tak ubahnya seperti orde baru. Pikiran mulai dibatasi demi kekuasaan yang tak kenal kritik dan saran. Hanya orang yang lupa dari mana ia dicipta hingga kekuasaan membuat buta.

Dikutip dari berita Republika:
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir mengungkapkan, akan melakukan monitoring kepada para dosen dan mahasiswa menyusul maraknya temuan radikalisme di kampus. Salah satu pengawasan yang akan dilakukan yaitu dengan mendata nomor handphone (HP) dan akun media sosial milik dosen dan mahasiswa.
"Kami lakukan pendataan. Dosen harus mencatat nomor hp yang dimiliki. Mahasiswa medsosnya dicatat. Tujuannya agar mengetahui lalu lintas komunikasi mereka itu seperti apa dan dengan siapa," ungkap Nasir di hotel Fairmont Jakarta, dilansir Republika.

Sampai pada titik tersebut, mahasiswa akan disibukkan dengan tugas, tugas dan tugas. Keterlibatannya akan dikebiri hingga tanpa sisa sekalipun untuk menjadi mahasiswa militan. Militansi mahasiswa telah membuktikan bisa meruntuhkan kekuasaan yang diktator.

Hmmm....tampaknya penguasa jahil kali ini bisa mencium aroma tersebut. Maka dengan segala kekuatan yang dimiliki, langkah radikal pun diambil untuk membungkam opini mahasiswa.

Lantas, apakah sebagai mahasiswa muslim akan begitu saja menyerah?

Itu semua tergantung dari tingkat militansi dari tiap individu. Ada yang kemudian undur diri secara seketika. Ada yang balik kanan secara berlahan. Ada pula yang mencari-cari beragam alasan untuk melepaskan jubah besar militansi itu.

Militan jangan hanya dimaknai sempit. Menurut KBBI, militan bermakna lebih luas. Diartikan sebagai sebuah sikap yang menunjukkan semangat tinggi atau gairah yang menggebu. Bukankah sebagai seorang mahasiswa, militansi sebagai agen perubahan harus dipupuk subur.

Oleh karena itu, salah satu sikap militansi yang ditakuti oleh penguasa jahil dari para mahasiswa adalah hasratnya untuk membaharui sistem. Tidak lagi berbicara pada ranah kebijakan saja tapi sudah pada aspek radikal dari sebuah kekuasaan yakni sistem.

Kita bisa ketahui bersama, salah satu organisasi Islam yang banyak digandrungi oleh mahasiswa adalah HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Kenapa begitu banyak digandrungi, tentu salah satunya adalah dalam banyak letarasinya, HTI selalu menawarkan sebuah solusi yang dianggap baru. Walaupun sebenarnya itu adalah konsep pemerintahan yang telah lama diajarkan oleh Nabi. Namun di era ini memang menjadi hal yang tabu untuk mengupas hal tersebut.

Untuk mengebiri pikiran tentang pembaharuan konsep pemerintahan, akhirnya HTI dibubarkan dengan dalih radikal. Radikal menurut perspektif penguasa jahil adalah yang ingin merongrong kekuasaan mereka. Maklum, kekuasaan yang dikelola dengan sistem barat memang bukan untuk menyejahterakan kepentingan umum melainkan pihak yang berkuasa.

Terlepas dari tindakan pembubaran itu, substansi yang mendasar adalah salah satunya mengebiri kritik. Pihak-pihak yang kontra pada kebijakan akan dibungkam, hingga dikriminalisasi.

Ulama kritis dikriminalisasi, ulama letoi dipelihara

Jangan tutup mata pada perkara ini. Sebab, ini perkara yang begitu tampak. Sudah berapa banyak ulama yang kritik pada penguasa jahil itu berakhir di balik jeruji besi. Tapi mereka-mereka yang katanya ulama tapi sering membela penguasa, kini bertengger sebagai ulama-ulama peliharaan penguasa itu.

Betapa mirisnya, bukan lagi soal koalisi dan oposisi. Ini adalah ranah perang yang nyata. Lantas, ketika militansi itu makin pudar, siapa lagi yang akan menyerukan perubahan itu.

Jangan jadi mahasiswa impoten!

Istilah impoten, mungkin terlalu garang untuk menggambarkan betapa lesunya pikiran mahasiswa memenuhi tiap sudut mading kampus dan kolom-kolom di koran. Media menjadi satu senjata ampuh untuk membungkam itu semua. Kritik demi kritik tidak lagi membanjiri media mainstream. Bukan hal asing lagi bahwa media-media itu sudah menjadi media peliharaan penguasa jahil.

Maka, media sosial menjadi solusi jitu di zaman now untuk mewakili hal itu. Tapi, kini keberadaannya akan semakin dikebiri pula. Pertanyaannya, akankah kemudian Anda akan menjadi impoten?

Ambillah Hp Anda, kemudian ketikkan dalam status Anda, "Saya Mahasiswa Muslim, Akan Memperjuangkan Islam Hingga Tetes Darah Terakhir".

Temukan kepribadian Anda, kemampuan Anda, perangkat yang Anda miliki. Tentukan dari sekarang bahwa Anda akan memperjuangkan Islam dengan kemampuan itu semaksimal mungkin. Jangan jadi impoten, buktikan keberpihakan Anda. Buktikan kepada Robb yang menciptakan Anda bahwa Anda telah berbuat untuk kebangkitan Islam, bukan justru membantu meruntuhkan Islam.

by BungDestur

Posting Komentar

0 Komentar